sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hari-hari terakhir Gorbachev di singgasana Soviet

Kudeta yang gagal pada 1991 mempertautkan nasib Gorbachev, Yeltsin, dan Vladimir Putin.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Rabu, 07 Sep 2022 07:05 WIB
Hari-hari terakhir Gorbachev di singgasana Soviet

Penasihat keamanan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush, Brent Scowcroft sedang rebahan di kamar hotelnya di Kennebunkport, Maine, saat CNN menayangkan sebuah kabar mengagetkan dari Moskow, Rusia. Tanpa detail terperinci, pembawa acara CNN mengumumkan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet Mikhael Gorbachev memutuskan mundur karena alasan kesehatan.  

Itu petang tanggal 19 Agustus 1991. 

Mantan perwira angkatan udara AS itu langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Beberapa pekan sebelumnya, ia dan Bush bertemu Gorbachev saat berkunjung ke Rusia. Di mata Scowcroft, pria yang juga menjabat sebagai Presiden Uni Soviet itu terlihat sangat bugar.  
 
Brent Scowcroft mula-mula menghubungi deputinya, Robert Gates. Ia meminta Gates mengecek kebenaran informasi itu ke CIA. Gates melaporkan CIA belum punya informasi lugas. Instansi-intansi pemerintah lainnya juga serupa.    

Scowcroft akhirnya menghubungi Bush. Meski belum mendapat informasi berkategori "A1", ia mengungkap kemungkinan terjadi kudeta di terhadap Gorbachev. 

"Ya, Tuhan," ujar Bush usai mendengar laporan tersebut sebagaimana dinukil dari A World Transformed karya Scowcroft dan Bush yang diterbitkan kali pertama pada 1999. 

Scowcroft dan Bush menghabiskan sisa waktu dalam sambungan telepon itu untuk mendiskusikan sikap AS. Keduanya sepakat pemerintah AS bakal mengutuk apa yang terjadi di Moskow. 

Tak lama setelah sambungan telepon terputus, Bush mengambil sebuah tape recorder. Ia kemudian merekam sebuah pesan virtual. "Mikhael, saya harap kamu baik-baik saja. Saya harap mereka tak memperlakukanmu dengan buruk," kata Bush. 

Sehari sebelumnya, Gorbachev, ketika itu tepat berusia 60 tahun, tengah berada di vila barunya di kawasan Foros, Krimea, Ukraina. Almanak menunjukkan tanggal 18 Agustus 1991. Jam dinding tepat pukul 16.45. 

Sponsored

Gorbachev sedang membaca koran saat kepala pasukan pengawalnya, Vladimir Medvedev, masuk ke ruangan. Medvedev mengabarkan ada rombongan tamu dari Moskow yang datang ke vila itu dan meminta audiensi. 

Termasuk di dalam rombongan itu, kepala staf presiden Valerii Boldin, dua sekretaris dari Komite Sentral Partai Komunis, dan komandan pasukan darat Uni Soviet, Jenderal Valentin Varennikov. Terkecuali Varennikov, para tamu tak diundang itu merupakan orang-orang dekat Gorbachev. 

Merasa ada yang aneh, Gorbachev meminta para tamunya menunggu. Ia kemudian berupaya menghubungi kepala KGB Vladimir Kriuchkov. Ia mencoba lima telepon yang ada di vila itu. Semuanya mati. Saat itu, Gorbachev sadar kudeta tengah berlangsung dan orang-orang kepercayaannya ikut terlibat. 

Pertemuan berlangsung di ruang kerja Gorbachev. Kepada sang pemimpin, Varennikov cs menawarkan dua opsi. Pertama, mendeklarasikan keadaan darurat. Kedua, mentransfer kekuasaan kepada wakilnya Gennadii Yanaev dan bertetirah di Krimea karena alasan kesehatan. 

Gorbachev menolak tunduk. "Jika kalian benar-benar khawatir terhadap situasi negeri ini, kita seharusnya bertemu di Mahkamah Tinggi Uni Soviet dan parlemen. Mari bahas dan putuskan. Tetapi, sesuai konstitusi dan hukum. Saya tidak bisa menerima selain itu," ujar Gorbachev seperti dikutip dari memoirnya. 

