sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Negara-negara kaya berebut vaksin, Bill Gates khawatir

Seharusnya tidak hanya negara kaya yang menang dalam perang penawaran vaksin Covid-19.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 15 Sep 2020 19:05 WIB
Negara-negara kaya berebut vaksin, Bill Gates khawatir
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Pendiri Microsoft, Bill Gates, meyakini bahwa vaksin Covid-19 akan tersedia pada 2021. Namun, dia khawatir bahwa dosisnya tidak akan tersedia bagi kelompok berpenghasilan rendah, terutama di negara-negara kurang berkembang.

Dalam sebuah konferensi virtual, Gates mengatakan bahwa pertanyaan besar yang perlu dipertimbangkan dan sedang dipikirkan oleh yayasannya adalah bagaimana membuat serta mendistribusikan vaksin kepada yang mereka yang paling membutuhkan.

"Seharusnya tidak hanya negara kaya yang memenangkan perang penawaran terhadap vaksin," katanya.

"Salah mengalokasikan vaksin akan menyebabkan kematian tambahan yang dramatis," imbuhnya.

Negara-negara kaya, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris, telah memesan lebih dari dua miliar dosis vaksin Covid-19. Langkah ini dapat mengakibatkan penipisan stok dosis vaksin pada 2021.

Untuk mengatasinya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beserta sejumlah organisasi lainnya meluncurkan kolektif global untuk memastikan bahwa negara-negara miskin memiliki akses yang adil terhadap vaksin.

Sebuah laporan baru, dijuluki "The Goalkeepers Report," yang dirilis pada Senin (14/9) oleh Bill & Melinda Gates Foundation, mengeksplorasi bagaimana dunia telah mundur karena Covid-19, dengan meningkatnya kemiskinan global di banyak negara.

Laporan tersebut mengutip pemodelan dari Northeastern University yang memprediksi dua kali lebih banyak orang bisa meninggal akibat Covid-19, jika negara-negara kaya menimbun dua miliar dosis vaksin pertama daripada mendistribusikannya secara adil.

Sponsored

Laporan tersebut juga menyatakan, pandemik berdampak tidak proporsional pada perempuan, kelompok minoritas ras dan etnis, serta orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

"Pandemik, di hampir setiap dimensi, memperburuk ketimpangan. Negara-negara miskin menderita jauh lebih banyak daripada negara-negara kaya karena kekurangan sumber daya fiskal untuk bertahan," ujar Gates.

Dia menambahkan, banyak pekerja di negara berkembang tidak dapat dengan mudah bekerja dari rumah dan umumnya dibayar lebih rendah.

Pada akhir Agustus, lebih dari 170 negara menyatakan minatnya untuk bergabung dengan Covid-19 Vaccines Global Access Facility (COVAX), yang bertujuan untuk bekerja sama dengan produsen vaksin untuk memberikan akses yang adil bagi vaksin yang aman dan efektif, serta melindungi populasi paling rentan seperti lansia dan pekerja perawatan kesehatan.

Target COVAX adalah memberikan dua miliar dosis vaksin Covid-19 yang disetujui pada akhir 2021 dengan meningkatkan produksi dan membeli pasokan.

Bill and Melinda Gates Foundation adalah mitra pendiri serta donor untuk aliansi vaksin global Gavi, yang memimpin inisiatif COVAX bersama dengan WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).

Namun, pemerintahan Donald Trump pada awal September mengatakan mereka tidak akan ikut serta dalam COVAX.

Negeri Paman Sam dinilai masih dapat berbuat lebih banyak untuk memastikan bahwa vaksin didistribusikan dengan cara yang lebih adil dan merata.

Dr. Moncef Slaoui, yang memimpin prakarsa vaksin Operation War Speed yang digagas pemerintahan Trump, awal bulan ini menyatakan bahwa dia yakin vaksin akan tersedia sebelum akhir 2020 untuk orang-orang dalam kelompok berisiko tinggi.

Namun, banyak pejabat, termasuk pakar kesehatan top Gedung Putih, Anthony Fauci, telah memperkirakan vaksin Covid-19 tidak akan tersedia secara luas bagi warga AS hingga awal atau pertengahan 2021. (CNBC)

Berita Lainnya
×
img