Dimenna Luwu, repertoar kerinduan pada tanah leluhur

Dimenna Luwu berhasil mengatasi kendala jarak yang memisahkan kreator dan para pemain.

Dimenna Luwu, repertoar kerinduan pada tanah leluhur Pertunjukkan Dimenna Luwu di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (25/7). (Muh AR/Alinea)

Empat penari tegak bersusun menghadap ke kanan sambil menampi beras. Gerakan mereka berlangsung lamban, diiringi irama musik yang menghanyutkan suasana. 

Kemudian gerak itu terhenti sesaat. Tiga baris penari dari ujung kanan dengan posisi berurutan, yang berjongkok, duduk dan tegak, ditaruhkan tempayan beras ke atas kepala mereka.     

Ini mungkin menjadi adegan yang paling orisinal dan membekas di benak penonton dari ciptaan Jamal Gentayangan, sutradara seni pertunjukan bertajuk Dimenna Luwu (Kerinduan pada Tanah Luwu). 

Berdurasi 60 menit, Dimenna Luwu diangkat ke pentas dalam rangkaian pertunjukan Post-Festival Institut Kesenian Jakarta di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (25/7).

Repertoar ini amat rancak dipergelarkan oleh Ikbal Lagaligo, Husni Utami, Putri Kaddiraja, dan para seniman dari Komunitas Budaya Sugi Performing Arts, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. 

"Karya ini terinspirasi dari bagaimana kerinduan pada kampung halaman, tatakrama, kebudayaan, tanah yang indah, dan alami," kata Jamal, sesaat jelang panggung dibuka, kepada Alinea.

Ia mengaku saat dua tahun lalu mampir ke Luwu, ia merasa itu sebagai negeri elok yang terlupakan. Terbersit dari rasa yang diserapnya dari persinggahan itu, Jamal memadukan pertunjukan menyanyi, menari, irama musik etnik, senirupa, dan tata busana yang disebut seni pertunjukan.

"Bagaimana bunyi merespons gerak, gerak merespons kata-kata atau teks, dan kesatupaduan antara itu semua," cetus dosen Pascasarjana IKJ ini.

Proses kreatif yang lumayan menantang bagi sutradara, ialah mengatasi kendala jarak dengan para pemain, sebab dia tinggal di Jakarta, sementara para pemain menetap di Palopo. Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana ia mengembangkan karya multikultural, di mana imaji-imaji sebagai manusia menjadi sederhana.

Pertunjukan ini disebut Jamal berangkat dari tarian tradisional yang legendaris dari Luwu, yakni Tari Pajaga.

Jamal mempersiapkan pertunjukan ini dengan mengatasi dua cobaan, yaitu waktu yang mepet hanya selama satu bulan dan pendekatan emosionalnya terhadap para pemain. Apalagi dari basis yang ditekuni dirinya selama ini sebagai seniman kontemporer, memberi kesulitan tersendiri ketika dia berupaya menampilkan seni tradisional.

Tak lupa pula terselip unsur tradisi ditampilkan dalam bentuk seni sastra, yang diambil dari Sureq La Galigo, manuskrip sastra terpanjang di dunia, yang dibacakan pada bagian awal dan di akhir pertunjukan.

"Selayaknya tradisi tidak dianggap sepele karena di dalamnya terdapat norma budaya dan etika berbicara, misalnya, yang membuat tradisi menjadi tiang penopang negeri ini," tutur Jamal. 

Sardono W Kusumo, direktur Post-Fest yang juga pernah menjabat Rektor IKJ, mengatakan dirinya pernah singgah ke Luwu pada dasawarsa 70'an. Di sana dirinya takjub atas gerak tarian yang dipertunjukkan kepada dia oleh keluarga istana. "Di alam yang keras ternyata dapat ditemukan gerak tari yang penuh kelembutan," demikian tanggapan empu tari asal Solo ini, usai pertunjukan. 

Hanya saja, ada satu yang mengganjal dalam pertunjukan tersebut. Tata lampu di Teater Kecil, malam itu, terasa cukup mengganggu karena luput ditutup sehingga menyilaukan mata para penyaksi pertunjukan ini. 


Berita Terkait