Paham para tamunya tak berencana menghabisi dia, Gorbachev kian garang. Ia menyebut komite yang diwakili Varennikov dan rekan-rekannya ilegal karena tak dibentuk partai. "Misi yang kalian jalankan itu bunuh diri," kata Gorby, sapaan akrab Gorbachev.

Perdebatan berlangsung alot tanpa titik temu. Setelah berjam-jam terlibat adu mulut dengan bos mereka, delegasi dari Moskow pulang dengan tangan hampa. Satu-satunya kesuksesan mereka ialah "memenjarakan" Gorbachev di vilanya di Krimea. 

Setiba di Moskow, Varennikov cs langsung menuju kantor Perdana Menteri Valentin Pavlov di Kremlin. Di sana para dalang kudeta lainnya telah berkumpul, di antaranya bos KGB Kriuchkov, Menteri Dalam Negeri Boris Pugo, Wakil Presiden Yanaev, dan Menteri Pertahanan Dmitrii Yazov. 

Kebingungan melanda para dalang kudeta. Di tengah perbincangan, kepala staf presiden Valerii Boldin menyarankan agar kudeta jalan terus. "Saya kenal Gorbachev. Dia tak akan memaafkan perlakuan seperti itu. Tidak ada jalan untuk kembali," kata dia. 

Dalam jumpa pers keesokan harinya, mereka mengumumkan Gorbachev sedang sakit keras dan tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin Uni Soviet. Kursi pemimpin Uni Soviet untuk sementara waktu diduduki Yanaev. 

Belakangan, keadaan darurat diumumkan. Tanpa adanya bencana, kerusuhan, atau unjuk rasa besar-besaran, satu-satunya alasan yang "berhasil" ditemukan para dalang kudeta untuk memberlakukan keadaan darurat ialah urgensi untuk menyelamatkan hasil panen. 

Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush dan Presiden Soviet Mikhail Gorbachev menggelar konferensi pers bersama di Helsinki Summit, Finlandia pada September, 1990. /Foto Wikimedia Commons

Manuver Boris Yeltsin 

Kudeta digelar hanya selang sehari sebelum rencana penandatanganan traktat baru pengganti traktat pendirian Uni Soviet pada 1922. Traktat itu diusulkan Gorbachev pada Kongres Partai Komunis, Juli 1990. Terkecuali Ukraina, traktat itu telah disepakati 9 republik di bawah Uni Soviet. 

Penyusunan traktat tersebut merupakan bagian dari kebijakan restrukturisasi (perestroika) yang digagas Gorbachev. Dengan memberikan sebagian kewenangan Uni Soviet kepada republik, Gorbachev kala itu berharap bisa mencegah disintegrasi. 

Dalam The Last Empire: The Final Days of Soviet Union (2014), Serhii Plokhy menulis kudeta dilancarkan tak semata karena keresahan atas gagasan perestroika. Kudeta utamanya dipicu pembicaraan rahasia antara Gorbachev dan Presiden Rusia Boris Yeltsin, dan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev pada 29 Juli 1991. 

Ketiganya bertemu di sebuah vila di kawasan Novo-Ogarevo, sehari sebelum kunjungan Bush ke Moskow. Dalam perbincangan yang berlangsung hingga tengah malam itu, Gorbachev, Yeltsin, dan Nazarbayev mendiskusikan perubahan personel pejabat Uni Soviet seiring penandatanganan traktat baru. 

Disepakati, Nazarbayev bakal menggantikan Pavlov sebagai Perdana Menteri. Kriuchkov dan Pugo dicopot dari jabatannya. Yeltsin juga meminta agar Yazov diganti meskipun tahu Yazov merupakan salah satu loyalis Gorbachev. 

