logo alinea.id logo alinea.id

Dilan 1991: Film laku, tak perhatikan detail

Film Dilan 1991 berpotensi menjadi film laris di Indonesia. Namun, sayangnya ada sejumlah hal yang janggal.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 01 Mar 2019 22:09 WIB
Dilan 1991: Film laku, tak perhatikan detail

Film Dilan 1991 adalah sekuel dari Dilan 1990 yang tayang pada 2018 lalu. Sama seperti film pendahulunya, Dilan 1991 diangkat dari novel pupuler karya Pidi Baiq berjudul Dilan bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991.

Dilan 1991 pun mencatat jumlah penonton yang fantastis. Di hari perdana penayangannya pada 28 Februari 2019, penontonnya menembus angka 800.000. Film ini potensial menjadi film laris di Indonesia, mengulang kesuksesan Dilan 1990.

Dilan 1991 melanjutkan kisah antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Priscilla) yang telah menjadi sepasang kekasih. Film ini dibuka dengan narasi dari Milea yang tinggal di Jakarta pada 2018. Ingatan Milea pun kembali dibawa ke tahun 1990, dengan peralihan adegan antara Dilan dan Milea yang berboncengan di tengah hujan.

“Cita-cita kamu apa?” tanya Dilan pada Milea yang duduk di jok belakang motor.

“Pilot. Kamu?” tanya Milea pada Dilan.

“Menikah sama kamu,” jawab Dilan.

Di tengah kebahagiaan mereka, Dilan terancam dikeluarkan dari sekolah karena terlibat perkelahian dengan Anhar. Selain berkelahi dengan Anhar, Dilan bersama geng motornya juga semakin sering terlibat perkelahian di luar sekolah.

Milea yang telah menjadi pacar Dilan merasa berhak untuk melarang Dilan tawuran dan berhenti dari geng motor. Larangan Milea tak dihiraukan Dilan, hingga akhirnya Milea mengancam akan mengakhiri hubungan mereka.

Sponsored

Di tengah-tengah konflik tersebut, muncul Yugo (Jerome Kurnia), yang berperan sebagai sepupu jauh Milea. Yugo baru saja tiba di Indonesia setelah tujuh tahun tinggal di Belgia. Yugo sering menghabiskan waktu dengan Milea selama di Bandung, dan membuatnya tertarik dengan Milea.

Sama seperti film perdananya, film yang disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini juga masih tetap menghadirkan gombalan-gombalan manis yang keluar dari mulut Dilan. Dilan juga tetap hadir sebagai sosok percaya diri di film ini, dan dengan gaya berpacaran tak biasa. Sama seperti ketika ia melakukan pendekatan dengan cara tak biasa ke Milea di Dilan 1990.

Saat baru berpacaran saja misalnya, Dilan membawa belasan teman geng motornya ke rumah Milea. Di rumah Milea, Dilan mengumumkan dirinya telah berpacaran dengan Milea pada 22 Desember 1990, yang disambut dengan jabatan tangan dan ucapan selamat dari anggota geng motornya.

Tak seperti film sebelumnya, konflik di film ini fokus pada hubungan Dilan dan Milea yang naik-turun. Teknik struktur cerita tiga babak, dengan bagian setup, konfrontasi, dan resolusi pun dihadirkan di film ini. Konfrontasi antara Dilan dan Milea terjadi nyaris sepanjang adegan film.

Pengulangan

Film ini diangkat dari novel laris karya Pidi Baiq. (Youtube).

Dilan 1991 mengambil formula yang sama dengan film-film bergenre romantis lainnya. Film Ada Apa dengan Cinta (2002) misalnya, sama-sama menghadirkan kisah romantis dan menyedot perhatian remaja pada 2002.

Tokoh Dilan dan Rangga (Nicholas Saputra) juga identik, sama-sama menyukai puisi dan mampu membuat Milea dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) menyukai mereka. Meski begitu, Dilan dan Rangga punya karakter jauh berbeda.

Dilan di dalam filmnya digambarkan sebagai remaja bad boy yang melabrak banyak aturan dan begitu percaya diri. Sementara Rangga merupakan sosok misterius dan dingin, yang kerap menjauh dari keramaian dan hura-hura.

Selain Ada Apa dengan Cinta (2002), ide tentang anak geng motor yang menaklukkan hati perempuan mirip dengan film Ali Topan Anak Jalanan (1977).

Sama seperti Dilan, Ali Topan (Junaedi Salat) juga merupakan anggota geng motor dengan sosok yang nakal. Ali Topan juga terpikat oleh murid baru bernama Anna Karenina (Yati Octavia), sama seperti Dilan yang terpikat oleh Milea yang menjadi siswa baru. Bedanya, Ali Topan besar dengan keluarga disfungsional, sementara Dilan diceritakan tumbuh dengan keluarga harmonis.

Kejanggalan

Sama seperti Dilan 1990, film Dilan 1991 masih mengisahkan hubungan asmara antara Dilan dan Milea. (Youtube).

Film Dilan 1991 berlatar Kota Bandung pada 1991. Detail yang dihadirkan film ini, mulai dari gaya berpakaian, mobil dan sepeda motor yang berseliweran, hingga uang kertas yang digunakan, sesuai detail pada 1991.

Namun, ada pemandangan yang membuat agak mengganggu, ketika penempatan produk maupun logo iklan di film ini tak ditempatkan secara halus. Di film Dilan 1991, iklan produk Simpati Loop muncul di film ini.

Iklan produk tersebut tertempel di dinding, saat adegan keluarga Milea dan sepupu jauhnya tengah makan di sebuah pusat perbelanjaan. Padahal, produk itu baru diluncurkan pada 2014. Tentu saja penempatan iklan produk itu tampak janggal ketika hadir di film berlatar tahun 1991.

Dilansir dari Tabloid Bintang Indonesia nomor 784, Mei 2006, penempatan produk mulai sering muncul di film-film Indonesia sejak film Tusuk Jailangkung (2001). Alih-alih untuk menambah pendapatan studio film, penempatannya perlu diperhatikan dengan baik.

"Jangan sampai mengganggu kenikmatan orang menyimak cerita film. Begitu orang tersadar kalau ada product placement (penempatan produk), hal tersebut sudah salah,” kata sutradara Joko Anwar, seperti dikutip dari Tabloid Bintang Indonesia.

Sementara untuk detail geng motor sendiri, film Dilan 1991 memang tidak menampilkan adegan kekerasan geng motor. Akan tetapi, saat menyimak film ini, barangkali penonton “mencari” keonaran apa saja yang dilakukan oleh geng motor, seperti tawuran dan pengeroyokan, yang tak pernah hadir di Dilan 1991.

Dikutip dari artikel “Dari Berkonvoi sampai Membantai” di Majalah Tempo edisi 23 April 2012, geng motor tumbuh dan berkembang di berbagai kota besar hingga kampung-kampung sejak 1970.

Di Kota Bandung sendiri, anggota geng motor cukup sadis, tak seperti yang terdapat dalam cerita Dilan 1991. Dari laporan Majalah Tempo tersebut, ada empat geng motor yang cukup ditakuti di Kota Kembang, yakni XTC, Brigez, Moonraker, dan GBR.

Sejak 1980-an, jika ada tawuran, pengeroyokan, penculikan, pencurian, atau penusukan di Kota Bandung, geng motor akan selalu muncul dan terseret pada konflik tersebut.

starstarstarstarstar3

Penempatan produk iklan yang tak halus dan tak tepat, menjadi salah satu kelemahan film ini.