sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rabi Baskin: Indonesia suarakan Islam yang moderat

Pujian soal Islam di Indonesia tidak hanya datang dari Rabi Baskin, tapi juga Pendeta Prasad.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 22 Agst 2019 19:19 WIB
Rabi Baskin: Indonesia suarakan Islam yang moderat

Rabi Eliot Baskin, salah satu petinggi di sinagoge Temple Emanuel di Denver, Amerika Serikat, berpendapat bahwa Indonesia menyuarakan suara Islam yang moderat kepada dunia.

"Indonesia, sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, menyuarakan Islam yang moderat dan penuh hormat," tuturnya dalam acara 'Understanding Interfaith at the Grassroots' di Mayapada Tower, Jakarta, pada Kamis (22/8).

Dia menyayangkan bahwa sebagian besar anggota kongregasinya di Denver tidak mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara mayoritas muslim terbesar di dunia.

"Mereka berpikir bahwa negara mayoritas muslim itu semuanya dari Timur Tengah, ini sayang sekali. Saya pikir seharusnya lebih banyak orang mengetahui dan mengalami sendiri betapa moderatnya Islam Indonesia," ungkap dia.

Senada dengan Baskin, Pendeta Ryhan Prasad dari Khandallah Presbyterian Church di Wellington, Selandia Baru, menyatakan bahwa Islam di Indonesia menyebarkan pesan perdamaian.

Menurutnya, sebagian besar negara Barat tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai Islam. Bahkan, lanjutnya, kebanyakan masyarakat Selandia Baru berpikir Timur Tengah menjadi tempat berkumpul para muslim.

Prasad mengungkapkan apresiasinya terhadap muslim di Indonesia yang berdiri dengan solidaritas untuk mendukung Selandia Baru usai peristiwa penembakan dua masjid di Christchurch.

"Islam di Indonesia menggemakan pesan cinta dan perdamaian, saya sangat yakin akan itu," kata Prasad.

Sponsored

Prasad menyinggung mengenai peran anak muda dalam mendorong terjadinya dialog antaragama. Menurutnya, institusi agama memerlukan pandangan baru dan segar yang ditawarkan oleh kaum muda.

"Saya bosan mendengar kalimat, 'Anak muda adalah masa depan kita'. Kapan? Justru anak muda adalah masa kini," ungkapnya. "Orang-orang yang lebih tua, terutama di institusi agama, perlu membiarkan anak muda berkarya dan mengambil peran lebih besar dalam mendorong dialog antaragama."

Baskin menenkankan pentingnya menanamkan benih perdamaian, rasa hormat dan cinta kepada anak muda melalui ajaran agama.

"Entah itu gereja, sinagoge atau masjid, pesan-pesan itu perlu ditanam sehingga kaum muda tumbuh dengan nilai-nilai positif," kata dia.

Baskin, Prasad, bersama Ustaz Oji Fahruroji dari Pesantren Peradaban Dunia Jagat 'Arsy, terlibat dalam proyek bertajuk 'The 1000 Abrahamic Circle'.

Proyek yang diprakarsai oleh Dino Patti Djalal itu melibatkan tiga pemuka agama dari agama Abrahamik yakni Yahudi, Kristen dan Islam, untuk saling bertukar pengalaman dan mempelajari agama masing-masing.

Tujuan dari proyek yang akan berlangsung hingga 2029 ini adalah untuk menimbulkan rasa hormat dan pengertian yang lebih dalam terkait ketiga agama tersebut.

Baskin, Prasad dan Oji menjadi peserta siklus pertama yang bepergian bersama selama tiga pekan mulai dari awal Agustus hingga awal pekan ini. Pemberhentian pertama mereka adalah sinagoge di Denver, berlanjut ke gereja di Selandia Baru, kemudian berakhir di pesantren di Indonesia.

"Saya tumbuh besar di lingkungan yang memiliki prasangka buruk terhadap Yahudi. Tapi melalui proyek ini, setelah turun langsung dan mencoba memahami kepercayaan itu, saya berkesimpulan bahwa seluruh prasangka saya keliru," kata Oji. "Ternyata ketiga agama kita memiliki lebih banyak kesamaan dibandingkan perbedaan."

Sebaliknya, Baskin mengatakan bahwa selama sepekan menetap di Pesantren Peradaban Dunia, dia memiliki rasa hormat baru terhadap muslim.

"Mereka sangat disiplin dan selalu menyempatkan waktu untuk beribadah. Pengalaman ini sungguh transformatif," kata Baskin.

Ryhan menilai, pengalamannya memahami Yahudi dan Islam lebih jauh telah menimbulkan rasa hormat yang besar.

"Saya tidak begitu menyukai kata toleransi, toleransi itu artinya kita tidak suka tapi akan mencoba menahan diri untuk membenci hal tertentu. Jadi pengalaman ini tidak memberi saya toleransi, justru rasa hormat dan cinta yang begitu besar. Saya rasa ini yang diperlukan untuk menopang dialog antaragama," jelas dia.