Tanpa disadari ketiganya, pembicaraan itu disadap agen KGB atas perintah Kriuchkov. Ketika Gorbachev dan Yeltsin mengonfirmasi kesiapan mereka menandatangani traktat dalam sebuah perbincangan via telepon pada 14 Agustus, Kriuchkov paham ia harus segera bertindak. "Kriuchkov tak bisa menunggu lagi," jelas Plokhy. 

Usai mendeklarasikan keadaan darurat, Kriuchkov memerintahkan aksi pembersihan. Dalam daftar yang diedarkan kepada anak buahnya, setidaknya ada 70 orang--termasuk para loyalis Gorbachev dan kaum aktivis--yang wajib ditangkap. Nama Boris Yeltsin tak ada di daftar itu.  

Kriuchkov berpikir Yeltsin yang dikenal tak pernah akur dengan Gorbachev bakal setuju sang bos dilengserkan. "Jika Yeltsin bekerja sama, dia tak akan disentuh. Jika tidak, dia bisa ditangkap karena melanggar hukum keadaan darurat," tulis Plokhy. 

Yeltsin kali pertama mendengar kabar mengenai pergantian penguasa Uni Soviet dari radio saat berada di rumah peristirahatannya di Arkhangelskoe-2, tak jauh dari Moskow. Pagi itu, ia langsung mengumpulkan koleganya. Mereka sepakat kabar mengenai kesehatan Gorbachev yang memburuk merupakan rekayasa. 

Bersama Perdana Menteri Rusia Ivan Silaev dan Ketua Parlemen Ruslan Khasbulatov, Yeltsin lantas menyusun dan menandatangani petisi yang isinya menyerukan aksi unjuk rasa rakyat menolak kudeta. Mereka menuntut Gorbachev diperkenankan tampil di hadapan publik dan parlemen Soviet menggelar pertemuan darurat. 

Poin-poin utama petisi itu didiktekan via telepon kepada Wakil Presiden Rusia yang ketika itu berada di Moskow. Dokumen tuntutan juga disebar ke pejabat-pejabat Rusia lainnya hingga akhirnya sampai ke tangan Deputi Wali Kota Moskow Yurii Luzhkov. 

"Dia (Luzhkov) loncat ke mobil dan tancap gas ke ibu kota dengan salinan tuntutan di tangan. Dia diperintahkan Yeltsin untuk memobilisasi publik Moskow untuk melawan kudeta," tulis Plokhy. 

Bos badan intelijen Uni Soviet (KGB) Kriuchkov (tengah) berbicara kepada para jurnalis di sela Kongres Partai Komunis pada 1991. /Foto Wikimedia Commons

Saat itu, Moskow telah dikepung pasukan Uni Soviet yang didatangkan para dalang kudeta dari berbagai barak militer. Tank dan kendaraan taktis berjejer di Istana Presiden dan gedung parlemen. Agen-agen KGB  disebar untuk memata-matai gerak-gerik para pejabat Rusia. 

Dalam situasi seperti itu, Yeltsin memutuskan keluar kandang. Menggunakan limousin kepresidenan, ia berangkat ke RSFSR, Gedung Putih-nya Rusia. Ia lantas bergeser ke gedung parlemen. Di atas salah satu tank di depan gedung itu, Yeltsin membacakan tuntutannya secara langsung di depan warga Rusia. 

"Itu bukan propaganda atau gimmick. Setelah langsung bertemu orang-orang, saya merasakan energi baru dan rasa lega yang luar biasa," kenang Yeltsin dalam Boris Yeltsin, The Struggle for Russia yang terbit pada 1994. 

Setelah pertunjukan singkat itu, Yeltsin kembali ke Gedung Putih. Di gedung itu, Yeltsin menghabiskan sepanjang hari untuk merayu pasukan yang dibawa para dalang kudeta agar pindah kubu. Selagi Yeltsin bekerja, satu per satu warga Moskow tiba di Gedung Putih. 

Jelang malam, setidaknya ada lebih dari seratus ribu orang hadir untuk menggelar aksi unjuk rasa sekaligus melindungi Yeltsin dari ancaman militer. Di seberang lautan, Bush berulangkali menggelar konferensi pers mengutuk kudeta dan menyatakan dukungan terhadap Yeltsin. 

