sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dua diplomat AS bersaksi di sidang pemakzulan Trump

Dua pejabat yang memberikan kesaksian adalah Plt. Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina William Taylor dan pejabat Kemlu AS George Kent.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 14 Nov 2019 10:49 WIB
Dua diplomat AS bersaksi di sidang pemakzulan Trump

Plt. Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina William Taylor memberikan kesaksian pada Rabu (13/11) dalam sidang yang bertujuan memakzulkan Presiden Donald Trump. Sidang tersebut untuk pertama kalinya disiarkan secara langsung melalui televisi.

Dia menghubungkan Trump dengan kampanye tekanan terhadap Ukraina untuk melakukan penyelidikan yang akan menguntungkannya secara politik.

Taylor merupakan salah satu dari dua diplomat karier yang memberikan kesaksian di hadapan Komite Intelijen DPR dalam rangkaian proses penyelidikan terhadap upaya pemakzulan Trump.

Baik Taylor maupun George Kent, pejabat Kementerian Luar Negeri AS, bersaksi tentang kekhawatiran mereka terkait tekanan Trump dan sekutu-sekutunya untuk memaksa Ukraina menyelidiki saingan politiknya, mantan Wakil Presiden AS Joe Biden.

Persidangan pada Rabu penuh perdebatan dan kesaksian yang diberikan oleh kedua saksi dinilai gagal memberikan Partai Demokrat amunisi yang cukup untuk mengajukan argumen mereka bahwa Trump telah melakukan kesalahan yang layak membuatnya kehilangan jabatannya.

Dubes Taylor mengungkapkan niat Trump untuk meminta Ukraina menyelidiki Biden dan menegaskan bahwa dana bantuan keamanan AS untuk Ukraina sebesar US$391 juta diancam akan ditangguhkan jika Kiev tidak bekerja sama.

Taylor mengatakan, seorang ajudannya mendengar panggilan telepon antara Trump dan Duta Besar AS untuk Uni Eropa Gordon Sondland, pada 26 Juli. Dalam percakapan telepon itu, sang presiden bertanya tentang penyelidikan terkait Biden dan Sondland mengatakan bahwa Ukraina bersedia untuk melakukannya.

Setelah panggilan telepon itu, ajudan Taylor bertanya kepada Sondland mengenai opini Trump tentang Ukraina.

Sponsored

"Dubes Sondland menanggapinya dengan mengatakan bahwa Trump lebih peduli tentang investigasi Biden," tutur dia.

Dalam konferensi pers dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Gedung Putih, yang digelar setelah sidang berakhir, Trump mengatakan dia tidak tahu apa-apa soal panggilan telepon dengan Sondland.

"Ini pertama kalinya saya mendengar kabar itu," kata Trump, yang telah membantah melakukan kesalahan apa pun.

David Holmes dilaporkan sebagai ajudan Taylor yang mendengar panggilan Sondland dan Trump secara langsung. Dia akan dipanggil untuk bersaksi di balik pintu tertutup dalam sidang penyelidikan pemakzulan selanjutnya pada Jumat (15/11).

Menanggapi pernyataan Dubes Taylor, anggota parlemen dari Partai Republik menyebut kesaksiannya hanya berdasarkan desas-desus dan mencatat bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak pernah mengatakan bahwa dia merasa ditekan oleh Trump.

Sidang yang bersejarah

Dengan kira-kira puluhan juta orang yang menonton dari siaran langsung televisi, Ketua Komite Intelijen DPR Adam Schiff membuka sidang di ruang yang dipenuhi wartawan, anggota parlemen dan anggota masyarakat sipil. Audiensi publik itu berlangsung selama lima setengah jam.

Tuduhan Schiff bahwa Trump menyalahgunakan kekuasaannya ditolak oleh Republikan senior yang menjadi anggota panel, Devin Nunes.

Taylor dan Kent menyatakan keprihatinan terkait bantuan keamanan AS yang ditahan dari Ukraina sebagai bentuk pemaksaan agar Kiev bekerja sama dengan Trump.

"Pernyataan yang diajukan dalam penyelidikan pemakzulan ini adalah apakah Trump berusaha mengeksploitasi kerentanan sekutu dan mengundang Ukraina untuk campur tangan dalam pilpres," kata Schiff.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, lanjutnya, akan memengaruhi masa depan kepresidenan Trump.

"Jika itu bukan perilaku yang membuat presiden dapat dimakzulkan, apa lagi?," tutur Schiff.

Persidangan pekan ini dinilai dapat membuka jalan bagi DPR, yang dipimpin oleh Demokrat, untuk menyetujui pasal-pasal pemakzulan yang merupakan tuduhan resmi terhadap Trump.

Jika terjadi, hal tersebut akan mengarah ke pengadilan di senat tentang apakah mereka akan menghukum Trump berdasarkan tuduhan-tuduhan itu dan memakzulkannya. Republikan mengontrol senat dan sejauh ini memperlihatkan bahwa mereka tidak mendukung upaya pemakzulan presiden.

Dalam konferensi persnya dengan Erdogan, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia terlalu sibuk untuk menonton jalannya persidangan.

"Saya dengar, persidangan itu merupakan lelucon. Itu palsu dan seharusnya tidak diizinkan," kata dia.

Nunes menuduh Demokrat melakukan kampanye kotor yang diatur dengan cermat dan menggunakan proses sepihak.

Fokus dari penyelidikan pemakzulan tersebut merupakan panggilan telepon pada 25 Juli di mana Trump meminta Zelensky untuk melakukan penyelidikan terkait dugaan korupsi yang melibatkan Biden dan putranya, Hunter.

Hunter sempat duduk sebagai anggota dewan untuk perusahaan energi Ukraina bernama Burisma.

Saat bersaksi, Kent mengatakan bahwa seharusnya AS tidak meminta negara-negara lain untuk terlibat dalam investigasi selektif atau penuntutan politik terhadap lawan-lawan dari elite yang berkuasa.

Sebelum dimulainya sidang pemakzulan pada Rabu, Ketua DPR Nancy Pelosi meminta Demokrat untuk tetap fokus pada agenda legislatif mereka.

"Ini adalah peristiwa yang sangat serius di negara kita ... Dia harus bertanggung jawab, dia tidak berada di atas hukum, tidak ada presiden yang berada di atas hukum," tegas dia dalam pertemuan tertutup. "Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan pesan itu tersampaikan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk seterusnya." (Reuters dan Politico)