close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi perempuan pelaku bom bunuh diri. Alinea.id/Oky Diaz
icon caption
Ilustrasi perempuan pelaku bom bunuh diri. Alinea.id/Oky Diaz
Dunia
Rabu, 14 April 2021 13:53

Horor bomber perempuan: Dari pembunuhan Rajiv Ghandi hingga aksi Black Widows

Sebelum ISIS, bomber perempuan digunakan kelompok-kelompok separatis seperti Macan Tamil, Partai Pekerja Kurdistan, dan milisi Chechnya.
swipe

Berbalut pakaian tradisional salwar kameez berwarna oranye, dengan perut membusung bak orang hamil, Dhanu menyelinap masuk ke area kampanye calon anggota kongres Rajiv Gandhi di Sriperumbudur, sebuah desa di Madras (sejak 1996 bernama Chennai), ibu kota Tamil Nadu, India.

Sambil memegang karangan bunga dari bahan kayu cendana, Dhanu kemudian berdiri di antara pendukung dan loyalis eks perdana menteri India itu. Di depan dara berusia 17 tahun berkacamata tebal itu, sebuah karpet merah telah terbentang untuk menyambut Rajiv.

Syahdan, rombongan kendaraan yang membawa Rajiv tiba di area kampanye. Turun dari mobil, Rajiv melangkah ke arah podium sembari menyapa kerumunan para simpatisan dan pendukung. Di sepanjang jalan, putra Indira Gandhi itu berulang kali dikalungi karangan bunga.

Berdesak dalam kerumunan, Dhanu pun mencoba mendekati Rajiv. Seorang polisi perempuan mencoba menghalaunya. Rajiv melerai. "Tenang, sayang," ujar Rajiv kepada sang polisi sebagaimana dilaporkan Outlook India dalam "Lady with The Poison Flowers". 

Rajiv lantas bertukar salam dengan Dhanu. Saat berlutut menyentuh kaki Rajiv, Dhanu mengaktifkan bom sabuk yang melilit di pinggang dan perutnya. Tepat pukul 10 malam waktu setempat pada 21 Mei 1991, bom itu meledak. Rajiv, Dhanu, dan 16 orang lainnya tewas seketika. 

Dhanu adalah nama panggilan Thenmozhi Rajaratnam alias Gayatri. Ia anggota Black Tiger, pasukan bom bunuh diri Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE) atau kelompok pemberontak Macan Tamil yang berbasis di Sri Langka. Dari hasil investigasi, aksi Dhanu merupakan pembalasan atas keterlibatan India dalam perang saudara di Sri Langka.

Thenmozhi Rajaratnam alias Gayatri alias Dhanu, anggota Black Tiger, sayap organisasi kelompok pemberontak Macan Tamil di Sri Langka. /Foto wikimediacommons

Bom bunuh diri Dhanu merupakan salah satu aksi teror menyasar tokoh politik yang sukses dijalankan perempuan. Meski lagi-lagi mengagetkan, aksi itu bukan lagi fenomena baru. Dalam "Mother. Daughter. Sister. Bomber." yang dipublikasi di Sage Journals, Mia Bloom mengatakan, aksi bom bunuh diri perempuan sudah dijalankan sejak 1980-an di Lebanon. 

Sana'a Mehaidli, anggota Syrian Social Nationalist Party (SSNP), jadi pengantin yang pertama dalam catatan sejarah. Pada 9 April 1985, ia meledakkan diri bersama dengan sebuah mobil Peugeot yang berisi bahan peledak saat konvoi militer Israel melintas di sebuah jalan di Jezzine, Lebanon. Aksi teror itu menewaskan dua prajurit Israel dan melukai belasan warga. 

"Dari 12 aksi bom bunuh diri yang dijalankan SSNP, perempuan mengambil bagian dalam 5 serangan. Setelah dari Lebanon, bomber perempuan kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Sri Langka, Turki, Chechnya (Chechen) dan Israel," tulis Bloom. 

Pada mulanya, kata Bloom, kebanyakan pengguna bomber perempuan adalah kelompok-kelompok separatis seperti Macan Tamil di Sri Langka dan Partai Pekerja Kurdistan (PPK) di Turki. Namun, kelompok teroris fundamentalis juga rutin menggunakan taktik tersebut pada dekade 2000-an. 

"Di seluruh dunia, setidaknya ada 17 kelompok yang menggunakan taktik bom bunuh diri dan sebanyak 15% pelaku dari serangan-serangan bom bunuh diri tersebut adalah perempuan," jelas profesor di Georgia University itu. 

