logo alinea.id logo alinea.id

PBB: Diet nabati bantu cegah perubahan iklim

Ilmuwan mengatakan bahwa masyarakat Barat mengonsumsi terlalu banyak daging.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 09 Agst 2019 14:55 WIB
PBB: Diet nabati bantu cegah perubahan iklim

Sebuah laporan tentang penggunaan lahan dan perubahan iklim yang disusun oleh 107 ilmuwan dari Panel Antarpemerintah PBB untuk Perubahan Iklim (IPCC)  menyebutkan, tingginya konsumsi daging dan produk susu di Barat telah berperan memicu pemanasan global. 

Tetapi mereka tidak secara eksplisit meminta orang-orang untuk menjadi vegan atau vegetarian.

"Kami tidak mengatakan kepada orang-orang untuk berhenti makan daging. Di beberapa tempat, orang tidak punya pilihan lain. Tetapi jelas bahwa di Barat, kita makan terlalu banyak daging," ungkap Pete Smith, seorang ilmuwan lingkungan dari Aberdeen University, Inggris.

Dikutip dari laman fao.org, sapi adalah spesies hewan yang bertanggung jawab atas emisi terbanyak, mewakili sekitar 65% emisi sektor peternakan.

Laporan para ilmuwan tersebut menggarisbawahi pula bahwa jika digunakan lebih efektif maka tanah dapat menyimpan lebih banyak karbon yang dilepas manusia.

Tindakan keras untuk menghentikan kerusakan tanah dan penggurunan, yang berkontribusi pada perubahan iklim, turut ditekankan oleh laporan itu. Laporan yang sama juga memperingatkan bahwa rencana oleh sejumlah pemerintah untuk menanam pohon dan membakarnya demi menghasilkan listrik akan bersaing dengan produksi makanan dalam memproduksi gas rumah kaca kecuali dilakukan dalam skala terbatas. 

Tanah, dan cara memanfaatkannya, membentuk dasar bagi komunitas masyarakat dan ekonomi global. Namun, selama ini, manusia membentuknya lewat cara yang dramatis, termasuk melalui pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.

Bagaimana tanah merespons perubahan iklim yang dipicu oleh manusia merupakan persoalan vital bagi masa depan.

Sponsored

Mengubah cara manusia mengelola tanah, yang terkadang diabaikan sebagian dari sistem iklim namun merupakan penyimpan karbon terbesar kedua setelah lautan, merupakan tantangan besar, terutama karena memerlukan perubahan signifikan dalam metode pertanian.

Meski demikian, para ilmuwan menekankan sejumlah langkah lain yang dapat dilakukan yaitu dengan melindungi hutan alam, khususnya di daerah tropis, makan lebih sedikit daging merah dan lebih banyak sayuran, melindungi dan memulihkan lahan gambut, agroforestri serta meningkatkan varietas tanaman.

Perubahan iklim dan pasokan makanan

Perubahan iklim mengancam keamanan pasokan makanan. Naiknya suhu, meningkatnya hujan dan peristiwa cuaca ekstrem akan berdampak pada tanaman dan ternak.

Di lain sisi, produksi makanan juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Pertanian, bersama dengan kehutanan, menyumbang sekitar seperempat dari emisi gas rumah kaca. Adapun pemeliharaan ternak tidak hanya berkontribusi terhadap pemanasan global melalui gas metana yang dihasilkan hewan, namun juga lewat penggundulan hutan untuk memperluas padang rumput, misalnya.

Peter Stevenson, dari Compassion in World Farming, mengatakan, "Pengurangan konsumsi daging sangat penting jika kita ingin memenuhi target iklim."

Tetapi di beberapa bagian dunia, seperti China, konsumsi daging sapi terus meningkat. Ini terlepas dari upaya Beijing untuk mempromosikan diet tradisional.

Tindakan membuang-buang makanan, baik sebelum atau setelah penjualan kepada konsumen, juga didesak untuk segera dihentikan.

Makanan sisa kadang-kadang dapat digunakan sebagai pakan ternak atau, jika dalam kondisi yang masih baik, dapat dialihkan ke badan amal.

Sebuah organisasi di Swiss, Partage, mengumpulkan makanan yang tidak terjual dan membagi-bagikannya. Mereka juga membantu mengurangi emisi CO2 dalam produksi makanan dengan sejumlah cara, termasuk 'mendaur ulang' makanan.