sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Iran tahan Dubes Inggris selama tiga jam

Inggris menyebut penahanan dubesnya oleh Iran sebagai pelanggaran hukum internasional secara terang-terangan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 12 Jan 2020 12:46 WIB
Iran tahan Dubes Inggris selama tiga jam

Duta Besar Inggris untuk Iran ditahan selama protes antipemerintah di Teheran. Demonstrasi berlangsung setelah Iran mengakui tidak sengaja menembak jatuh pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Ukraine International Airlines.

Pesawat nahas itu jatuh pada Rabu (8/1), menewaskan 176 penumpang serta kru.

Dubes Rob Macaire dilaporkan ditahan selama tiga jam.

Disebutkan, Macaire menghadiri acara peringatan bagi para korban kecelakaan pesawat Ukraine International Airlines di Amir Kabir University. Acara tersebut dikabarkan dengan cepat berubah menjadi protes antipemerintah.

Macaire dilaporkan meninggalkan acara tersebut untuk kembali ke Kedutaan Inggris, namun dia ditangkap saat tengah berhenti di sebuah barber shop untuk pangkas rambut.

"Penahanan duta besar kami di Teheran yang tanpa alasan atau penjelasan merupakan pelanggaran hukum internasional secara terang-terangan," tegas Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab.

"Pemerintah Iran berada di persimpangan jalan. Mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju status negara pariah dengan isolasi politik dan ekonomi yang menyertai atau mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan dan terlibat dalam jalur diplomatik ke depannya."

Media Iran melaporkan bahwa Macaire dituduh menghasut protes antipemerintah.

Sponsored

Sebelumnya, Iran mengonfirmasi bahwa Boeing 737-800 milik maskapai Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan PS752 ditembak jatuh oleh rudal karena kesalahan manusia. Kemudian pada Sabtu (11/1), massa di sejumlah titik di Iran sebagai bentuk belasungkawa atas para korban.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menuturkan bahwa pengakuan Iran adalah langkah pertama yang penting dan dia menyerukan penyelidikan atas kecelakaan tragis tersebut.

"Ini merupakan waktu yang sangat sulit bagi keluarga korban ... Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mendukung dan memastikan mereka mendapat jawaban serta kesimpulan atas apa yang terjadi," ujar PM Johnson.

PM Johnson menegaskan, penyelidikan kecelakaan harus komprehensif, transparan, dan independen. Dia menambahkan, Inggris akan bekerja sama dengan negara-negara lain yang warganya juga turut menjadi korban, seperti Kanada dan Ukraina.

Iran, awalnya membantah bertanggung jawab atas kecelakaan Ukraine International Airlines yang ikut menewaskan empat warga Inggris. Tetapi pada Sabtu, Presiden Hassan Rouhani mengakui militer Iran secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat penumpang tersebut setelah mengiranya sebagai rudal jelajah.

Presiden Rouhani menyatakan serangan rudal tersebut adalah kesalahan yang tidak termaafkan.

Kecelakaan terjadi hanya beberapa jam setelah Iran meluncurkan serangan rudal terhadap dua pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat di Irak. Langkah Iran tersebut sebagai balasan atas kematian Jenderal Qasem Soleimani yang dibunuh AS lewat serangan drone pada 3 Januari.

Sumber : BBC

Meraup cuan dari kematian

Meraup cuan dari kematian

Jumat, 28 Feb 2020 06:06 WIB
Berita Lainnya