logo alinea.id logo alinea.id

Putra mantan Menlu Korea Selatan membelot ke Korea Utara

Choe In-guk merupakan putra mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Choe Dok-shin, yang membelot bersama istrinya ke Korea Utara pada 1986.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Jul 2019 18:34 WIB
Putra mantan Menlu Korea Selatan membelot ke Korea Utara

Putra dari mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan membelot ke Korea Utara dan telah tiba di Pyongyang untuk menetap secara permanen. Itu akan menjadi kasus langka di mana warga Korea Selatan membelot ke Korea Utara yang dikenal lebih miskin dan otoriter.

Situs berita pemerintah, Uriminzokkiri, melaporkan Choe In-guk tiba di Pyongyang pada Sabtu (6/7) untuk mendedikasikan hidupnya bagi unifikasi Korea di bawah bimbingan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Media itu merilis foto dan rekaman yang memperlihatkan Choe In-guk, mengenakan kacamata dan baret, membaca pernyataan di Bandara Internasional Sunan, Pyongyang.

Choe In-guk mengatakan kini usianya di atas 70 tahun dan memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya di Korea Utara atas keinginan kedua mendiang orang tuanya. Dia menuturkan bahwa ayah dan ibunya ingin dirinya bergabung dengan Korea Utara dan bekerja untuk memperjuangkan unifikasi dengan Korea Selatan.

Dia merupakan putra mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Choe Dok-shin, yang membelot bersama istrinya ke Korea Utara pada 1986 setelah perselisihan politik dengan presiden saat itu, Park Chung-hee. Choe Dok-shin meninggal pada 1989.

Para pengamat mengatakan Kim Jong-un menerima Choe In-guk karena dapat menggunakannya sebagai alat propaganda untuk memberi tahu warganya bahwa sistem Korea Utara lebih unggul daripada Korea Selatan.

Kim Jong-un sedang berjuang untuk menghidupkan kembali ekonomi negaranya yang hampir mati dan meningkatkan mata pencaharian publik karena Amerika Serikat menolak melonggarkan sanksi hingga ada langkah selanjutnya menuju denuklirisasi.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan Choe In-guk berada di Korea Utara tanpa izin khusus dari pemerintah Seoul.

Sponsored

Pada Senin (8/7), juru bicara Kementerian Unifikasi Lee Sang-min mengatakan bahwa pihak berwenang sedang berupaya mencari tahu detail terkait kunjungan Choe In-guk ke Pyongyang.

Korea Utara dan Korea Selatan telah dipisah perbatasan selama 70 tahun terakhir, menghalangi warga mereka untuk saling mengunjungi wilayah satu sama lain, bertukar panggilan telepon, surat, atau surel tanpa izin khusus.

Sejak akhir Perang Korea 1950-1953, lebih dari 30.000 warga Korea Utara telah melarikan diri ke Korea Selatan untuk menghindari penindasan politik dan kemiskinan.

Beberapa kali, warga Korea Selatan membelot ke Korea Utara, tetapi hal itu menjadi langka dalam beberapa tahun terakhir sejak kelaparan melanda Korea Utara pada pertengahan 1990-an yang diperkirakan telah menewaskan ratusan ribu orang.

Sebelum kematiannya, Choe Dok-shin memegang jabatan tinggi di Korea Utara seperti wakil ketua komite penyatuan kembali tanah air secara damai dan kepala Partai Chondoist Chongu (CCP), kelompok politik yang berafiliasi dengan agama penduduk asli Korea, Chondo.

Istrinya, Ryu Mi-yong, adalah anggota presidium parlemen Korea Utara dan ketua komite pusat CCP. Dia meninggal pada 2016 di usia 95 tahun.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan Choe In-guk telah diizinkan melakukan 12 perjalanan resmi ke Korea Utara sejak 2001. Dia berkunjung ke Pyongyang untuk menghadiri sejumlah acara seperti mengunjungi makam orang tuanya dan menghadiri peringatan kematian ibunya.

Belum diketahui bagaimana dia bisa melakukan perjalanan ke Korea Utara, tetapi media Korea Selatan berspekulasi dia terbang ke Pyongyang dari Beijing menggunakan visa yang dikeluarkan pemerintah Korea Utara.

Sebelum perjalanan terbarunya ke Korea Utara, Choe In-guk merupakan anggota sebuah gereja Chondo di Korea Selatan dan terlibat dalam gerakan antar-Korea.

Sumber : The Guardian