sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Aprilia Manganang dan beban penderita hipospadia

Aprilia Manganang dipastikan seorang laki-laki setelah proses pemeriksaan. Ia mengidap hipospadia.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Kamis, 18 Mar 2021 06:00 WIB
Aprilia Manganang dan beban penderita hipospadia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Mantan atlet bola voli putri nasional Aprilia Santini Manganang tengah menjadi sorotan beberapa hari belakangan. Pekan lalu, Aprilia yang kini menjadi anggota korps wanita TNI Angkatan Darat dengan pangkat sersan dua (serda) itu dipastikan berjenis kelamin laki-laki.

Hal itu diungkap Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa dalam keterangan pers di Mabes TNI AD Jakarta Pusat, Selasa (9/3). “Sersan Manganang ini bukan transgender, bukan juga interseks. Tidak masuk dalam kategori itu semua,” kata Andika.

Kepastian tersebut didapat setelah dilakukan pemeriksaan medis pada 3 Februari 2021 di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Sebelumnya, banyak yang meragukan identitas gender Aprilia karena fisiknya yang menyerupai laki-laki.

Pada 2011, dalam ajang Liga Bola Voli Indonesia (Livoli), tim PGN Popsivo Polwan—yang akhirnya menjadi klub Aprilia pada 2019—menolak bertanding melawan Aiko Bandung yang diperkuat Aprilia karena hasil tes gendernya belum keluar.

Yang sempat heboh, pada ajang SEA Games 2015 di Singapura, tim voli Filipina yang kalah 3-0 dari Indonesia meragukan identitas gender Aprilia. Mereka sempat mengajukan protes ke komite penyelenggara SEA Games 2015, meminta Aprilia dilakukan tes.

Namun, sudut pandang berbeda datang dari mantan atlet voli putri, Berllian Marsheilla. Baginya, pertolongan Aprilia saat kompetisi voli Proliga 2019 mungkin sulit dilupakan. Ketika itu, Berllian dan Aprilia membela PGN Popsivo Polwan. Di tengah pertandingan, Berllian terkapar kesakitan karena cedera. Datangnya tandu yang telat, membuat Aprilia sigap membopong Berllian ke tepi lapangan.

Pada 13 Maret 2021, Berllian mengunggah video di YouTube untuk mengklarifikasi segala perundungan yang menyasar April di media sosial.

“April termasuk orang yang sangat sopan sekali. Mungkin dia tahu, seseorang yang beda dengan kita. April selalu memisahkan diri kalau ganti baju. Kalau pun bareng-bareng, dia selalu balik badan atau buru-buru ganti baju dan keluar (ruangan),” kata Berllian dalam kanal YouTube Berllian Marsheilla.

Sponsored

Aprilia yang terkenal dengan pukulan-pukulan kerasnya itu, kata Berllian, juga tidak tahu persis jati dirinya. Berllian mengaku, ada yang berbeda dengan Aprilia dibandingkan rekan-rekannya sesama atlet bola voli putri.

“April tidak menstruasi. Dia pernah nanya, ‘kak, kalau suntik hormon perempuan, bisa enggak ya April menstruasi?’” ujar Berllian yang pernah membela klub bola voli yang sama dengan Aprilia sejak 2015-2020 itu.

Erna Karnah Sukarta, sebelah kiri ketika menikah dengan Wastum, diambil pada 1970. Sebelah kanan ketika menjadi Iwan, dan menikah dengan Tuty pada 1981./Foto Kompas, 19 Februari 1982.

Kisah Karnah

Kasus serupa pernah dialami seorang atlet lempar lembing putri nasional era 1950-an dan 1960-an, Erna Karnah Sukarta. Sama halnya seperti Aprilia yang punya segudang prestasi—membawa Jakarta Elektrik PLN juara Proliga 2015, 2016, 2017, dan PGN Popsivo Polwan pada 2019, serta meraih medali perak SEA Games 2017 dan perunggu SEA Games 2013 dan 2015—Karnah bukan atlet sembarangan.

