sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Alasan menjadi jomlo dan imbas menunda pernikahan

Dalam Statistik Pemuda Indonesia 2019, BPS mencatat tren persentase pemuda yang sudah menikah terus melorot sejak 2014.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 14 Des 2020 06:37 WIB
Alasan menjadi jomlo dan imbas menunda pernikahan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.024.298
Dirawat 149.388
Meninggal 28.855
Sembuh 831.330

Lama menjomlo, akhirnya Selvester Constantine mendapatkan calon istri. Pria lajang berusia 35 tahun itu berkenalan pertama kali dengan Lucia lewat jasa Komunitas Jomblo Katolik (KJK). Selvester lama menjomlo lantaran ingin menemukan pasangan yang seiman.

“Saya ingin menikah di depan altar, jangan sampai pindah agama,” kata pemuda yang tinggal di Karawaci, Tangerang itu saat dihubungi reporter Alinea.id, Minggu (13/12).

Pasangan seagama dan meningkatnya jumlah lajang

Di dalam KJK berhimpun ribuan lajang beragama Katolik. Berdiri sejak 2009, komunitas ini bertujuan mengumpulkan pemuda, laki-laki dan perempuan, yang belum menikah untuk dipertemukan dengan pasangan yang seiman.

Menurut Ketua KJK regional Jakarta, Mega Ruhapi Salata, calon anggota harus berusia antara 23 hingga 50 tahun, belum pernah menikah, dan tentu saja beragama Katolik. Ia mengatakan, anggota KJK mayoritas berusia 28 hingga 33 tahun, lebih dari separuhnya perempuan.

“Pendiri kami ingin menjembatani agar calon member yang seiman dapat saling menemukan, juga agar mereka menghindari pernikahan yang berbeda keyakinan,” ujar perempuan berusia 38 tahun itu saat dihubungi, Jumat (11/12).

“Alasan yang umum kenapa belum menikah, ya selalu dapat yang beda agama.”

Sejumlah pasangan pengantin mendapat arahan dari panitia saat acara Nikah Bareng Agustusan di Universitas Muhammadiyah Magelang, Jawa Tengah, Selasa (6/8/2019)./Foto Antara.

Sponsored

Sementara itu, Komunitas Taaruf Membangun Umat (KTMU) punya visi yang tak jauh berbeda dengan KJK: menghimpun lajang seagama dan mempertemukan jodoh antaranggota komunitas. Komunitas ini didirikan pada 2007.

Menurut humas KTMU, Rizka Wahyu Wulandari, keanggotaan di komunitasnya terbuka bagi lajang berusia 25 hingga 45 tahun, termasuk yang berstatus janda maupun duda. Belakangan, mayoritas anggota berusia 30 tahun ke atas.

Perempuan berusia 36 tahun tersebut mengatakan, KTMU mendampingi lajang muslim mempersiapkan diri membangun rumah tangga. KTMU melandaskan kegiatannya dengan syariat Islam, bertujuan menghindarkan lajang dari potensi maksiat pergaulan bebas.

“Pacaran selama ini umumnya banyak mudaratnya, pergaulan bebas anak muda menjurus ke kriminalitas,” kata dia saat dihubungi, Sabtu (12/12).

“Sementara, meski sudah bertahun-tahun pacaran, bisa terjadi juga perpisahan.”

Para anggota KTMU, sebut Rizka, mayoritas kesulitan mendapat pasangan yang serius karena kesibukan bekerja. Banyak anggota yang mendaftar, dengan harapan dijodohkan.

Dua komunitas itu setidaknya mencerminkan banyaknya pemuda yang menunda menikah. Mereka bergabung demi mencari solusi mendapatkan pasangan hidup yang seagama.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan mendefinisikan pemuda sebagai penduduk Indonesia berusia 16 hingga 30 tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, pada 2019 jumlah pemuda di Indonesia sekitar 64,19 juta jiwa atau 24,01% total penduduk Indonesia.

Jumlah pemuda laki-laki lebih banyak ketimbang pemuda perempuan, dengan rasio jenis kelamin sebesar 103,16. Persentase pemuda di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan, yakni 57,94% berbanding 42,06%. Lebih dari separuh pemuda berdomisili di Pulau Jawa, yakni 55,28%.

Dalam Statistik Pemuda Indonesia 2019, BPS mencatat tren persentase pemuda yang sudah menikah terus melorot sejak 2014. Pada 2014, jumlah pemuda yang menikah sebesar 44,45%. Lalu turun pada 2015, menjadi 42,64%. Jumlah itu merosot terus, hingga pada 2019 menjadi 39,44%.

Sebaliknya, tren persentase pemuda yang belum menikah meningkat sejak 2012 hingga 2019. Pada 2012, pemuda yang belum menikah sebesar 52,88%. Jumlahnya melonjak pada 2019 menjadi 59,17%.

Pada 2019, masih menurut BPS, persentase laki-laki yang belum menikah sebesar 70,86%, sedangkan perempuan yang belum menikah 47,12%. Sementara laki-laki yang berstatus menikah sebesar 28,32%, sedangkan perempuan yang menikah sebesar 50,92%.