Pada hari kedua kudeta, rumor mengenai serangan ke Gedung Putih berseliweran. Ajudan Yeltsin yang punya rekan di KGB membenarkan rumor itu. Pasukan pertahanan pun disiagakan. Namun, hingga hari berakhir, tak terdengar letusan senjata.

Upaya menyerbu Gedung Putih baru terlaksana pada hari ketiga. Tepat tengah malam, pasukan Yeltsin menyergap rombongan kendaraan taktis yang mencoba merangsek ke Gedung Putih via terowongan di bawah Kalinin Avenue. 

Mulanya, mereka membakar kain untuk menciptakan tembok asap. Setelah itu, milisi Yeltsin lantas melempari kendaraan-kendaraan tersebut menggunakan molotov. Prajurit yang panik lantas membalas dengan tembakan membabi-buta. Dua orang warga sipil tewas karena pecahan peluru nyasar. Satu lainnya tewas karena dilindas mobil baja. 

Kabar mengenai tewasnya warga sipil sampai ke telinga Menhan Yasov. Setelah mendengar laporan dari bawahannya, Yazov merilis instruksi yang tak terduga kepada deputinya. "Perintahkan pasukan untuk berhenti menyerang," kata Yasov. 

Ia tak mau jadi kambing. Sehari sebelumnya, Yanaev, yang kini jadi bos baru Yasov, mengungkap dokumen pers yang ia siapkan untuk membantah rumor mengenai serangan ke Gedung Putih. Yasov mengganggap Yanaev sedang berupaya cuci tangan.

Langkah Yasov menarik pasukan diikuti para pemimpin pasukan di bawah Kementerian Dalam Negeri. Belakangan, unit-unit pasukan KGB pun menolak menyerbu Gedung Putih. Sejumlah perwira KGB, termasuk di antaranya Vladimir Putin yang kini jadi Presiden Rusia, bahkan mengirimkan surat penguduran diri kepada Kriuchkov.

Menghadapi pembangkangan dari berbagai front, Kriuchkov selaku dalang utama kudeta tak punya pilihan selain menghentikan operasi penyerbuan ke Gedung Putih. Sebagai gantinya, Kriuchkov memerintahkan seluruh sambungan telepon ke Gedung Putih diputus. Pengepungan jangka panjang direncanakan. 

Namun, operasi itu pun mentah. Pada hari keempat, sekitar pukul 08.00 pagi, Yasov mengumpulkan komandan-komandan militernya di Gedung Kementerian Pertahanan. Ia lantas memerintahkan penarikan semua pasukan dari Moskow. 

Mendengar kabar itu, Kriuchkov dan rekan konspirator lainnya "mengerubuti" Yasov. Mereka menyebut Yasov pengecut dan mendesak sang menteri mengubah keputusannya. Namun, Yasov tak bergeming. 

"Menembaki orang-orang bukan solusi. Jika pasukan tetap bertahan di Moskow, pasti akan ada bentrok baru. Jika satu tank terbakar pun, dengan empat puluh selongsong di dalamnya, itu bakal jadi bencana besar," kata Yasov kepada mereka.

Presiden Rusia (tengah) memegang bendera merayakan kegagalan kudeta terhadap Presiden Uni Soviet Mikhael Gorbachev pada 1991. /Foto Wikimedia Commons

Lengser setelah kudeta 

Sadar upaya kudeta telah gagal total, Kriuchkov putar haluan. Bersama para koleganya, ia memutuskan meninggalkan Moskow dan membesuk Gorbachev di Krimea. Mereka menyimpan asa mantan bosnya itu bersedia berkompromi. 

Sambutan Gorbachev dingin. Pengawal bersenjatakan Kalashnikov disiagakan mengadang rombongan Kriuchkov saat tiba di pintu masuk vila. Gorbachev mengurung diri di ruang kerjanya dan menolak bertemu sebelum jalur komunikasi dari vilanya di Krimea ke Moskow kembali tersambung. Kriuchkov cs mengabulkan tuntutan itu. 

