sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Iran bakal longgarkan kebijakan social distancing

Iran ingin mengembalikan kondisi ekonomi ke titik normal.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 21 Mar 2020 23:50 WIB
Iran bakal longgarkan kebijakan social distancing
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 113134
Dirawat 37598
Meninggal 5302
Sembuh 70237

Presiden Iran Hassan  Rouhani, Sabtu (21/3), mengatakan bahwa langkah-langkah seperti social distancing atau pembatasan pergerakan lainnya yang diterapkan pemerintah untuk memerangi Covid-19 berlaku hanya dua hingga tiga pekan ke depan.

Rouhani berharap, dalam waktu sekitar tiga minggu, krisis kesehatan di negaranya mereda.

"Iran harus melakukan segala yang diperlukan untuk mengembalikan produksi ekonomi ke titik normal," kata Rouhani dalam pidatonya.

Iran merupakan salah satu negara yang paling terpukul coronavirus jenis baru, dengan mencatat 19.644 kasus positif dan 1.433 kematian.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah meminta Amerika Serikat untuk mencabut sanksi terhadap Iran agar negara itu dapat fokus menangani pertempuran melawan coronavirus.

"Saya mendesak masyarakat internasional untuk mencabut sanksi terhadap Iran," kata PM Khan pada Jumat (20/3).

"Sangat tidak adil mereka harus berurusan dengan pandemik di satu sisi dan di sisi lain tetap menghadapi sanksi internasional," imbuhnya.

Sejauh ini, AS menolak untuk mencabut sanksi terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengkritik Teheran ihwal kurangnya transparansi terkait cara pemerintah menangani coronavirus jenis baru.

Sponsored

Pakar politik berbasis di New York, Arif Rafiq, menilai bahwa kemungkinan besar Washington akan mengabaikan saran PM Khan tentang pencabutan sanksi terhadap Teheran.

"Pada akhirnya, ini adalah masalah bilateral AS-Iran. Pakistan tidak memiliki banyak pengaruh atas kebijakan AS terhadap Iran," jelas dia.

Ekonomi Iran terpukul setelah Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dan memberlakukan kembali sanksi keras dengan mengekang ekspor minyak dan gas Iran. (Reuters dan Al Jazeera)

Berita Lainnya