Lahir pada 1940 di Ciamis, Jawa Barat, Karnah menarik perhatian saat kejuaraan atletik se-Jawa Barat pada 1950-an. Ketika itu, ia mendapat medali emas pada cabang lempar lembing, dengan lemparan sejauh 36 meter lebih.

“Raihan 36 meter itu bukan saja membawanya masuk kontingen Jawa Barat ke PON Makassar 1957, tetapi juga merupakan catatan baru rekor nasional,” tulis Kompas, 19 Februari 1982.

DI PON Makassar, lagi-lagi Karnah unjuk gigi. Ia mencatat rekor nasional, dengan lemparan lembing sejauh 42,85 meter. Berkat prestasi itu, ia kemudian dikirim mengikuti Asian Games III di Tokyo, Jepang pada 1958. Di ajang ini, ia mendapat medali perunggu dengan lemparan sejauh 45, 03 meter.

“Medali perunggu Karnah ini merupakan satu dari 6 medai serupa yang direbut kontingen Indonesia. Karena keberhasilan itu, Karnah disanjung di mana-mana. Di kabupatennya, Ciamis, ia dianggap sebagai pahlawan, sama dengan Rudy Hartono untuk bulu tangkis pada dekade 1970-an,” tulis Kompas.

Gender Karnah diragukan pada 1960. Ketika itu, ia gagal terjun ke gelanggang Olimpiade Roma 1960. Ada perubahan peraturan dalam kejuaraan internasional atletik. Seorang atlet harus lulus dalam tes kelamin, sebelum ikut perlombaan. Ia tidak lolos dalam tes itu.

“Diakui Karnah, ia gagal memenuhi tes kelamin sebagai seorang wanita alias ia lebih banyak memiliki hormon laki-laki daripada perempuan,” tulis Kompas.

Namun, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) memilih bungkam dan cari aman. Mereka tak pernah mau menjelaskan apa alasan Karnah gagal berangkat ke Roma.

Pada 1981, Karnah mulai menyadari identitas gendernya. Menurut pengakuannya, kelaminnya berubah secara alamiah usai ia ziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Ia mengatakan, bermimpi mendaki sebuah gunung sebagai seorang lelaki berambut pendek.

“Beberapa waktu kemudian, mimpi itu menjadi kenyataan, fisik saya berubah dan saya menjadi seorang laki-laki,” kata Karnah kepada Kompas, 19 Februari 1982.

Pada November 1981, ia menikah dengan seorang perempuan dan mengganti namanya menjadi Iwan Setiawan. Akan tetapi, pernikahannya itu terancam dibatalkan karena keabsahannya diragunakan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjar, Ciamis, Jawa Barat.

Keraguan itu berangkat dari catatan status Iwan alias Karnah di tahun-tahun sebelumnya, yang merupakan seorang perempuan dan sudah pernah menikah sebanyak tiga kali dengan pria. "Pertama menjadi istri Juharna, kedua Sukarya, dan ketiga kalinya dengan Wastum Gandaatmadja," tulis Kompas edisi 22 Februari 1982.

Aprilia Mangangan (tengah) saat membela PGN Popsivo Polwan dalam Proliga 2019./Foto Instagram pgn_popsivo_polwan

Butuh perhatian dan penanganan

Kondisi Karnah di zaman baheula tentu berbeda dengan Aprilia kini. Di masa Karnah barangkali teknologi medis tak secanggih sekarang. Sehingga, ia yakin perubahan kelaminnya hanya karena berziarah dan lewat mimpi.

Apa yang dialami Karnah dan Aprilia adalah kasus medis, yang disebut hipospadia. Menurut guru besar urologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) sekaligus dokter urologi di Mitra Keluarga Surabaya, Doddy Moesbadianto Soebadi, hipospadia merupakan kelainan penis semenjak lahir, yang tak diketahui sejak awal.

Ia menjelaskan, tempat keluar saluran kencing tidak ada di ujung penis, tetapi di dekat ujung, di tengah-tengah, atau dekat testis. “Sehingga gagal diidentifikasi dan celakannya langsung disimpulkan berjenis kelamin perempuan,” kata Doddy saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (15/3).

