logo alinea.id logo alinea.id

Sempat padam besar-besaran, listrik Venezuela berangsur normal

Para ahli menilai, ke depannya pemadaman listrik yang meluas dapat menjadi sesuatu yang normal yang dialami Venezuela.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 24 Jul 2019 09:37 WIB
Sempat padam besar-besaran, listrik Venezuela berangsur normal

Listrik di Caracas dan sejumlah wilayah Venezuela lainnya berangsur pulih setelah sempat dilanda pemadaman besar-besaran pada Senin (22/7) sore waktu setempat.

Perusahaan listrik negara, Corpoelec, mengatakan pada Selasa (23/7) bahwa sembilan negara bagian masih dalam proses pemulihan listrik. Pemadaman listrik tersebut membuat setengah dari 23 negara bagian di Venezuela dalam kegelapan.

Para ahli menilai, ke depannya pemadaman listrik yang meluas dapat menjadi sesuatu yang normal yang dialami Venezuela.

Menteri Energi Venezuela Freddy Brito pada Selasa (23/7) pagi waktu setempat mengatakan bahwa daya telah dipulihkan di Caracas dan setidaknya lima negara bagian lainnya.

Menurut pemerintah, pemadaman listrik tersebut disebabkan oleh serangan elektromagnetik pada bendungan pembangkit listrik tenaga air yang terletak di wilayah selatan negara itu. Sekitar 80% dari jaringan listrik di Venezuela ditopang oleh tenaga air.

Namun, para analis energi curiga terhadap klaim pemerintah. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa korupsi yang berlangsung selama bertahun-tahun telah mengikis kapasitas energi Venezuela.

"Pemadaman itu terjadi akibat kelalaian operasi jaringan listrik," kata José Aguilar, konsultan energi Venezuela yang berbasis di AS. "Ini akan terus terjadi dan akan memburuk."

Sejumlah analis lainnya mengungkapkan keraguan yang sama. 

Sponsored

"Sulit untuk percaya bahwa itu adalah serangan elektromagnetik ketika Anda telah melihat praktik korupsi selama bertahun-tahun di sektor energi," kata Geoff Ramsey, analis di Washington Office on Latin America (WOLA).

Beberapa pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengklaim bahwa sanksi Amerika Serikat yang ditujukan pada industri minyak Venezuela telah menghambat kemampuan pemerintah untuk menjaga kestabilan listrik. Namun, sebagian besar sanksi yang dijatuhkan Washington itu justru menyasar pejabat-pejabat yang dituduh melakukan korupsi.

Pemadaman listrik nasional serupa yang sebelumnya melanda Venezuela pada Maret membantu mendongkrak dukungan untuk Juan Guaido, pemimpin oposisi yang mendorong gerakan untuk melengserkan Maduro.

Sejak Maduro menjabat pada 2013, Venezuela jatuh dalam krisis politik dan ekonomi yang belum pernah terjadi di Amerika Latin sebelumnya.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), hiperinflasi negara itu diprediksi mencapai 10.000.000% pada tahun ini. Sementara kekurangan bahan makanan dan obat-obatan telah menjadi hal yang biasa. Badan pengungsi PBB, UNHCR, mencatat lebih dari 4 juta orang telah meninggalkan negara itu.

Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pada Januari, tetapi meskipun dia mengandalkan dukungan AS dan puluhan negara Barat lainnya, dia tidak dapat memaksa Maduro melepas kekuasaan.

Pada Selasa pagi di Caracas, Guadio dan para pendukungnya menggelar aksi unjuk rasa yang memprotes pemadaman listrik di Venezuela.

"Pemerintah berusaha menyembunyikan tragedi itu dengan menjatah pasokan listrik di seluruh negeri, tetapi kegagalan mereka terbukti," ungkap Guaido. "Mereka telah menghancurkan sistem dan mereka tidak memiliki solusinya." (The Guardian dan Al Jazeera)