“Pada status perkawinan suatu wilayah dapat mencerminkan status sosial ekonomi pendudukanya. Beberapa penelitian menyebutkan, kapan seseorang memutuskan menikah dapat dipengaruhi oleh faktor tuntutan ekonomi, pendidikan, dan budaya,” tulis laporan BPS itu.

Fenomena di negara lain dan dampaknya

Fenomena ini terjadi pula di negara-negara Barat. Dilansir dari Femalefirst, Swedia menjadi negara dengan jumlah pemuda terbanyak yang menjomlo di Eropa. Pemuda di Swedia tak menyukai pernikahan karena perasaan terikat dianggap terlalu membebani. Pernikahan dianggap tidak begitu penting. Pemuda di Swedia lebih memilih tinggal bersama, tanpa terikat status pernikahan.

Di Inggris, nyaris seperempat pasangan memilih untuk menunda menikah. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangannya adalah berusaha memiliki rumah. Mengutip Femalefirst edisi 19 Maret 2020, harga rumah di Inggris dan Wales rata-rata 200.000 poundsterling (setara Rp3,7 miliar). Di London, sebuah rumah bisa mencapai 500.000 poundsterling (setara Rp9,3 miliar).

Rata-rata usia pernikahan di Inggris juga meningkat. Pada 2001, rata-rata usia pernikahan untuk laki-laki 28 tahun, sedangkan perempuan 26 tahun. Namun, pada 2015 rata-rata usia pernikahan untuk laki-laki menjadi 32 tahun, sedangkan perempuan 30 tahun.

Berdasarkan penelitian Cezar Santos dari Escola Brasileira de Economia e Finanças, Brasil dan David Weiss dari Tel Aviv University, Israel berjudul “Why not settle down already? A quantitative analysis of the delay in marriage”, dipublikasikan pada 2015, disebutkan bahwa di Amerika Serikat sejak 40 tahun terakhir (1970-2000) terjadi fenomena penundaan pernikahan.

Pada 1970, hanya 26% pria kulit putih berusia 25 tahun yang tidak menikah. Pada 2000, jumlah itu meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi 57%. Pada 1970, hanya 8% pria berusia 35 tahun yang tidak menikah. Namun, pada 2000 jumlah itu meningkat menjadi 21%.

Sebuah artikel berjudul “Why are millennials putting off marriage? Let me count the ways” di The Washington Post edisi 6 Juni 2016 menyebut, di perkotaan seperti New York dan Washington, angka pemuda yang menunda pernikahan sangat tinggi. Rata-rata usia pernikahan untuk perempuan 27 tahun, sedangkan laki-laki 29 tahun. Alasan yang umum menunda pernikahan, sebut artikel itu, adalah ekonomi, aplikasi kencan, dan perempuan yang menunda melahirkan.

Ilustrasi pernikahan./Ilustrasi Unsplash.

Di Singapura, kecenderungan menunda pernikahan pun terjadi. Dilansir dari The Straits Times edisi 16 Maret 2016 dalam artikel bertajuk “More young people in Singpaore staying single” disebutkan, kecenderungan menunda pernikahan meningkat dalam 15 tahun terakhir.

Pada 2016, lajang berusia 25 hingga 29 tahun di negara itu mencapai lebih dari 70%. Pada 2000, persentase laki-laki yang menunda pernikahan sebesar 64,2%, meningkat menjadi 70,6% pada 2005. Lalu, pada 2010 menjadi 74,6% dan pada 2015 sebesar 80,2%. Sedangkan perempuan yang menunda pernikahan pada 2000 sebesar 40,2%, lalu meningkat menjadi 46,3% pada 2005. Kemudian meningkat lagi menjadi 54% pada 2010 dan 63% pada 2015.

Penundaan pernikahan menyebabkan tingkat kesuburan di negara itu rusak. Menurut sosiolog dari National University of Singapore (NUS) Paulin Straughan, seperti dilansir dari artikel yang sama, alasan menunda pernikahan karena memilih melanjutkan studi dan mengejar karier.

Peneliti di Pusat Kajian Kepemudaan sekaligus sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Derajad Sulistyo Widhyharto memandang, pemuda di Indonesia yang menunda menikah tak lepas dari perubahan zaman. Ia mengatakan, interaksi lewat gawai membuat pemuda—generasi milenial dan Z—semakin individual.

Hal ini berbeda dengan generasi baby bommers, yang lebh mengutamakan kebersamaan atau komunal. Selain itu, bergesernya pola permukiman ke hunian bertingkat seperti apartemen, juga menjadikan pemuda semakin memilih hidup sendiri.

“Kalau dahulu orang yang tinggal di perdesaan, hubungan dengan tetangga di kampung masih lekat satu sama lain. Aspek hidup berkomunitas mulai berkurang, digantikan apartemen,” tuturnya saat dihubungi, Jumat (11/12).

“Pengaruh digitalisasi itu kuat sekali. Seorang menjadi lebih termediasi dengan internet, dia menjadi tidak mau tergantung pada orang lain.”

Akibatnya, generasi milenial dan Z di Indonesia memilih menunda menikah. Padahal, kata dia, pemuda menjadi penanda generasi baru di masyarakat, pencipta kebudayaan, dan subjek pelaku perubahan.

“Meningkatnya pemuda yang menunda pernikahan berdampak perlambatan regenerasi penduduk,” katanya.

Berita Lainnya