sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Diduga terlibat penembakan Charlie Hebdo, 14 orang disidang

Presiden Emmanuel Macron menyatakan, Prancis akan selalu mengingat mereka yang tewas akibat penembakan tersebut.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 02 Sep 2020 18:31 WIB
Diduga terlibat penembakan Charlie Hebdo, 14 orang disidang

Empat belas orang yang diduga sebagai kaki tangan kelompok militan Islam yang menyerang kantor majalah satire di Prancis, Charlie Hebdo, menjalani persidangan pada Rabu (2/9).

Penembakan di kantor Charlie Hebdo terjadi pada 2015, peristiwa tersebut dinilai menandai dimulainya gelombang kekerasan militan bersenjata.

Pada 7 Januari 2015, Said dan Cherif Kouachi, yang menggunakan senjata otomatis, mengamuk di kantor Charlie Hebdo. Sebelumnya, majalah tersebut menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Mereka membunuh 12 orang dalam serangan yang diklaim oleh Al Qaeda.

Keesokan harinya, Amedy Coulibaly, seorang kenalan Cherif, menembak mati polisi wanita. Pada 9 Januari, dia membunuh empat pria Yahudi di sebuah supermarket.

Dalam sebuah video, Coulibaly mengatakan bertindak atas nama ISIS.

Baik Said, Cherif, maupun Coulibaly ditembak mati oleh polisi dalam kesempatan yang berbeda.

Di ruang sidang pada Rabu, petugas keamanan yang mengenakan rompi antipeluru berjaga-jaga sebelum para terdakwa dibawa masuk ke dalam ruangan.

Sponsored

Keempat belas tersangka kaki tangan pelaku penembakan pada 2015, tiga di antaranya akan diadili secara in absentia, menghadapi dakwaan termasuk pendanaan terorisme, keanggotaan dalam organisasi teroris, serta memasok senjata kepada para penyerang.

Para terdakwa yang tidak berada di ruang sidang termasuk Hayat Boumedienne, rekan Coulibaly pada saat penyerangan, serta kakak-beradik Mohamed dan Mehdi Belhoucine. Ketiganya diketahui melakukan perjalanan ke wilayah Suriah yang berada di bawah kendali ISIS beberapa hari sebelum serangan terjadi.

Lebih dari 250 orang telah terbunuh di Prancis dalam aksi terorisme sejak serangan pada 2015.

Charlie Hebdo pada Rabu menerbitkan ulang serangkaian karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW, termasuk salah satu dari dirinya dalam sorban berbentuk bom, yang memicu kemarahan di dunia muslim.

"Kami tidak akan pernah menyerah," jelas editor Charlie Hebdo Laurent Sourisseau terkait keputusannya untuk menerbitkan ulang karikatur tersebut.

Dalam kesempatan terpisah Presiden Emmanuel Macron menyatakan, Prancis akan selalu mengingat mereka yang tewas akibat penembakan tersebut.

"Satire bukanlah wacana kebencian," tegas Macron dalam konferensi pers di Beirut.
 

Sumber : Reuters

Berita Lainnya