sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Asih: Menonton kuntilanak menapak tanah

Asih merupakan spin-off dari film Danur: I can see Ghost (2016) dan Danur: Maddah (2018).

Rakhmad Hidayatulloh Permana
Rakhmad Hidayatulloh Permana Sabtu, 20 Okt 2018 09:15 WIB
Asih: Menonton kuntilanak menapak tanah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Usai sukses menggarap film Danur: I can see Ghost (2016) dan Danur: Maddah (2018), Awi Suryadi rupanya masih percaya diri untuk membuat spin-off Danur. Masih di tahun yang sama dengan Danur: Maddah, film Asih dirilis awal Oktober ini.

Serupa dengan dua film sebelumnya, Asih diadaptasi dari novel karya Risa Saraswati. Kisah yang diangkat tentang sosok kuntilanak bernama Asih (Shareefa Daanish).

Kisahnya diawali dengan latar belakang Asih ketika masih hidup. Asih, yang memiliki nama asli Kasih, dikisahkan hamil, tanpa ada yang mengaku sebagai suaminya. Dia lalu diusir oleh orang tua dan warga. Tak tahan menahan malu, dia kemudian bunuh diri memakai sisir rambut, usai terlebih dahulu membunuh bayinya sendiri.

Asih meregang nyawa, dan jadi arwah penasaran.

Fokus cerita beralih ke kehidupan rumah tangga Andi (Darius Sinatrya) dan Puspita (Citra Kirana). Lantaran ada sejumlah pamali (pantangan) yang dilanggar pasangan ini, Asih yang sudah menjadi kuntilanak berusaha memburu bayi Andi dan Puspita.

Pantangan yang dilanggar, antara lain abai mengubur ari-ari setelah anak mereka lahir hingga membiarkan bayi mereka ada di luar rumah ketika magrib.

Salah satu adegan dalam film Asih. (www.instagram.com/danurmovie).

Sponsored

Beberapa hal yang mengganggu

Ada beberapa hal yang mengganggu saya selama menonton Asih. Pertama, saat Asih memandikan bayinya, sebelum dia bunuh diri.

Dalam adegan ini, gambar diambil close up untuk memunculkan nuansa kelam di wajah Asih yang putus asa. Sayangnya, yang muncul justru perasaan risih, karena gambarnya jadi buram.

Lalu, gangguannya malah membuat saya tergelak, karena adegannya janggal. Adegan itu ada saat Asih mulai meneror keluarga Andi dan Puspita, dengan masuk ke dalam rumah mereka. Nah, lucunya, Asih meninggalkan jejak kaki bekas lumpur di lantai rumah. Asih sepertinya seperti mendobrak anggapan umum, jika kuntilanak itu tidak mengawang, tapi berjalan.

Awi juga sepertinya ingin meniru salah satu adegan dalam film Pengabdi Setan (2017) arahan Joko Anwar. Dalam Pengabdi Setan, Rini (Tara Basro) diteror hantu yang tiba-tiba masuk ke dalam mukena. Adegan ini menarik, karena biasanya hantu takut mengganggu orang yang sedang salat.

Barangkali, Awi meniru adegan tersebut dengan memunculkan Asih yang tengah mengucap amin, setelah ibu Puspita melakukan salat. Tapi, jatuhnya jadi terlihat lucu.

Ada pula adegan yang menurut saya agak berlebihan, dengan memanfaatkan scoring khas film horor. Puspita hanya mematikan televisi, tapi suaranya mencekam sekali. Padahal, tak ada hantu keluar sama sekali.

Selanjutnya, latar tempat film ini adalah tanah Sunda. Namun, hampir 20 menit film memutar, saya tak mendengar satu pun ujaran dalam bahasa Sunda. Ujaran bahasa Sunda, seperti imbuhan kata teh, baru saya dengar setelah 20 menit film berlangsung. Itu pun keluarnya dari mulut pemain yang logatnya terdengar sangat Jawa, bukan Sunda.

Terakhir, yang dialog dalam film ini formal sekali, terkesan kaku. Cara berakting beberapa pemainnya juga terkesan canggung.

Namun, terlepas dari segala kelemahannya, bolehlah film Asih ini jadi alternatif kamu untuk nonton bioskop di akhir pekan.

 

2

Cara akting para pemainnya kurang meyakinkan.

 

Berita Lainnya