close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi boikot./Foto geralt/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi boikot./Foto geralt/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Kamis, 16 Mei 2024 19:30

Blockout: Eksekusi guillotine selebritas di media sosial

Gerakan boikot selebritas yang dinilai bungkam terhadap isu kemanusiaan di Palestina menggema di media sosial. Seberapa efektif?
swipe

Awal Mei 2024, muncul kampanye daring yang menyerukan pengguna media sosial untuk memblokir selebritas yang bungkam tentang genosida yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Kampanye ini masif setelah sejumlah selebritas dan influencer dunia menghadiri Met Gala 2024—acara fesyen guna penggalangan dana tahunan untuk Costume Institute di The Metropolitan Museum of Art, New York, Amerika Serikat—pada 6 Mei 2024.

Saat itu, bertepatan dengan serangkaian serangan Israel ke Kota Rafah, tempat banyak warga Palestina melarikan diri usai kehancuran di bagian utara Gaza. Di TikTok dan Instagram, menggema seruan untuk memblokir atau unfollow selebritas dan influencer yang hadir di acara Met Gala 2024 karena dianggap tak punya sikap serta empati.

Dikutip dari Time, kampanye daring ini berkembang pesat setelah seorang influencer, Haley Kalil, mendapat reaksi keras usai mengunggah video di TikTok pada 6 Mei 2024 yang menampilkan acara Met Gala dan lip-sync suara dari karakter utama film Marie Antoinette (2006), yang berkata, “Qu’ils mangent de la brioche” atau “biarkan mereka memakan kue.”

Pernyataan yang keluar dari Ratu Prancis Marie Antoinette itu, dalam kehidupan nyata disebut-sebut sebagai respons saat ia mengetahui para petani di Prancis abad ke-18 kelaparan dan tak punya roti lagi. Bermakna olok-olok pada kemiskinan dan kesengsaraan. Video yang diunggah Kalil itu pun memicu kemarahan.

Lalu, akun TikTok @ladyfromtheoutside memulai gerakan Blockout. “Sudah waktunya untuk memblokir semua selebritas, influencer, dan sosialita kaya yang tidak menggunakan sumber daya mereka untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan,” katanya, seperti dikutip dari Time.

Akun tersebut memberi nama kampanye daring tadi guillotine digital. Guillotine sendiri adalah alat eksekusi penggal kepala yang digunakan saat Revolusi Prancis. Dikenal pula dengan sebutan Blockout. Tak lama, muncul banyak akun di media sosial yang pro-boikot selebritas yang bungkam terhadap isu perang di Palestina, dengan nama akun yang serupa: Blockout. Daftar selebritas yang menjadi sasaran, antara lain Taylor Swift, Beyonce, Kim Kardashian, dan sebagainya.

Salah satu akun Instagram yang mengkampanyekan boikot selebritas yang bungkam terhadap isu kemanusiaan di Palestina adalah @blockout.idn. Menurut pengelola akun itu—yang identitasnya minta disembunyikan—mereka tertarik ikut gerakan tersebut karena sifatnya global dan diinisiasi aktivis internasional.

“Jujur, jika gerakan ini diinisiasi atau bersifat lokal, kami tidak akan tertarik karena biasanya tidak akan berkelanjutan dan dampak yang dihasilkan tidak akan signifikan,” ujar pengelola akun @blockout.idn kepada Alinea.id, Rabu (15/5).

Ia mengatakan, gerakan Blockout sudah menjadi bagian dari gerakan boycott, divestment and sanctions (BDS)—kampanye global yang menekan Israel dari segi ekonomi dan politik agar mau mengakhiri pendudukan terhadap tanah Palestina, kesetaraan hak warga Arab-Palestina di Israel, dan menghormati hak pulang pengungsi Palestina.

“Bahkan, ini selangkah lebih maju. Jika sebelumnya, kita hanya boikot produk dan produsennya, sekarang orang yang mempromosikannya, bahkan orang yang tidak pernah mempromosikan, tetapi diam dan menutup mata dari tragedi kejahatan kemanusiaan ini pun kita boikot,” ujar dia.

Efektif atau tidaknya kampanye boikot pesohor ini, katanya, tergantung kekompakan warganet. Sebab, gerakan tersebut tergantung dari aksi bersama warganet. Namun, ia merasa ragu dengan warganet Indonesia. Ada beberapa faktor yang mendasari keraguan itu.

“Netizen kita, mohon maaf saya katakan, budaya literasinya kurang sekali, sehingga mayoritas masih tidak memahami apa itu Blockout 2024,” ujarnya.

“Padahal, kami sudah beri edukasi dengan video dan tulisan, tapi masih juga kurang paham.”

Kemudian, ia menyebut, warganet Indonesia lebih senang menyerang di kolom komentar dan berdebat, alih-alih memblokir. Padahal, tindakan itu malah menaikkan engagement sang target.

Meski begitu, jika gerakan ini bisa menjadi sebuah tren baru yang berkelanjutan, ia optimis pelan-pelan akan muncul kesadaran untuk turut serta dalam gerakan. Terutama bila situasi di Gaza semakin memburuk. Ia melihat, gerakan Blockout mulai menimbulkan dampak lantaran beberapa selebritas besar di luar negeri ada yang sudah mulai membicarakan sedikit tentang situasi di Palestina.

“Itu salah satu dampak yang kami harapkan, berupa kesadaran dari para artis, influencer, dan lain-lain yang mana mereka punya kemampuan untuk mengarahkan narasi yang beredar di masyarakat, tentang pentingnya menjalin dan membangun rasa kemanusiaan yang bersifat universal,” tutur dia.

“Dan yang paling utama, genosida ini tidak akan berlanjut tanpa sokongan dana yang kuat (salah satunya) bersumber dari bisnis konglomerasi milik Zionis, yang dipromosikan para artis tersebut.”

Terpisah, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan Sujono mengungkapkan, Blockout bakal menjadi sebuah gerakan yang cukup efektif. Publik, kata dia, ikut arus dan ajakan gerakan massal berbasis media sosial lantaran terpengaruh jumlah yang banyak mengajak untuk memboikot atau menghentikan memberi dukungan.

“Harapannya, hal ini akan menular juga,” kata Firman saat dihubungi, Rabu (15/5).

Alasan menyasar selebritas, menurut Firman, karena mereka punya basis pendukung atau fan yang besar. Maka, mereka dituntut untuk menyuarakan pendapatnya tentang Palestina. Sebab, pemerintah Israel sudah tak peduli dengan imbauan dari publik, ilmuwan, bahkan kepala negara.

Firman berujar, Blockout bisa dikatakan mengadaptasi gerakan yang berbasis pendukung di media sosial. Ia mencontohkan Arab Spring pada 2010 yang bisa menumbangkan hingga 16 kepala pemerintahan di Timur Tengah, yang berawal dari gerakan di Twitter.

Contoh lainnya, penggemar K-pop di media sosial yang ramai-ramai membuat kampanye politik Donald Trump di Amerika Serikat pada 2020 sepi. Mereka membeli tiket pidato untuk pencalonan kepresidenan Trump yang ke-2, tetapi tak datang ketika acara berlangsung. Karena ulah fan K-pop itu, akhirnya pidato Trump hanya dihadiri 6.000-an orang, dengan ruangan yang cukup kosong.

“Kemudian kekuatan-kekuatan ini sering dipakai, lalu berkembang ke cancel culture,” ujar Firman.

“Ini kan tekanan yang digunakan oleh para pengguna media sosial untuk mencapai tujuan tertentu.”

Menurut Firman, jika pubik yang ikut gerakan Blockout lewat media sosial paham apa yang diperjuangkan, maka gerakan itu bakal kuat. Namun, perlu dicatat, yang ikut gerakan Blockout yang muncul di beberapa negara, dengan versi masing-masing, dan mengeluarkan daftar selebritas di masing-masing negara, kata Firman, apakah benar-benar ingin memperjuangkan warga Palestina atau hanya ikut-ikutan sebagai gaya hidup.

“Demikian dengan pendukungnya, ngerti beneran atau sekadar ikut kerumunan? Nah, kalau hanya ikut kerumunan saja, itu tidak akan ada tekanannya,” ucap Firman.

Selain itu, ia menduga, nama selebritas yang terdaftar sebagai sasaran boikot memang benar-benar tak punya pendapat soal isu Palestina. “Contohnya, saya tidak pernah posting atau tidak pernah ngomong soal Palestina, kan bukan berarti saya itu mendukung Israel atau tidak peduli dengan penderitaan (rakyat) Palestina,” kata dia.

“Bisa saja saya mempunyai perjuangan lain, seperti diam-diam menyumbang untuk Palestina.”

Karenanya, Firman mengingatkan, ketika mendukung gerakan boikot harus dievaluasi, tepat sasaran atau tidak. “Ini bukan berarti saya mengkritik teman-teman yang sedang menjalankan gerakan moral, tetapi gerakan moral ini memerlukan rasionalitas,” ujar Firman.

“Intinya, saya tidak melarang gerakan boikot, tetapi kita sebagai masyarakat juga harus mempertimbangkan segala aspek.”

Terlepas dari itu, Firman menuturkan, bila hasilnya memuaskan seperti Arab Spring dan kampanye Trump, bisa saja gerakan Blockout menjadi tren baru.

“Konsep selectivism dan digital activism itu kan berangkat dari kekuatan pengguna media sosial yang bersuara bersama untuk menekan pihak tertentu dan manjur,” tutur Firman.

img
Stephanus Aria
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan