sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Presiden Meksiko tuntut permintaan maaf dari Spanyol

Dalam suratnya, Presiden Meksiko menuntut permintaan maaf atas pelanggaran kolonialisme dan penjajahan.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 27 Mar 2019 19:24 WIB
Presiden Meksiko tuntut permintaan maaf dari Spanyol

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador menuntut permintaan maaf atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Spanyol selama masa penjajahan, 500 tahun yang lalu.

Dalam sebuah video yang dia unggah ke Twitter pada Senin (25/3), Presiden Lopez Obrador menyatakan telah mengirimkan surat kepada Raja Spanyol Felipe VI dan Paus Fransiskus.

"Saya telah mengirim surat kepada Raja Spanyol dan surat lain kepada Paus Fransiskus meminta mereka untuk mengakui pelanggaran HAM yang telah terjadi dan agar mereka menyampaikan permintaan maaf kepada penduduk asli Meksiko," ujarnya dalam video tersebut.

Dalam konferensi pers hariannya pada Selasa (26/3), Lopez Obrador menekankan bahwa dia tidak ingin bertikai dengan Spanyol. Dia menekankan bahwa hubungan Meksiko dengan Spanyol tidak dalam bahaya.

"Kami tidak ingin terlibat konfrontasi dengan pemerintah Spanyol atau pemerintah negara mana pun," kata Lopez Obrador, yang pelantikannya pada Desember 2018 dihadiri oleh Raja Spanyol.

Menurut Presiden Meksiko, permintaan maaf itu penting untuk memulai era baru dengan rekonsiliasi dan rasa persaudaraan yang erat.

Presiden berusia 65 tahun itu mengatakan, era kolonial telah menyebabkan pembantaian dan penindasan, serta pembangunan gereja-gereja di atas kuil.

Sponsored

Pemerintah Spanyol menyatakan telah menerima surat dengan tuntutan yang sama dari Lopez Obrador pada 1 Maret. Madrid menolak untuk meminta maaf.

"Spanyol tidak akan menanggapi permintaan itu," ujar Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borell. "Aneh rasanya menerima tuntutan permintaan maaf atas peristiwa yang terjadi 500 tahun yang lalu."

Borell mengatakan yang terpenting adalah untuk menjaga hubungan baik antara rakyat Spanyol dan Meksiko.

Tuntutan permohonan maaf Lopez Obrador menuai kecaman dari Ketua Partai Ciudadanos Albert Rivera. Dia menyebut tuntutan itu sebagai penghinaan bagi rakyat Spanyol.

Sementara itu, Vatikan mengatakan pihaknya menganggap masalah itu sudah selesai. Mereka menyatakan bahwa sejumlah Paus terdahulu sudah meminta maaf atas pelanggaran HAM yang dilakukan atas nama penginjilan kepada penduduk di Benua Amerika.

Permintaan maaf sudah disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1992, serta oleh Paus Fransiskus di Bolivia pada 2015 dan di Meksiko pada 2016.

Ketika ditanya apakah dia juga akan menuntut permintaan maaf dari Prancis atau Amerika Serikat atas intervensi kedua negara pada masa lalu, Presiden Lopez Obrador menjawab, "Saat waktunya tepat."

Dengan dukungan kaum konservatif di Meksiko, Prancis menginvasi negara itu pada 1860-an dan mengangkat Maximilian, anggota keluarga Habsburg asal Eropa, sebagai penguasa selama tiga tahun.

Sementara itu, AS telah mengalami sejumlah bentrokan dengan Meksiko, terutama selama konflik 1846-1848, yang mengakibatkan pendudukan atas Meksiko City dan perebutan wilayah paling utara Meksiko oleh pasukan AS.

Sebagai kepala negara, Lopez Obrador menyatakan dia akan menuntut permintaan maaf atas pembunuhan yang dilakukan terhadap penduduk asli Meksiko, termasuk suku Yaqui di utara dan suku Maya di selatan negara itu.

Presiden berusia 65 tahun itu juga menuturkan akan meminta maaf atas perlakuan kejam terhadap imigran China selama pemerintahan diktator Meksiko, Porfirio Diaz, dan selama konflik yang dikenal sebagai Revolusi Meksiko pada 1911.

Di Meksiko, rakyat terlihat tidak peduli terhadap tuntutan presiden. Justru banyak yang bertanya-tanya mengapa Lopez Obrador tidak fokus mencari solusi bagi persoalan yang lebih mendesak, seperti kejahatan dan korupsi yang merajalela.

"Sejujurnya, menurut saya ada masalah di negara ini yang seharusnya dia perhatikan," kata Tristan Velazquez, pekerja pemerintah di Mexico City.

Rakyat Meksiko bingung atas keputusan Lopez Obrador yang kembali membuka topik itu.

"Ini bukan waktu yang tepat," kata sejarawan dari College of Mexico, Lorenzo Meyer. "Meksiko tidak bisa memaksa pihak mana pun untuk meminta maaf." (Reuters, Channel News Asia, dan CNN)