Selain Macan Tamil, kelompok separatis Chechnya jadi salah satu kelompok yang paling sering menggunakan taktik itu. Pada awal abad 20, mereka bahkan membentuk unit bomber perempuan yang oleh pemerintah Rusia dan media internasional dinamai Black Widows, mengacu pada laba-laba beracun yang gigitannya mematikan bagi manusia. 

Meskipun dipengaruhi paham Wahabi, menurut Anne Speckhart dan Khapta Akhmedova dalam "Black Widows: The Chechen Female Suicide Terrorist", aksi bom bunuh diri yang dilakukan Black Widows cenderung dilatarbelakangi dendam. Dalam kajiannya, Speckhart dan Akhmedova menemukan sebagian besar pelaku punya trauma akibat kekejaman militer Rusia dalam perang di Chechnya. 
 
"Mereka tidak tampak dipaksa, ditipu, atau dibujuk untuk menjalankan aksi-aksi tersebut. Justru sebaliknya, mereka merekrut diri sendiri dilatarbelakangi niat untuk menegakkan keadilan, membalas dendam, dan berperang melawan apa yang mereka persepsikan sebagai musuh," tulis Speckhart dan Akhmedova. 

Speckhart dan Akhmedova meneliti aksi-aksi bom bunuh diri yang melibatkan separatis Chechen pada periode 2000-2005. Dari total 27 aksi bom bunuh diri yang mereka kaji, tercatat ada 22 aksi teror yang melibatkan perempuan sebagai pelaku. 

"Black Widows mulai aktif sejak 7 Juni 2000. Ketika itu, Kava Barayeva, sepupu komandan lapangan gerilyawan Checen Arbi Barayev, dan Luisa Magomadova mengendarai truk berisi bahan peledak dan menabrakkannya ke markas sementara detasemen OMON (detasemen pasukan elite Rusia) di Alkhan Yurt," tulis Speckhart dan Akhmedova.  

Pada Oktober 2020, bersama 21 kolega pria mereka, Black Widows juga terlibat dalam penyanderaan di Dubrovka Theater, Moskow. Dalam salah satu aksi teror paling mematikan di ibu kota Rusia itu, total ada 19 anggota Black Widows diterjunkan, lengkap dengan bom bunuh diri yang melilit di sekujur tubuh. 

Dalam drama penyanderaan yang berlangsung hingga empat hari itu, setidaknya ada 129 sandera tewas. Kebanyakan sandera meninggal karena menghirup gas tidur yang dipompa ke dalam gedung teater lewat pipa ventilasi. Semua milisi, termasuk anggota Black Widows yang belum sempat meledakkan bom, tewas dieksekusi oleh pasukan khusus Rusia. 

"Banyak anggota keluarga, kerabat, dan sandera yang mengonfirmasi bahwa individu-individu ini (Black Widows) berniat meledakkan diri, sebagaimana terlihat dari sabuk-sabuk bom yang telah melilit di tubuh mereka," ungkap Speckhart dan Akhmedova.  

Bom yang siap meledak melilit di pinggang anggota Black Widows dalam aksi penyanderaan di Teater Dubrovska, Moskow, Rusia, pada Oktober 2002. /Foto screenshot Youtube

Wafa Idris dan glorifikasi bomber perempuan 

Aksi balas dendam juga jadi motif bagi Wafa Idris, bomber perempuan pertama dalam konflik antara Palestina dan Israel. Idris tewas saat meledakkan bom seberat 11 kilogram di depan sebuah toko sepatu di Jaffa Road, Yerusalem, pada 27 Januari 2002, sekitar delapan bulan sebelum penyanderaan di Teater Dubrovka. 

Ketika beraksi, Idris berusia 28 tahun. Sehari-hari, ia bekerja sebagai relawan di Palang Merah Internasional. "Aktif secara politik, keluarga Idris diusir dari Ramallah (sebuah kota di Tepi Barat) oleh militer Israel," tulis Giles Fodens dalam "Death and Maidens" yang tayang di Guardian pada 2003. 

Brigade Al Aqsa langsung mengklaim bertanggung jawab dalam aksi teror yang menewaskan 1 warga Israel tersebut. Namun, tak seperti aksi teror lainnya yang lazimnya dikecam publik secara serempak, banyak media Arab justru mengglorifikasi kematian Idris. 

Sebuah harian di Mesir membandingkan Idris dengan lukisan Monalisa, dengan 'mata penuh mimpi dan senyuman misterius'. Media lainnya menyebut Idris sebagai manifestasi Joan of Arc, putri seorang petani yang memimpin prajurit Prancis memenangkan pertempuran di Kota Orleans pada 1443. 

