sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WHO: China rahasiakan data terkait Covid-19

Data tersebut dilaporkan dirahasiakan dari penyelidik WHO yang berangkat ke China untuk meneliti asal-usul pandemik Covid-19.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 31 Mar 2021 16:19 WIB
WHO: China rahasiakan data terkait Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa (30/3) menyatakan, China telah merahasiakan data dari penyelidik asal WHO yang meneliti asal-usul pandemik Covid-19.

Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara Barat lainnya segera menyerukan kepada China untuk memberikan akses penuh seluruh data terkait pandemik pada akhir 2019 kepada para ahli independen dari WHO.

Dalam laporan akhirnya, yang ditulis bersama dengan para ilmuwan asal China, tim yang dipimpin WHO yang menghabiskan empat minggu di dan sekitar Wuhan pada Januari dan Februari mengatakan, virus itu mungkin telah ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain,

Mereka juga menyatakan bahwa kebocoran dari laboratorium sangat tidak mungkin menjadi penyebabnya.

Salah satu penyelidik dari tim telah mengatakan bahwa China menolak memberikan data mentah tentang kasus awal Covid-19 kepada tim yang dipimpin WHO. Hal itu dinilai berpotensi mempersulit upaya untuk memahami bagaimana pandemik global ini dimulai.

"Dalam diskusi saya dengan tim, mereka mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam mengakses data mentah," kata Tedros. "Saya berharap studi kolaboratif di masa mendatang mencakup berbagi data yang lebih tepat waktu dan komprehensif."

Ketidakmampuan misi WHO untuk menyimpulkan di mana atau bagaimana Covid-19 mulai menyebar pada manusia berarti bahwa ketegangan akan terus berlanjut tentang bagaimana pandemik dimulai.

"Studi pakar internasional tentang sumber virus SARS-CoV-2 tertunda secara signifikan dan tidak memiliki akses ke data dan sampel asli yang lengkap," tutur Australia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lituania , Norwegia, Korea, Slovenia, Inggris, Amerika Serikat dan Uni Eropa mengatakan dalam pernyataan bersama.

Sponsored

Meskipun tim menyimpulkan bahwa kebocoran dari laboratorium Wuhan adalah hipotesis yang paling kecil kemungkinannya untuk virus yang menyebabkan Covid-19, Tedros mengatakan bahwa masalah tersebut masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

"Saya tidak percaya bahwa penilaian ini cukup ekstensif," katanya kepada negara-negara anggota dalam pernyataan yang dirilis oleh WHO. "Data dan studi lebih lanjut akan dibutuhkan untuk mencapai kesimpulan yang lebih kuat."

Pemimpin tim WHO Peter Ben Embarek mengatakan dalam jumpa pers, sangat mungkin SARS-CoV-2 beredar pada November atau Oktober 2019 di sekitar Wuhan, dan berpotensi menyebar ke luar negeri lebih awal dari yang telah diketahui selama ini.

"Kami mendapat akses ke cukup banyak data di banyak area berbeda, tetapi tentu saja ada area di mana kami mengalami kesulitan untuk mendapatkan data mentah," katanya.

Embarek menambahkan, studi fase kedua tetap diperlukan.

Dia menyampaikan, tim telah merasakan tekanan politik, termasuk dari luar China, tetapi dia sendiri tidak pernah mendapat tekanan untuk menghapus apa pun dari laporan akhirnya.

Uni Eropa menyebut studi tersebut sebagai langkah pertama yang penting untuk dilakukan dalam upaya memahami asal-usul pandemik Covid-19.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya