sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemlu: Tak ada WNI korban jiwa banjir di Jerman

Menurut Judha, saat ini kondisi para WNI di Jerman baik dan memiliki pasokan logistik yang cukup.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 17 Jul 2021 14:35 WIB
Kemlu: Tak ada WNI korban jiwa banjir di Jerman

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha pada Sabtu (17/7) menyatakan, tidak ada laporan korban jiwa WNI akibat banjir di sejumlah wilayah di Jerman.

"Terkait bencana banjir di wilayah Nordrhein-Westfalen dan Rheinland-Pfalz, Jerman, sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa WNI," jelas Judha dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Judha menjelaskan bahwa KJRI Frankfurt telah mendata terdapat lima keluarga di Bad Neuenahr-Ahrwelle dan dua keluarga WNI di Erfstadt (Köln) yang terdampak banjir dan telah mengungsi ke rumah WNI atau fasilitas pemerintah setempat. 

"Saat ini kondisinya baik dan memiliki logistik yang cukup," tambahnya.

Judha menuturkan bahwa KJRI Frankfurt memonitor terus perkembangan di lapangan dan upayakan berikan bantuan kepada WNI terdampak.

Menurut laporan BBC pada Jumat (16/7), sedikitnya 120 orang tewas dan ratusan lainnya belum ditemukan akibat banjir di Eropa barat. Banjir bandang terjadi akibat curah hujan tinggi yang memicu sungai meluap.

Di Jerman, di mana jumlah korban tewas mencapai lebih dari 100, Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pertempuran gigih melawan perubahan iklim.

Selain di Jerman, setidaknya 20 orang tewas di Belgia. Sementara itu, Belanda, Luksemburg, dan Swiss juga terpengaruh banjir.

Sponsored

Belanda melaporkan tidak ada korban jiwa tetapi ribuan orang di kota-kota dan desa-desa di sepanjang sungai Meuse telah didesak untuk segera meninggalkan rumah mereka.

Sungai yang mengalir melalui ibu kota Swiss, Bern, meluap, mengalir dengan kecepatan tertinggi 560 meter kubik per detik pada Jumat.

Banyak faktor yang menyebabkan banjir, tetapi pemanasan atmosfer yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat curah hujan ekstrem lebih mungkin terjadi.

Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menyatakan 20 Juli sebagai hari berkabung nasional.

"Kami masih menunggu jumlah korban terakhir, tetapi ini bisa menjadi banjir paling dahsyat yang pernah terjadi di negara kami," katanya.

Sekitar 15.000 personel polisi, tentara, dan pekerja layanan darurat telah dikerahkan di Jerman untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan.

Berita Lainnya