Menurut riset yang ditulis Gede Wirya Kusuma Duarsa dan kawan-kawan berjudul “Common Practice of Hypospadias Management by Pediatric Urologists in Indonesia: A Multi-center Descriptive Study from Referral Hospitals”, periode Juli-September 2018 ada 591 kasus hipospadia yang ditangani sejumlah rumah sakit di Indonesia.

Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan paling banyak menangani pasien hipospadia, dengan jumlah 119 kasus. Diikuti Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali dengan 83 kasus. Prevalensi hipospadia sekitar satu berbanding 250 atau 300 kelahiran anak laki-laki.

Doddy melanjutkan, terkadang memang agak sulit mengidentifikasi jenis kelamin bayi baru lahir. Karena bisa saja penis bayi terlalu kecil, bahkan tak terlihat.

“Selain itu, kadang-kadang bentuk testisnya juga tidak seperti normal atau agak terpisah. Jadi, seperti kemaluan wanita,” ujarnya.

Kendati demikian, Doddy mengaku, kelainan hipospadia belum diketahui penyebabnya hingga kini. Kondisi ini, kata dia, sama halnya tatkala seseorang terlahir bertubuh pendek. Lazimnya, kelainan hipospadia baru terungkap bila seseorang sudah beranjak remaja. Sebab, biasanya di fase remaja, seseorang mengalami perubahan secara fisik dan psikis.

“Kalau orang tua tidak memperhatikan ya tidak ada yang tahu ini kelainan apa enggak,” ucapnya.

Doddy mengingatkan, seharusnya kasus Aprilia menjadi pelajaran bagi orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anaknya. Sebab, kata Doddy, si anak tidak sadar atau tidak berani mengungkapkannya.

“Jadi, kalau ketahuan, ada baiknya orang tua segera membawa ke dokter, agar bisa dikontrol atau ditangani,” tutur dokter yang pernah belajar urologi di Rijksuniversiteit Groningen, Belanda ini.

Dihubungi terpisah, psikolog klinis Arum Sukma Kinasih mengatakan, orang-orang dengan kondisi hipospadia mengalami kepuasan dan kualitas hidup yang kurang optimal. Arum menuturkan, perlu dilihat secara luas kasus hipospadia dari tingkatannya.

“Apakah ringan hingga berat, rentang usia, perkembangan psikososial, kondisi ekonomi, treatment medis yang sudah diberikan,” kata dia saat dihubungi, Rabu (17/3).

Lebih lanjut, Arum menjelaskan, bagi orang yang mengalami hipospadia akan muncul risiko kondisi psikososial, seperti bingung dengan identitas diri dan peran gender sebagai laki-laki, rasa kepercayaan dirinya terganggu, emosionalnya bermasalah, trauma kalau dioperasi di atas usia 18 bulan, gangguan perilaku, dan problem kepuasan seksual.

“Jika orang tersebut belum mendapat treatment yang tepat secara medis, belum berhasil mengatasi tantangan psikologis dalam dirinya,” ujar Arum.

Infografik hipospadia. Alinea.id/Bagus Priyo.

Di samping itu, segala risiko tadi muncul kalau orang yang mengalami hipospadia tidak mendapat dukungan dari lingkungan dan belum mendapat bantuan psikososial. “Penting bagi kita semua melihat kasus hipospadia secara utuh,” katanya.

Arum mengingatkan, penderita hipospadia memerlukan dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar untuk memahami kondisinya secara detail.

“Ini sangat berbeda dari transgender atau transeksual,” tuturnya.

“Perlu memberi fasilitas dukungan dan pendampingan secara medis dan psikologis yang tepat.”

Setelah mereka meniup peluit...

Setelah mereka meniup peluit...

Kamis, 22 Apr 2021 16:48 WIB
Memutus belenggu generasi sandwich

Memutus belenggu generasi sandwich

Kamis, 22 Apr 2021 14:25 WIB
Berita Lainnya