Setelah jalur komunikasi dibuka, Gorbachev langsung menghubungi kepala staf umum, Jenderal Mikahil Moiseev. Ia memerintahkan Moiseev mengawal rombongan delegasi Federasi Rusia yang bakal mendarat di Krimea petang itu. Ada kabar delegasi Rusia yang dipimpin Wapres Rutskoi bakal ditangkap agen-agen Kriuchkov. 

Delegasi Rusia tiba di vila Gorbachev sekitar pukul 8 malam. Tak seperti rombongan Kriuchkov, Gorbachev langsung menerima para utusan Yeltsin itu. "Itu adalah reuni yang membahagiakan," kenang Anatolii Cherniaev, salah satu ajudan Gorbachev.

Malam itu, Rustkoi menerbangkan Gorbachev dan keluarganya kembali ke Moskow menggunakan pesawat kepresidenan Rusia. Kriuchkov diajak ikut naik pesawat. Namun, tak seperti penumpang lainnya, bos KGB itu digeledah saat naik pesawat. Di pesawat, tak ada yang mau mengobrol dengan Kriuchkov. 

Kriuchkov tersadar ia hanya dijadikan tameng. Ia diajak pulang bareng lantaran Gorbachev dan Rustkoi khawatir pesawat bakal ditembak jatuh oleh orang-orang suruhan Kriuchkov. Saat mendarat, polisi Rusia telah menantinya. 

Meski selamat dari kudeta, sinar Gorbachev meredup. Mimpinya untuk mempertahankan Uni Soviet tak terwujud. Dimulai dari Ukraina, satu per satu republik pecahan Soviet memerdekakan diri. Yeltsin yang selama kudeta merasakan jabatannya sebagai presiden hanya macan kertas juga turut memilih melepaskan Rusia dari Uni Soviet. 

Di Moskow, Gorbachev juga terlibat kontestasi politik yang sengit dengan Yeltsin. Beragam kebijakan yang ia keluarkan, termasuk di antaranya menunjuk Moiseev sebagai bos KGB yang baru, dimentahkan oleh Yeltsin. 

"Mikhail Sergeevich (Gorbachev), apa yang kamu lakukan. Moiseev adalah salah seorang yang ikut mengarsiteki kudeta," tanya Yeltsin via sambungan telepon. Keesokan harinya, Yeltsin berkunjung ke kantor Gorbachev dan memaksanya membatalkan penunjukan Moiseev. 

Puncaknya, Yeltsin memaksa Gorbachev sepakat menghentikan aktivitas di kantor pusat Partai Komunis Uni Soviet. Ia berdalih kader-kader partai terlibat dalam kudeta dan ada upaya menghilangkan barang bukti. Setelah penutupan kantor, aktivitas partai juga dibekukan oleh Yeltsin.

Sekitar empat bulan setelah kudeta yang gagal itu, Gorbachev akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Sekjen Partai Komunis. Uni Soviet pun resmi bubar. Aset-aset milik Uni Soviet kemudian jatuh ke tangan Rusia. 

Pada 1996, Gorbachev sempat kembali mencoba peruntungan di dunia politik. Ia maju menjadi calon presiden Rusia. Namun, ia gagal total. Perolehan suaranya kurang dari 1%. Ketika itu, Yeltsin kembali memenangi pemilu.

Setelah lelah berpolitik, Gorbachev menghabiskan waktu untuk mengelola yayasan-yayasan yang ia dirikan. Sesekali, ia muncul ke publik untuk memuji atau mengkritik kebijakan Putin di Rusia. Dalam satu kesempatan, Gorbachev blak-blakan menyebut demokrasi yang dibangun Putin di Rusia palsu.

Awal Agustus lalu, tepat 91 tahun, Gorbachev tutup usia. Putin tak menyiapkan pemakaman kenegaraan untuk mantan penguasa Kremlin itu. Bagi Putin, Gorbachev adalah biang kerok bencana geopolitik terbesar pada abad ke-20: runtuhnya imperium Uni Soviet. 

Berita Lainnya
×
tekid