close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Karya Tyo Pakusadewo bertajul Blueser. Alinea.id/Annisa Saumi.
icon caption
Karya Tyo Pakusadewo bertajul Blueser. Alinea.id/Annisa Saumi.
Sosial dan Gaya Hidup
Minggu, 08 September 2019 02:05

‘Bukan Satu Garis’: Ekspresi adalah kebebasan memilih

Iwan Fals, Kaka Slank, Tony Q Rastafara, Sudjiwo Tejo, Tyo Pakusadewo, Amien Kamil, dan Fauzan Moosad menggelar pameran lukisan.
swipe

Iwan Fals, Kaka Slank, Tony Q Rastafara, Sudjiwo Tejo, Tyo Pakusadewo, Amien Kamil, dan Fauzan Moosad menggelar pameran lukisan bertajuk “Bukan Satu Garis” di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Kurator pameran, Tommy F. Awuy mengatakan ”Bukan Satu Garis” hendak mempersembahkan alasan yang sangat mendasar jika ekspresi adalah sebuah kemerdekaan memilih. Sejarah seni rupa, lanjut Tommy, khususnya lukisan telah tampil dengan berbagai jenis dan model garis dalam beragam wujud aliran.

Penyanyi Iwan Fals dalam pameran ini menampilkan empat buah karyanya yang bergaya abstrak atau nonfiguratif. Tommy melihat, Iwan Fals mencoba membidik kompleksitas realitas yang penuh ritmik, fleksibel, dan amat gemerlap lewat karyanya.

Karya-karya lukisan di pameran Bukan Satu Garis. Alinea.id/Annisa Saumi.

"Ruang dan waktu tampak demikian dinamis dan tak mudah untuk menangkap asal dan akhir dari segala yang ada. Tapi terbesitlah di sana bahwa bagaimanapun kita harus menerobos seberapa pun adanya yang kita dapat," tulis Tommy dalam keterangannya yang diterima Alinea.id, Sabtu (7/9).

Sementara budayawan Sudjiwo Tejo menampilkan enam buah karya dalam pameran ini. Tak seperti Iwan Fals yang bermain di gaya abstrak, Sudjiwo Tejo menaruh pesan-pesan tertulis dalam lukisannya.

Lalu penyanyi reggae Tony Q menampilkan beberapa figur besar kemanusiaan, seperti Nelson Mandela dan Abdurrahman Wahid dalam pameran ini.

Tommy melihat karya Tony Q ingin menyampaikan pesan seolah tak ada kondisi yang mudah dan mulus untuk mewujudkan keinginan, kecuali dengan berjuang terus menerus. Tommy melanjutkan, garis tak pernah istirahat lama dalam sebuah perhentian.

Aktor Tyo Pakusadewo di pameran ini menggores keriangan dalam dunia hiburan. Tommy mengatakan, Tyo menciptakan ruang rekayasa yang penuh gelak tawa, candaan, warna-warni dan bunyi yang membikin kita terhentak-hentak dan melompat gesit. Di sana pun kita terbuai dengan irama malam seiring dengan dentingan-detingan toss.

Beberapa karya di pameran Bukan Satu Garis. Alinea.id/Annisa Saumi.

Kemudian, seniman Amien Kamil bergelut dengan garis-garis yang mengajak kita menuju ke ruang-ruang kreasi. Di salah satu karyanya yang ditampilkan, “Yellow Philosopher”, Amien menggambar sebuah figur yang akan mengingatkan pengunjung pada sosok filsuf Prancis, Jean Paul Sartre.

Sementara perupa Fauzan Moosad menciptakan ruang dengan garis-garis bergerak linier, sebagaimana biasanya kita melihat gaya realisme dengan jiwa di baliknya.

Lebih lanjut, Tommy mengatakan ”Bukan Satu Garis” tak lain merupakan ekspresi dari kondisi kaotik dengan berbagai kemungkinan yang tersedia. Garis adalah penemuan manusia dari pelajaran hidupnya yang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Pameran ini diselenggarakan dari 6 hingga 20 September 2019.

img
Annisa Saumi
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan