logo alinea.id logo alinea.id

Coba MRT Jakarta, keren seperti di Singapura

Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga Jakarta diuji coba untuk umum secara gratis. Caranya bagaimana?

Sukirno
Sukirno Senin, 18 Mar 2019 20:16 WIB
Coba MRT Jakarta, keren seperti di Singapura

Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga Jakarta diuji coba untuk umum secara gratis. Masyarakat antusias untuk mencoba transportasi massal paling anyar di Ibu Kota itu, termasuk saya.

Untuk mencoba MRT Ratangga, saya melakukan registrasi melalui website www.ayocobamrtj.com dan melakukan pendaftaran reguler. Dari laman itu, selanjutnya dialihkan ke e-commerce Bukalapak.

Setelah mengisi identitas, transaksi selesai dengan pembayaran nol rupiah. Kemudian, tiket uji coba MRT Ratangga dikirimkan melalui surat elektronik alias e-mail.

Tiket itu dapat digunakan oleh dua orang, yakni pemilik akun dan satu orang lainnya dengan menunjukkan kartu identitas. Di dalam tiket, sudah disebutkan jadwal dan stasiun sesuai pilihan. 

Sebagai informasi, uji coba dilakukan 12-24 Maret 2019. Waktu uji coba dibatasi setiap hari yakni pukul 08.00-10.00 WIB, 10.00-12.00 WIB, 12.00-14.00 WIB, dan 14.00-16.00 WIB, dengan batas pemindaian tiket pukul 15.30 WIB.

Interior Stasiun MRT Setiabudi. / Alinea.id-Sukirno

Saya mencoba MRT Ratangga melalui Stasiun Bundaran HI pada Senin (18/3), pukul 14.00 WIB. Suasana di trotoar tak begitu ramai dan memang masih terasa di Jakarta.

Ketika memasuki Stasiun Bundaran HI, eskalator langsung menyambut. Ada tiga pilihan untuk turun menuju stasiun, yakni anak tangga, eskalator, dan lift bagi disabilitas serta orang lanjut usia.

Sponsored

Ruangan di dalam Stasiun Bundaran HI mengingatkan saya kepada sejumlah stasiun MRT di Singapura dan Malaysia. Kagum, tentu saja. Akhirnya, Indonesia memiliki MRT yang dibutuhkan masyarakat, seperti negara tetangga.

Di lower ground, petugas meminta untuk menunjukkan bukti tiket elektronik untuk kemudian dipindai. Kode batang (barcode scan) akan diganti dengan stiker uji coba MRT Ratangga. 

Kemudian, penumpang akan diarahkan turun lagi menuju lantai peron. Di peron yang terbilang luas itu penumpang akan menunggu MRT diberangkatkan.

Kesan saya terhadap Stasiun MRT Bundaran HI adalah megah dan mewah. Meski belum ada gerai-gerai makanan dan minuman, namun sudah tampak iklan dari sejumlah produk.

Berhubung saya menaiki MRT Ratangga dari stasiun paling ujung, maka penumpang tak begitu banyak. Tak sedikit masyarakat yang terus merekam momen-momen menaiki MRT Ratangga dari kamera ponselnya.

Interior MRT Ratangga. Alinea.id/Sukirno

Interior MRT juga tak begitu jauh berbeda dengan KRT Commuterline. Hanya memang tampak lebih mewah dengan minim layar-layar iklan. 

Di dalam MRT, tampak kursi-kursi berwarna biru telur asin, lorong-lorong yang cukup luas, kursi khusus difabel, hingga papan informasi digital di atas pintu yang menunjukkan MRT sedang berada di stasiun mana. Namun, di atas kursi penumpang, tidak terdapat rak khusus untuk menyimpan barang.

MRT melaju dengan mulus tanpa berisik. Suhu udara juga diset cukup sejuk 21 derajat celcius. Laju MRT di bawah tanah cukup cepat dan terus melewati stasiun-stasiun dengan jeda berhenti hanya benar-benar 30 detik.

Sampai di Stasiun Lebak Bulus, benar-benar tepat waktu cukup 30 menit. Penumpang kemudian diarahkan ke peron berlawanan jika ingin kembali ke Stasiun Bundaran HI.

Tarif MRT Ratangga jika tidak disubsidi mencapai Rp25.000-Rp30.000 dari Bundaran HI-Lebak Bulus. Namun, jika disubsidi, tarif rencanya akan berkisar Rp8.500-Rp10.000 per 10 kilometer.

Meski sejumlah petugas masih melakukan pemasangan tanda dan finishing, secara keseluruhan sudah siap untuk dinikmati oleh masyarakat. Saya pun kembali ke Stasiun Bundaran HI dengan senyum bangga. Akhirnya, Indonesia punya MRT!