sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Korban tewas akibat Topan Hagibis di Jepang jadi 35 orang

Hagibis pertama kali mendarat di Pulau Honshu dengan kecepatan angin hingga 216 kilometer per jam pada Sabtu (12/10).

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 14 Okt 2019 10:36 WIB
Korban tewas akibat Topan Hagibis di Jepang jadi 35 orang

Topan Hagibis, siklon terburuk yang menghantam Jepang dalam beberapa dekade terakhir memicu tanah longsor dan banjir, meninggalkan jejak kehancuran di sejumlah wilayah. 

Hingga Minggu (13/10) malam waktu setempat, setidaknya 35 orang dipastikan tewas di 11 prefektur, sementara 17 lainnya hilang. Sebanyak 177 orang terluka tersebar di 28 prefektur.

Dalam pertemuan kabinet darurat pada Minggu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa total 110.000 petugas yang terdiri dari polisi, pemadam kebakaran, petugas penjaga pantai dan personel Pasukan Bela Diri telah dimobilisasi untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.

"Saya meminta warga Jepang untuk tetap waspada terhadap tanah longsor dan banjir akibat luapan air sungai," kata PM Abe.

Dia berjanji akan mengerahkan segala upaya untuk memulihkan daya listrik, air dan layanan transportasi.

Juru bicara pemerintah Yoshihide Suga menyatakan bahwa Topan Hagibis telah menyebabkan kerusakan dalam skala besar. Data pemerintah menunjukkan, sebanyak 142 sungai meluap akibat topan.

Sebelumnya, pada Sabtu (12/10), pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan darurat banjir. Peringatan itu pertama kali ditujukan bagi Tokyo, Kanagawa, Saitama, Gunma, Yamanashi, Shizuoka dan Nagano, sebelum diperluas ke Ibaraki, Tochigi, Fukushima, Miyagi, Niigata, serta Iwate.

Topan membuat aktivitas di kawasan Greater Tokyo, daerah metropolitan terpadat di dunia, terhenti pada Sabtu.

Sponsored

Warga yang bersiap menghadapi topan menuruti imbauan resmi dari pihak berwenang dan mencari tempat perlindungan. Persediaan makanan habis di sejumlah toserba, layanan kereta ditangguhkan, serta mal dan restoran tutup.

Pada Minggu pagi, jaringan kereta bawah tanah di pusat Tokyo sudah beroperasi dengan normal dan toko-toko dibuka kembali.

Berbeda dengan Tokyo, sejumlah wilayah lainnya yang lebih rentan terhadap bencana tidak pulih begitu cepat.

Baik Sungai Chikuma di Nagano maupun Sungai Abukuma di Fukushima meluap, membanjiri daerah yang luas dengan air yang setidaknya merendam dua lantai bangunan.

Penduduk yang terjebak dan mengungsi ke atap rumah mereka dievakuasi menggunakan helikopter militer.

Namun, operasi itu gagal dalam satu kasus di Iwaki, Fukushima. Seorang wanita berusia 77 tahun tewas akibat terjatuh dari ketinggian 40 meter setelah petugas penyelamat tidak berhasil memasang harness dengan benar sebelum menerbangkannya.

Sementara itu di Nagano, 10 unit shinkansen di Jalur Hokuriku Shinkansen Line, yang menghubungkan Tokyo dan Kanazawa, terendam banjir.

Di daerah pegunungan Gunma, Nagano dan Fukushima, petugas penyelamat menggali reruntuhan akibat tanah longsor dengan harapan menemukan orang-orang yang selamat.

Banjir dan tanah longsor juga dilaporkan terjadi di tempat wisata populer, Hakone, di Prefektur Kanagawa. Daerah itu diguyur hujan lebat dengan curah 939,5 milimeter selama 24 jam.

Di Teluk Tokyo, sebuah kapal barang asal Panama berkapasitas 1.925 ton tenggelam akibat topan yang dahsyat. Dua belas awak kapal, yang terdiri dari tujuh warga China, tiga warga Myanmar dan dua warga Vietnam, terhempas ke laut. Hingga Minggu malam, lima awak dipastikan tewas sementara tiga lainnya masih hilang. Empat lainnya dinyatakan aman.

Topan Hagibis memutus jaringan listrik sekitar 500.000 rumah. Secara perlahan, pemerintah berusaha memulihkannya.

Sekitar 166.220 rumah masih tanpa jaringan listrik pada Minggu pukul 17.00. Data pemerintah mencatat, 120.000 rumah lainnya masih tidak memiliki akses air.

Lebih dari 800 penerbangan domestik dan internasional di bandara di Narita dan Haneda dibatalkan pada Minggu, tetapi penerbangan diharapkan kembali normal pada Senin (14/10).

Pertandingan Piala Dunia Rugbi antara Namibia dan Kanada di Iwate dibatalkan pada Minggu. Sebelumnya, dua pertandingan berbeda juga dibatalkan pada Sabtu.

Hagibis, yang berarti "kecepatan" dalam Bahasa Tagalog, pertama kali mendarat di Pulau Honshu dengan kecepatan angin hingga 216 kilometer per jam pada Sabtu. Topan itu kemudian bergerak menuju Samudra Pasifik pada Minggu pagi. (The Straits Times dan Channel News Asia)