Seorang kolumnis di Al-Dustour, sebuah harian di Yordania, menggambarkan aksi bom bunuh diri Idris dalam analogi perjuangan menegakkan emansipasi perempuan dan memupus bias gender. 

"Wafa (Idris) tak membawa kosmetik di kopernya, tapi bahan peledak yang cukup untuk menciptakan horor bagi musuh. Bukankah Barat yang selalu menuntut agar perempuan Timur sejajar dengan pria? Ya, beginilah kami memahami ekualitas. Beginilah Wafa memahami ekualitas," tulisnya.      

Wafa Idris, pelaku bom bunuh diri perempuan pertama dalam konflik Palestina-Israel. /Foto screenshot YouTube

Glorifikasi aksi Idris itu "efektif" melahirkan generasi bomber perempuan lainnya. Pada Februari 2002, aksi Idris ditiru seorang mahasiswa jurusan Bahasa Inggris bernama Darin Aisheh. Dara berusia 21 tahun itu meledakkan diri di sebuah pos jaga militer di Tepi Barat, Israel. 

Sebulan berikutnya, giliran Ayat Akhras, 18 tahun, menorehkan namanya sebagai "pengantin" dengan meledakkan diri di sebuah halte bus di Yerusalem. Andaleeb Takafka, 20 tahun, menyusul jejak Idris dan kawan-kawan pada April 2002. 

Kehadiran bomber perempuan itu sempat menimbulkan perdebatan politik yang panjang di Palestina. Pada mulanya, eks pemimpin spiritual Hamas, Syeikh Ahmad Yasin menolak membuka ruang bagi kaum hawa di jalan jihad. Namun, ia pun akhirnya mengalah pada tekanan publik. 

Menurut Bloom dalam "Mother, Daughter, Sister, Bomber", Yasin mengeluarkan sejumlah fatwa untuk merevisi sikap HAMAS terhadap eksistensi bomber perempuan. Dalam salah satu pernyataan, Yasin mengatakan, perempuan hanya diperbolehkan berjihad jika ditemani pendamping pria. 

Dalam pernyataan lainnya, Yasin menyebut perempuan boleh melancarkan serangan bom bunuh diri sendirian jika aksi tersebut tidak membuat berada di luar rumah lebih dari 24 jam. "Ini posisi yang ironis karena sang perempuan tentu bakal lebih lama perginya jika dia sukses menjalankan misi," komentar Bloom.

Setahun setelah kematian Idris, organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Al Qaeda--termasuk Al Qaeda in Iraq (AQI) yang dibesut Al Zarqawi--mulai menggunakan perempuan sebagai bomber. Awalnya, taktik itu digunakan untuk menyerang pasukan koalisi yang dipimpin AS dalam invasi di Irak. 

Dalam sebuah terbitan pada Maret 2003, koran Al-Sharq Al-Awsat merilis wawancara khusus dengan seorang perempuan berkode "Um Osama" atau yang berarti ibunda Osama. Um Osama mengklaim Al Qaeda telah membentuk skuat bomber perempuan untuk menyerang AS. 

"Gagasannya muncul dari kesuksesan operasi martir-martir perempuan Palestina di wilayah okupasi (Israel). Organisasi kami terbuka bagi semua perempuan Muslim yang ingin bergabung dengan negara Islam, terutama di masa sulit ini," kata Um Osama. 

Ilustrasi anggota Brigade al-Khansaa, unit polisi moral ISIS yang semua anggotanya perempuan. /Foto screenshot YouTube

Buah propaganda ISIS 

Ide ekualitas peran perempuan dan laki-laki di jalan jihad sebenarnya telah berkembang sejak 1970-an. Dalam "Defense of the Muslim Lands" yang dirilis pada 1979, pendiri Al Qaeda Abdullah Azzam, berargumen jihad menjadi kewajiban semua pria dan perempuan di tanah kaum Muslim dijajah. 

"Jihad jadi fardhu 'ain (kewajiban individual) bagi pria dan wanita, di mana anak-anak harus berbaris maju (berjihad) tanpa izin dari orang tua mereka serta para istri tanpa izin dari suami mereka," tulis teolog Sunni yang juga dikenal sebagai Bapak Jihad Global itu. 

Meski begitu, Al Qaeda di bawah Osama Bin Laden tak serta merta menerima gagasan itu. Menurut Lydia Khalil, dalam "Behind The Veil: Women in Jihad After The Caliphate", Al Qaeda hingga dekade 2000-an, masih cenderung memandang perempuan secara konvensional: sebagai fasilitator, ibu generasi pejuang, pendukung suami, dan penyokong finansial. 

