sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Greta Thunberg desak pemimpin dunia dengarkan aktivis muda

Menurut Thunberg, banyak orang yang lebih menyadari masalah iklim berkat upaya para aktivis muda.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 22 Jan 2020 09:08 WIB
Greta Thunberg desak pemimpin dunia dengarkan aktivis muda
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Selasa (21/1), aktivis lingkungan Greta Thunberg (17) meminta para pemimpin dunia untuk mendengarkan aspirasi kaum muda.

"Saya bukan orang yang berhak mengeluh karena tidak didengar ... Tetapi ilmu pengetahuan dan suara anak-anak muda perlu menjadi pusat pembicaraan. Ini tentang kita dan generasi masa depan," tutur Thunberg dalam sesi panel bertajuk 'Forging a Sustainable Path Towards a Common Future'.

Dia mengatakan, banyak orang yang lebih menyadari masalah iklim berkat upaya para aktivis muda.

"Iklim dan lingkungan menjadi topik hangat sekarang. Namun, dari sudut pandang lain hampir tidak ada yang dilakukan," sambung dia.

Dia meminta para pemimpin politik dan media untuk mendengarkan fakta ilmu pengetahuan seraya memperingatkan bahwa waktunya sudah hampir habis untuk mengatasi pemanasan global.

Thunberg menuturkan, peningkatan suhu global tidak dapat dipertahankan di bawah 1,5 derajat Celcius jika dunia tidak membatasi emisi CO2 seperti saat ini.

"Dengan tingkat emisi seperti hari ini ... hanya tersisa waktu kurang dari delapan tahun. Ini bukan opini siapa pun, ini fakta ilmu pengetahuan," kata gadis asal Swedia itu, mengutip laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2018.

Laporan IPCC menyebut bahwa dunia memiliki batas "anggaran" 420 gigaton karbon dioksida dengan peluang 67% untuk mempertahankan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius. Thunberg mengatakan, batas itu kini sudah menyentuh 340 gigaton.

Sponsored

"Banyak yang mengira bahwa generasi mendatang dapat secara ajaib menyedot ratusan miliar ton CO2 dari atmosfer," ujar Thunberg.

Thunberg menekankan pentingnya negara-negara kaya untuk menurunkan emisi CO2 mereka dengan cepat dan kemudian membantu negara-negara miskin untuk melakukan perubahan yang diperlukan.

Selain Thunberg, WEF turut dihadiri oleh sejumlah "pahlawan iklim" lainnya seperti ilmuwan remaja asal Irlandia, Fionn Ferreira (18), aktivis iklim asal Afrika Selatan, Ayakha Melithafa (17), serta Autumn Peltie (15) asal Kanada yang telah mengadvokasi pentingnya air bersih sejak dia berusia delapan tahun. (Reuters dan The Guardian)

Berita Lainnya