logo alinea.id logo alinea.id

Suara lantang remaja 16 tahun kecam pemimpin dunia

Namanya Greta Thunberg. Usianya baru 16 tahun. Di panggung PBB dia mengecam keras para pemimpin dunia yang lamban menangani perubahan iklim.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 24 Sep 2019 19:27 WIB
Suara lantang remaja 16 tahun kecam pemimpin dunia

Greta Thunberg mengecam para pemimpin dunia atas kelambanan mereka menangani krisis iklim. Hal tersebut disampaikannya saat KTT PBB yang gagal memberikan komitmen baru untuk mengatasi pemanasan global.

Berpidato di New York, Amerika Serikat, pada Senin (23/9), aktivis berusia 16 tahun asal Swedia itu mengatakan bahwa para pemimpin telah mengecewakan kaum muda.

"Saya seharusnya tidak berada di sini. Saya seharusnya berada di sekolah ... Kaum muda mulai menyadari pengkhianatan kalian," tegas Thunberg.

Beberapa hari setelah jutaan anak muda bergabung dalam protes global yang menuntut tindakan darurat terkait perubahan iklim, para pemimpin dunia berkumpul di KTT Iklim PBB yang bertujuan untuk menyuntikkan momentum baru bagi upaya pengekangan emisi karbon.

Thunberg memprediksi KTT itu tidak akan menghasilkan rencana baru untuk secara radikal mengurangi emisi gas rumah kaca.

"Kalian telah mencuri mimpi dan masa kecil saya dengan omong kosong," kata Thunberg. "Generasi muda memperhatikan kalian. Jika kalian memilih untuk mengecawakan kami, kami tidak akan pernah memaafkannya. Kami tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja."

Sponsored

Tidak butuh waktu lama sebelum video pidato Thunberg menjadi viral di sosial media dan dukungan mengalir dari warganet. Salah satunya berasal dari pembuat film yang juga aktivis lingkungan, Jack Harries.

"Kamu menulis sejarah tepat di depan mata kami. Kami bersamamu, Greta," tulis Harries di kolom komentar Instagram Thunberg.

Aktris Hollywood yang namanya melejit berkat serial "Grey's Anatomy", Ellen Pompeo, juga mengapresiasi tindakan Thunberg dengan menulis, "Terima kasih Greta".

Senator asal Australia, Sarah Hanson-Young, memuji tindakan, keberanian dan kejujuran Thunberg.

"Kami membutuhkan ini. Kamu benar, bagaimana bisa kami meninggalkan kekacauan ini untuk dibersihkan oleh anak-anak kami?," tulis dia.

Prediksi Thunberg menjadi kenyataan, KTT Iklim gagal menghasilkan rencana konkret.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyerukan agar seluruh pihak segera bertindak dan mengumumkan rencana untuk meningkatkan energi terbarukan. Tetapi dia tidak menyebut akan menghentikan penggunaan batu bara, tujuan utama KTT yang ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Kanselir Jerman Angela Merkel menetapkan akan mengakhiri penambangan batu bara di negaranya, tetapi mengumumkan itu baru akan terjadi pada 2038.

Sementara itu, China menolak untuk mengusulkan langkah-langkah baru untuk mengatasi krisis iklim.

Presiden Emmanuel Macron menyerukan agar Uni Eropa memperdalam pengurangan emisi dan mengatakan bahwa Prancis tidak akan membuat perjanjian perdagangan dengan negara yang tidak menandatangani Perjanjian Paris 2015.

"Kami tidak dapat membiarkan pemuda kami melakukan aksi unjuk rasa setiap Jumat," kata Macron, merujuk pada aksi unjuk rasa iklim global bertajuk "Fridays for Future" yang umumnya diadakan setiap Jumat.

Macron menyatakan bahwa pihaknya akan memainkan peran dalam mendengarkan suara kaum muda.

"Saya sangat tersentuh oleh emosi di ruangan ketika beberapa anak muda angkat suara. Menurut saya, tidak ada pembuat keputusan politik yang bisa berpura-pura tuli terhadap seruan mereka," tutur Macron.

KTT Iklim PBB dibayangi oleh absennya beberapa kekuatan dunia, terutama AS dan Brasil. Perwakilan Brasil dilaporkan tidak dipilih untuk berbicara di pertemuan itu karena negaranya dianggap gagal membuat rencana yang dapat memperkuat upaya melawan perubahan iklim.

Sementara itu, Donald Trump memang mengunjungi KTT Iklim pada Senin, tetapi dia hanya mampir untuk mendengar pidato PM Modi sebelum bertolak untuk menghadiri pertemuan terkait kebebasan beragama.

KTT Iklim PBB dirancang untuk mempercepat ambisi negara-negara untuk mengatasi krisis iklim global. Menurut analisis PBB, negara-negara perlu meningkatkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca jika ingin memenuhi tujuan dari Perjanjian Paris 2015.

"Ada disonansi besar antara setiap pemimpin yang mengatakan kepada Greta, 'Kami mendengar Anda' dan komitmen yang mereka taruh di atas meja," kata Isabel Cavelier, penasihat senior di Mission 2020.

China, tambahnya, sama sekali tidak mengatakan hal baru dan India hanya mengulangi komitmen lama.

"AS, Kanada dan Australia tidak hadir. Kami melihat pemerintah muncul dengan tangan kosong," ujar dia.

Meski begitu, ada beberapa tanda kemajuan. Hampir 90 perusahaan besar berjanji untuk mencapai nol emisi pada 2050. Sejumlah negara mengatakan akan mengurangi penggunaan batu bara.

Namun, ambisi itu sebagian besar berasal dari negara-negara berkembang, bukan negara yang menjadi pencemar utama.

Direktur Union of Concerned Scientists Alden Meyer memuji pidato Thunberg, menyebutnya sangat emosional dan didasarkan pada ilmu pengetahuan.

"Jika saya adalah pemimpin dunia, saya akan merasa sangat tidak nyaman. Tapi kami belum melihat tindakan apa pun dari para pemimpin nasional besar, para pemain G20," ungkap dia.

Presiden Kepulauan Marshall Hilda Heine mendesak agar negara-negara lain mengikuti jejak negaranya.

"KTT ini harus menjadi momen kita memilih bertahan hidup daripada mementingkan egoisme," kata Heine.

Dia mengatakan bahwa negaranya beserta Selandia Baru, Swedia, Norwegia, Denmark dan sejumlah pihak lainnya berkomitmen untuk mencapai nol emisi gas rumah kaca pada 2050.

Pada Senin, Thunberg beserta 14 anak muda lainnya mengajukan pengaduan resmi di bawah konvensi PBB tentang hak-hak anak.