"Pola pikir kaum jihadis Salafi selalu patriarki...Kelompok jihadis enggan memobilisasi perempuan untuk berperang dan, menurut debat-debat teologi di kelompok-kelompok itu, perempuan hanya boleh berpartisipasi dalam pertempuran dengan syarat-syarat tertentu saja," kata Lydia. 

Kaum jihadis perempuan baru menemukan "surga" emansipasi di Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), nama baru AQI. Berbeda dengan Al Qaeda, ISIS di bawah pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi tak malu-malu mengeksploitasi perempuan untuk kepentingan-kepentingan operasional mereka. 

Pada 2014, setelah mendeklarasikan kekhalifahan di sebagian wilayah Irak dan lepas dari Al Qaeda, ISIS merayu para perempuan Muslim di seluruh dunia untuk bergabung langsung di medan pertempuran di Irak. Tak butuh lama, ribuan perempuan dari berbagai negara membanjiri ISIS. 

Di sana, mereka pada mulanya dimanfaatkan untuk tugas-tugas tradisional seperti merawat generasi baru jihadis atau mengurus urusan domestik. Seiring waktu, para perempuan ISIS juga dipercaya untuk tugas-tugas menjaga keamanan dan rekrutmen. 

Untuk tugas keamanan, misalnya, ISIS membentuk Brigade al-Khansaa. Brigade ini konon dipimpin seorang perempuan Maroko dan umumnya beranggotakan perempuan-perempuan yang fasih bahasa Prancis. Mereka berfungsi sebagai hisba, sebuah unit polisi moral. 

"Dengan seluruh tubuh tertutup niqab dan bedil di bahu, anggota Brigade al-Khansaa berpatroli di jalanan untuk mengawasi perempuan-perempuan yang melanggar norma-norma kesopanan di ISIS dan memberikan peringatan atau hukuman jika diperlukan," tulis Lydia. 

Menurut Lydia, perempuan juga menempati posisi pemimpin di ISIS. Salah satunya ialah Nisreen Assad Ibrahim Bahar atau yang juga dikenal dengan sebutan Umm Sayyaf. "Dia bertindak sebagai penasihat pemimpin ISIS dan secara khusus ditunjuk Al-Baghdadi untuk mengawasi para tawanan ISIS," kata dia. 

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Pada Januari 2015, saat wilayah ISIS kian menyempit, Brigade al-Khansaa merilis manifesto yang mengelaborasi peran perempuan di jalan jihad. Tak hanya sebagai istri dan ibu, para perempuan ISIS juga diperkenankan ke luar rumah untuk berjihad seperti perempuan di Irak dan Chechnya. 

Seruan agar perempuan aktif berjihad sebagaimana pria juga dirilis di Rumiya, majalah daring milik ISIS, pada Juli 2017. Dalam sebuah artikel di Rumiya, disebutkan bahwa 'perempuan harus ikut bertempur bukan hanya karena minimnya jumlah laki-laki tapi karena kecintaan mereka terhadap jihad.'

Pada Oktober 2017, bertepatan dengan jatuhnya Raqqa, ibu kota ISIS selama 3 tahun, sebuah esai di al-Naba, koran ISIS, menyatakan bahwa perempuan ISIS kini tak hanya diperbolehkan berjihad, tapi juga wajib bertempur atas nama kekhalifahan. 

Seruan-seruan itu sampai ke sel-sel teror dan organisasi teroris yang berbaiat kepada ISIS di berbagai belahan dunia. Sejak 2015, aksi bom bunuh diri perempuan ISIS tercatat terjadi di sejumlah negara di Eropa, Asia, dan Afrika. 

Di Indonesia, Dian Yulia Novi, ketika itu berusia 28 tahun, merencanakan aksi bom bunuh diri di Istana Presiden pada 2016. Namun, aksinya keburu terbongkar. Dian diketahui anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), organisasi teroris yang juga berbaiat ke ISIS. 

JAD tak patah arang. Pada pertengahan Mei 2018, Puji Kuswati mencatatkan diri menjadi bomber perempuan JAD pertama di Indonesia. Bersama dua putrinya, ia meledakkan diri di pelataran Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Dipenogoro, Surabaya, Jawa Timur. 

Sebagaimana Idris di Palestina, Puji mengawali lahirnya generasi bomber perempuan di negeri ini.  

 

img
Christian D Simbolon
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan