sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Epidemiologi: Vaksinasi harus didukung dengan penerapan prokes

Vaksin tidak menggantikan protokol kesehatan, tetapi berjalan bersama.

Firda Junita
Firda Junita Kamis, 14 Jan 2021 15:25 WIB
 Epidemiologi: Vaksinasi harus didukung dengan penerapan prokes
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Hariadi Wibisono mengatakan, proses vaksinasi perdana yang disiarkan secara langsung merupakan cara baik untuk meyakinkan masyarakat akan keamanan vaksin yang digunakan. 

“Ini adalah momen yang sangat penting untuk meyakinkan masyarakat, bahwa pemerintah tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai mudharat ke masyarakat. Dengan menerima vaksin Covid-19 lebih dulu, para pemimpin kita telah memberikan contoh yang baik. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut dan ragu untuk melakukan vaksinasi,” ungkapnya, yang dikutip Kamis (14/1). 

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menjamin keamanan vaksin Covid-19 produksi Sinovac yang digunakan di tahap pertama program vaksinasi di Indonesia, dengan mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

BPOM juga telah mengumumkan hasil efikasi berdasarkan uji klinik fase 3 di Indonesia yang mencapai 65,3%. Angka efikasi ini lebih tinggi dari ketentuan WHO yang menetapkan syarat minimal efikasi vaksin Covid-19 sebesar 50%. 

Isu efikasi erat kaitannya dengan seroconversion. Seroconversion itu adalah seberapa jauh tubuh mampu bereaksi terhadap vaksin. Seroconversion bukan ditentukan oleh kualitas vaksin, tetapi oleh kondisi tubuh seseorang. Ada orang-orang yang tubuhnya tidak mampu membentuk antibodi, sehingga sebagus apapun vaksin yang diberikan tidak akan berpengaruh terhadap tubuh mereka.

Faktor kualitas rantai dingin (cold chain), yaitu sejak vaksin tersebut keluar dari pabrik hingga saat akan disuntikkan, juga akan menentukan baik-tidaknya kualitas vaksin.

“Pengawasan rantai dingin yang baik juga akan mempengaruhi kualitas vaksin. Vaksin Covid-19 dari Sinovac yang kita gunakan saat ini dibuat dengan metode inactivated virus. Indonesia telah memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam membuat dan mengelola vaksin dengan model seperti itu. Dari sisi produksi, saya yakin produsen kita sudah siap dan berpengalaman,” papar dia.

Sedangkan dari sisi distribusi, infrastruktur juga sudah siap karena suhu penyimpanan vaksin harus dijaga di 2-8 derajat celsius. Puskesmas dan dinas kesehatan provinsi sudah mempunyai rantai dingin itu tadi, yaitu lemari es, freezer dan alat lainnya yang mampu menjaga suhu di 2-8 derajat celsius sehingga tidak perlu investasi tambahan.

Sponsored

Sebagai upaya bersama membebaskan masyarakat Indonesia dari pandemi, Hariadi menekankan program vaksinasi bertahap ini membutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk tenaga kesehatan yang menjadi kelompok pertama divaksinasi.

“Saya mengajak seluruh masyarakat, terutama para tenaga kesehatan untuk ikut divaksinasi. Karena vaksinasi ini tidak hanya melindungi diri kita, tetapi juga keluarga dan lingkungan, serta masyarakat luas. Percayalah pemerintah pasti sudah memilih yang terbaik untuk kita. Jangan sampai kita menjadi sumber penularan virus Covid-19, tetapi jadilah pemutus rantai penularan tersebut,” pesan Hariadi. 

Selain itu, masyarakat juga diminta tetap menjaga 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Karena menurutnya, penyelesaian masalah pandemi ini tidak hanya dengan vaksin saja, namun tetap harus didukung dengan penerapan protokol kesehatan. Vaksin tidak menggantikan protokol kesehatan, tetapi berjalan bersama.

Pemerintah Indonesia telah melaksanakan proses perdana dari program vaksinasi bertahap dengan Presiden Joko Widodo, sebagai orang pertama di Indonesia yang mendapat suntikan vaksin Sinovac pada Rabu, 13 Januari 2021 pukul 09:42 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat. 
Menyusul Presiden Joko Widodo, sejumlah pejabat negara dan tokoh masyarakat juga turut serta menerima vaksin, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham Azis, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, dan Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin.

Berita Lainnya