sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dubes China: Laporan penahanan Uighur adalah berita palsu

Dubes China untuk Australia Cheng Jingye menegaskan bahwa isu Uighur merupakan urusan domestik negaranya.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 19 Des 2019 18:56 WIB
Dubes China: Laporan penahanan Uighur adalah berita palsu
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 132816
Dirawat 39290
Meninggal 5968
Sembuh 87558

Duta Besar China untuk Australia Cheng Jingye pada Rabu (18/12) mengatakan, laporan yang menyebutkan bahwa satu juta warga Uighur ditahan di Provinsi Xinjiang merupakan berita palsu.

Para pakar PBB dan kelompok pemantau HAM menduga lebih dari satu juta warga Uighur dan anggota kelompok minoritas lainnya telah ditahan di kamp-kamp interniran.

Dalam sebuah konferensi pers di Kedutaan Besar China di Canberra, Dubes Cheng mengklaim bahwa penahanan massal di Provinsi Xinjiang tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia dan agama.

Ketika ditanya tentang kritik Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne terhadap penahanan massal umat muslim Uighur, Cheng menekankan bahwa persoalan terkait Xinjiang adalah urusan dalam negeri China.

Dubes Cheng kemudian memutar video propaganda sembari menjelaskan bahwa tindakan pemerintah China di Xinjiang merupakan respons terhadap kekerasan yang telah mengguncang provinsi itu selama 20 tahun terakhir.

"Penyerangan dan kekerasan di Xinjiang ... Menewaskan banyak orang tidak bersalah dan membawa kerusakan besar pada properti," kata dia. "Pemerintah setempat telah mengambil langkah-langkah keras untuk menindak terorisme dan kekerasan."

Pada saat yang sama, lanjutnya, pemerintah Xinjiang mulai bertindak untuk mengatasi akar masalah dari serangan-serangan tersebut.

Cheng menyebut, tempat yang disebut kamp-kamp penahanan sebenarnya merupakan pusat-pusat pendidikan yang ditujukan untuk deradikalisasi dan mengajarkan keterampilan kejuruan, termasuk pengetahuan soal hukum dan bahasa China.

Sponsored

"Jumlah peserta yang berada di pusat-pusat pendidikan itu dinamis. Beberapa dari mereka masuk, kemudian keluar," jelas dia.

Cheng menjelaskan, sejak upaya pendidikan ulang, penyebaran ekstremisme telah secara efektif teratasi. Hal itu, lanjutnya, terbukti karena tidak ada kasus kekerasan atau terorisme dalam tiga tahun terakhir.

"Jadi apa yang dilakukan di Xinjiang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan negara-negara lain, termasuk Barat, untuk memerangi terorisme," ungkap Cheng.

Dubes China menolak menjawab pertanyaan mengenai mengapa Beijing tidak mengizinkan pengamat internasional berkunjung untuk melihat kamp-kamp tersebut.

Foto-foto satelit telah mengungkapkan bahwa puluhan kuburan warga Uighur di wilayah barat laut China telah dihancurkan dalam dua tahun terakhir. Para aktivis menilai tindakan itu sebagai upaya memberantas identitas kelompok etnis di Xinjiang.

Pada Desember, aktivis terkemuka Uighur, Rushan Abbas, mengunjungi Australia. Dia mendesak anggota parlemen untuk lebih tegas menentang penahanan massal warga Uighur. Dia menyebut tindakan China di Xinjiang sebagai, "Kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Dalam konferensi pers pada Rabu, Cheng juga membela penahanan China terhadap penulis Australia, Yang Hengjun. Dia menekankan, Tiongkok menjamin kesehatan dan hak-hak Yang.

Dubes Cheng membenarkan bahwa Yang, yang ditangkap di Guangzhou pada Januari, ditahan atas dugaan spionase. Dia menambahkan, hingga kini kasusnya masih dalam proses penyelidikan.

Guardian Australia melaporkan, setiap bulannya, Yang hanya diberikan waktu 30 menit untuk menerima kunjungan konsuler. Selain itu, dia tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan pengacaranya setelah 11 bulan ditahan. (The Guardian)

Berita Lainnya