sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rusia-China luncurkan jaringan pipa gas alam

Penyaluran gas alam melalui pipa yang disebut Power of Siberia tersebut mencerminkan upaya Rusia untuk lebih bertumpu ke Timur.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 03 Des 2019 12:02 WIB
Rusia-China luncurkan jaringan pipa gas alam

Pada Senin (2/12), Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping mengawasi peluncuran jaringan pipa yang akan menyalurkan gas alam dari Siberia ke timur laut Tiongkok. Langkah ini dinilai sebagai dorongan ekonomi dan politik bagi hubungan Moskow-Beijing.

"Ini adalah peristiwa bersejarah, tidak hanya bagi pasar energi global, tetapi juga untuk Rusia dan China," tutur Putin yang menyaksikan peluncuran melalui siaran video langsung dari Sochi.

Penyaluran gas alam melalui pipa yang disebut Power of Siberia tersebut mencerminkan upaya Moskow untuk lebih bertumpu ke Timur demi mengurangi kerugian dari sanksi ekonomi Barat. Sanksi tersebut dijatuhkan sebagai protes atas aneksasi Krimea pada 2014.

"Langkah ini membawa kerja sama energi Rusia-China ke tingkat baru. Peluncuran pipa gas alam tersebut juga mendorong kedua negara lebih dekat meraih target perdagangan bilateral yang telah ditetapkan bersama sebesar US$200 miliar pada 2024," ujar Putin.

Kerja sama itu memperkuat posisi China sebagai pasar ekspor utama Rusia. Peluncuran jaringan pipa gas alam pada Senin datang ketika Moskow juga berencana meluncurkan dua proyek besar energi lainnya, jaringan pipa gas bawah laut Nord Stream 2 ke Jerman serta jaringan pipa TurkStream ke Turki dan Eropa Selatan.

Power of Siberia yang membentang sepanjang 3.000 kilometer akan mengantarkan gas alam dari ladang gas Chayandinskoye dan Kovytka di Siberia timur. Proyek ini diperkirakan akan berjalan selama tiga dekade dan dapat menyumbang US$400 miliar bagi Kremlin.

Jalur pipa itu melewati Heilongjiang, yang berbatasan dengan Rusia, menuju ke Jilin dan Liaoning. Baik Putin maupun Xi menolak untuk merinci harga yang harus dibayar Beijing untuk mendapat gas alam dari Moskow.

Melalui konferensi video, Xi mengatakan kepada Putin bahwa jaringan pipa itu merupakan proyek kerja sama energi yang penting dan contoh integrasi dalam rencana yang saling menguntungkan.

Sponsored

Aliran gas alam melalui pipa tersebut diharapkan dapat naik secara bertahap menjadi 38 miliar meter kubik (bcm) per tahun hingga 2025. Jumlah itu menjadikan China konsumen gas terbesar kedua Rusia setelah Jerman, yang membeli gas 58,50 bcm dari Moskow pada 2018.

Moskow mulai memasok gas alam ke Eropa Barat dan Eropa Tengah pada 1950-an. Eropa telah lama menjadi konsumen utama gas Rusia yang dipasok oleh raksasa energi milik pemerintah, Gazprom. Perusahaan tersebut diperkirakan secara total memasok sekitar 200 bcm per tahunnya.

Persaingan meningkat

Pipa gas alam Rusia akan bersaing dengan pasokan pipa gas lainnya ke China, termasuk dari Turkmenistan, serta gas alam cair (LNG) yang dikirim melalui jalur laut.

"Awalnya, pertumbuhan kebutuhan gas alam China diperkirakan melambat dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, pertumbuhan itu justru tetap kuat, dengan kenaikan 10% year-on-year pada sembilan bulan pertama pada 2019," jelas Jean-Baptiste Dubreuil, analis dari International Energy Agency (IEA).

Rusia-China telah melakukan pembicaraan terkait peningkatan penjualan gas melalui rute lain seperti dari Timur Jauh Rusia dan melalui Mongolia atau Kazakhstan. Namun, hingga kini kedua pihak belum mencapai kesepakatan apa pun.

Dalam satu dekade terakhir, Moskow telah secara dramatis meningkatkan pengiriman minyak ke China, menantang posisi Arab Saudi sebagai pemasok minyak utama bagi Negeri Tirai Bambu.

Untuk mencapai itu, Rusia meluncurkan pipa minyak ke China yang mengirim 600.000 barel per hari. Moskow juga mengirim 200.000 barel per hari ke Beijing melalui pipa minyak yang melintasi Kazakhstan.

Selain minyak dan gas alam, Rusia juga memasok batu bara ke China. Penjualan batu bara ke Tiongkok pada 2018 melebihi 100 juta ton, lebih dari setengah total ekspor batu bara Negeri Beruang Merah.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya