logo alinea.id logo alinea.id

Huawei bersedia teken perjanjian bukan mata-mata China

Huawei telah berkali-kali membantah bahwa produk-produk mereka memicu risiko spionase atau sabotase.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 15 Mei 2019 13:19 WIB
Huawei bersedia teken perjanjian bukan mata-mata China

Raksasa telekomunikasi asal China, Huawei, bersedia menandatangani perjanjian tidak melakukan tindakan memata-matai dengan sejumlah negara, termasuk Inggris. Hal tersebut diungkapkan oleh Chairman Huawei Liang Hua.  

Sikap Huawei itu mengikuti kekhawatiran dari sejumlah negara bahwa China dapat menggunakan produk-produk pabrikan mereka untuk melakukan spionase.

Huawei telah berkali-kali membantah bahwa produk-produk mereka memicu risiko spionase atau sabotase. Huawei juga menegaskan bahwa mereka independen dari pemerintah China. Sejumlah negara telah memblokir Huawei dari jaringan 5G mereka dengan alasan keamanan nasional.

"Kami bersedia menandatangani perjanjian tanpa spionase, termasuk dengan pemerintah Inggris, untuk membuat komitmen agar peralatan kami memenuhi standar tanpa tindakan mata-mata, tanpa jalur belakang," kata Liang Hua dalam konferensi bisnis di London.

Australia dan Selandia Baru telah memblokir perangkat Huawei dari jaringan 5G mereka. Sementara itu, Amerika Serikat telah membatasi badan-badan federal untuk menggunakan produk-produk Huawei. Washington juga menekan sekutunya untuk menghindari pemakaian produk Huawei.

Pada Rabu (15/5), Reuters melaporkan AS kemungkinan akan memperketat pembatasan pada Huawei. Dalam pekan ini, Presiden Donald Trump diperkirakan akan menandatangani perintah eksekutif yang melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan peralatan telekomunikasi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang menimbulkan risiko keamanan nasional.

Jika Trump benar meneken perintah eksekutif itu maka isu ini dapat menjadi titik didih baru dalam hubungan AS dan China yang tengah memanas. Selain, isu spionase Huawei, Washington dan Beijing terlibat konflik dalam perang dagang, penangkapan eksekutif Huawei Meng Wanzhou di Kanada atas permintaan AS, serta keduanya memiliki perbedaan tajam dalam kasus Taiwan.

Pada Jumat (10/5), AS menaikkan tarif atas barang-barang China senilai US$200 miliar atau naik dari 10% menjadi 25%. Dan pada awal pekan ini, Tiongkok membalas AS dengan menaikkan tarif atas produk-produk AS senilai US$60 miliar per 1 Juni 2019.

Sponsored