sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dirayu China, Tuvalu pilih tetap setia pada Taiwan

Tuvalu adalah satu dari empat sekutu diplomatik Taiwan yang tersisa di kawasan Pasifik.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 21 Nov 2019 17:03 WIB
Dirayu China, Tuvalu pilih tetap setia pada Taiwan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Menteri Luar Negeri Tuvalu Simon Kofe pada Kamis (21/11) mengatakan pihaknya telah menolak tawaran dari sejumlah perusahaan China untuk membangun pulau-pulau buatan dalam upaya membantu negara itu mengatasi naiknya permukaan laut. Pendekatan tersebut dinilai dapat merusak pengaruh Taiwan di kawasan.

Sebaliknya, Kofe, secara eksplisit menyatakan dukungan bagi Taiwan. Dia mengatakan negaranya tengah bekerja untuk membentuk sebuah kelompok yang menyatukan empat sekutu Taiwan yang tersisa di Pasifik, yaitu Tuvalu, Kepulauan Marshall, Palau dan Nauru.

"Hubungan diplomatik Tuvalu dan Taiwan berada pada titik terkuat dari yang pernah ada," kata Kofe. "Kami percaya pada kekuatan pengelompokan bersama dan juga pada kolaborasi. Bersama dengan mitra kami, kami akan dapat melawan pengaruh dari China."

Relasi diplomatik Tuvalu dan Taiwan telah berjalan selama 40 tahun.

Dukungan ini memberikan sedikit kelegaan bagi Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, yang akan maju dalam Pilpres 2020. Masa pemerintahan Tsai diwarnai "pembelotan" tujuh sekutu diplomatiknya.

Sokongan Tuvalu ini muncul hanya dua bulan setelah dua negara di Pasifik lainnya, Kiribati dan Kepulauan Solomon, meninggalkan Taiwan dan merapat ke China.

Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing meningkatkan kampanye untuk menarik lebih banyak sekutu Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsinya yang membangkang.

Menurut Taiwan, Kiribati berhasil dibujuk oleh Beijing dengan janji pesawat terbang dan Solomon disodori dana pembangunan.

Sponsored

Kofe menuturkan bahwa sejumlah perusahaan China telah mendekati komunitas lokal untuk membantu mendukung rencana pemerintah bernilai US$400 juta untuk membangun pulau-pulau buatan.

"Kami katakan tidak. Kami mendengar banyak informasi tentang utang ... Bagaimana China akan membeli pulau-pulau kami dan mendirikan pangkalan militer. Itu memprihatinkan bagi kami," ujar Kofe.

Dia menambahkan, "Kami berharap negara-negara lain belajar untuk lebih berhati-hati dan menyadari dampak negatifnya ... Ini tidak baik bagi saudara-saudara kami di Pasifik."

Kofe menyampakan bahwa Perdana Menteri Tuvalu Kausea Natano akan melawat ke Taiwan pada April 2020.

Langkah China untuk memperluas pengaruhnya di Pasifik telah membuat AS dan sekutunya khawatir, termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru. Kelompok tersebut telah mendominasi perairan strategis negara-negara kecil di kawasan sejak Perang Dunia II. (Reuters dan Taiwan News)

Berita Lainnya