close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi seorang janda dengan dua anak./Foto Mohamed_hassan/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi seorang janda dengan dua anak./Foto Mohamed_hassan/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Jumat, 22 Desember 2023 16:05

Betapa serba salah menjadi seorang janda

Kerap ada stigma bagi perempuan yang menyandang status janda.
swipe

Sebelum penyanyi kondang Bunga Citra Lestari menikah dengan Tiko Aryawardhana di Bali pada Selasa (2/12), warganet riuh mengomentari keputusan itu. Selain komentar positif, ada pula cibiran. Warganet ada yang menyinggung soal janji setia kepada almarhum suaminya, Ashraf Sinclair, yang wafat pada 18 Februari 2020.

Bunga juga dianggap warganet salah memilih Tiko sebagai suaminya, dengan alasan pekerjaan dan perceraian duda tiga anak itu. Gaji Tiko sebagai pekerja bank dianggap tak sepadan dengan Bunga, yang penyanyi terkenal.

Stigma menyandang status janda pun dialami penyanyi Dewi Perssik. Pada November lalu, ia dicibir warganet karena menjadi janda hingga tiga kali.

Menurut founder komunitas #SaveJanda Mutiara Malika Proehoeman, sebagian besar perempuan yang menjadi janda memang mendapat label negatif. Padahal, ujar Mutiara, sebesar 80% perempuan berstatus janda yang ada di komunitas yang didirikannya bersama Asep Suaji, Tya Subiakto, dan Ully Tohir itu adalah penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Pada saat mereka memutuskan jadi janda, diceraikan atau menceraikan diri, itu mereka dianggap gagal sebagai seorang perempuan untuk mempertahankan pernikahan,” ujar Mutiara kepada Alinea.id, Kamis (21/12).

“Mereka dianggap bukan sebagai istri yang baik ataupun ibu yang baik.”

Lalu, ketika mereka memutuskan menjadi janda, banyak kecaman, termasuk dari keluarga sendiri. Selain itu, stigma pada seorang janda, disebut Mutiara, di antaranya dianggap pengganggu suami orang dan dianggap “gatel”. Celakanya, saat mereka memutuskan menikah kembali, yang mendapat cibiran bukan calon suaminya.

“Kenapa? Karena dianggap pasti nanti bakal gagal lagi. Atau (cibiran seperti) ‘kenapa sih buru-buru mau nikah?’ Ujung-ujungnya adalah objektifikasi seksual, dalam arti ‘oh ini pasti janda gatelan nih, makanya enggak tahan lama-lama’,” tutur Mutiara.

Cibiran lainnya, terkait dengan ekonomi. Janda yang memutuskan menikah lagi, dianggap hanya mencari sumber uang dari calon suaminya. Namun, ia menyebut, cibiran hanya sebagai bentuk gunung es.

“Padahal banyak sekali masalah yang terjadi di balik stigma dan label negatif janda,” kata dia.

Menjadi seorang janda, serba salah jika menikah lagi. Bagi seorang janda yang punya ekonomi mapan dan karier baik, menikah dengan pria yang profesinya biasa saja, maka bakal dicap hanya mencari teman tidur.

“Janda yang tidak punya keuangan yang baik, menikah kembali dengan laki-laki berprofesi yang baik, juga akan dibilang ‘wih hebat ya, kamu janda bisa dapet calon suami, misalnya dokter’,” ujarnya.

“Jadi seakan-akan janda itu warga kelas tiga di dunia.”

Terpisah, komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Bahrul Fuad menjelaskan, adanya stigma janda di sebagian masyarakat bisa dilihat dari dua teori, yakni interaksi simbolik dan gender.

Teori interaksi simbolik, menurutnya, ada bentuk-bentuk atribusi perempuan di masyarakat. Sementara teori gender lebih melihat konstruksi sosial kalau perempuan selama ini dipandang sebagai individu yang lemah dan tunduk pada laki-laki.

“Nah, maka perempuan yang tidak memiliki pasangan, baik itu (suaminya) meninggal maupun cerai, dianggap sebagai perempuan yang lemah, perempuan yang gagal,” kata Bahrul, Rabu (20/12).

“Jadi, stigmanya itu dilekatkan pada perempuannya, bukan laki-lakinya.”

Apalagi di dalam masyarakat ada semacam norma yang masih menganggap kalau keluarga ideal itu terdiri dari pasangan suami-istri dan anak. Maka, ketika salah satu pasangan tak ada atau keluarga tak lengkap, dianggap tidak normal.

“Ketidaknormalan itu dipandang sesuatu yang negatif,” tutur dia. “Karena itu, kalau ada perempuan menjanda, selalu dilekatkan dengan hal-hal yang negatif.”

Stigma itu, kata Bahrul, kemudian juga berdampak pada diskriminasi seorang janda di masyarakat. Misalnya, kerap mengalami kekerasan verbal.

“Dikatain, digunjing, bahkan kalau mereka ada di media sosial, cenderung menjadi objek pelecehan seksual nonfisik,” tutur Bahrul.

Di sisi lain, disebut Bahrul, masyarakat kita yang patriarki dan misoginis menyebabkan semua relasi antara laki-laki dan perempuan selalu dikonotasikan dengan seksualitas. Padahal, relasi antara laki-laki dan perempuan tidak melulu sosal seksualitas.

“Relasi antara laki-laki dan perempuan itu juga hubungannya adalah untuk saling melengkapi di dalam menjalankan kehidupan, saling melengkapi di dalam mencapai visi dan misi kehidupan,” ujar Bahrul.

“Jadi, saya pikir bukan hanya soal seks, tapi juga soal impian bersama.”

Selaiknya, budaya patriarki membuat seorang duda tak mengalami stigma. Mereka justru mendapat persepsi yang positif. “Misalnya, (ada istilah) duren (alias) duda keren. Tapi kalau janda, selalu dilekatkan dengan stereotipe negatif, misalkan janda muda atau janda binal,” katanya.

Bagi Bahrul, stigma terkait seorang janda harus dihapus dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat tentang perempuan. Ia mengatakan, seorang janda yang memilih menikah lagi atau tidak adalah pilihannya sendiri. Keputusan menikah lagi atau tidak, menurut Bahrul, sama bagusnya.

Di samping itu, menurut Bahrul, agar stigma hilang, perempuan harus punya kapasitas yang lebih baik. Misalkan berkarier dan punya perilaku yang baik.

“Nah, saya pikir itu yang bisa mengubah persepsi sedikit demi sedikit tentang stigma negatif pada janda,” tutur Bahrul.

Sementara itu, Mutiara mengatakan, tak akan bisa mengontrol masyarakat berpikir negatif tentang janda. Selama masih ada budaya patriarki, cibiran terhadap janda akan selalu ada. Akan tetapi, seorang perempuan yang menjanda bisa membuktikan mereka tak seperti apa yang dipikirkan.

“Caranya adalah dengan berdaya. Itu cuma kunci satu-satunya,” ucap Mutiara.

Berdaya yang dimaksud Mutiara, antara lain berdaya dari pikiran, finansial, dan pendidikan. “Kita buktikan saja, kita bisa berdaya,” katanya.

img
Rizky Fadilah
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan