close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pemutaran film Samudra Loka,  menjadi salah satu rangkaian acara Pekan Literasi Maritim yang sudah dilaksanakan mulai dari 16 September hingga 23 September. Foto tangkapan layar
icon caption
Pemutaran film Samudra Loka, menjadi salah satu rangkaian acara Pekan Literasi Maritim yang sudah dilaksanakan mulai dari 16 September hingga 23 September. Foto tangkapan layar
Sosial dan Gaya Hidup
Senin, 20 September 2021 17:44

Film Samudra Loka, upaya tingkatkan literasi maritim

Film ini dibuat sebagai salah satu sumber untuk membuat publik menjadi terliterasi mengenai maritim.
swipe

Dalam merayakan hari Maritim Nasional ke-57, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bersama dengan Kementerian Kementerian Kelautan dan Perikanan menggelar resensi film “Samudra Loka” secara virtual pada Minggu (19/9).

Acara ini menjadi salah satu rangkaian acara Pekan Literasi Maritim yang sudah dilaksanakan mulai dari 16 September hingga 23 September.

“Berbicara tentang kemaritiman dan hari ini sebenarnya melalui resensi film ini adalah salah satu bentuk bagaimana kita membicarakan mengenai sumber daya kelautan atau kemaritiman melalui suatu karya intelektual film, oleh karena itu tentu saja resensi film ini yang tujuannya kita dorong untuk mengubah suatu karya intelektual dalam bentuk apresiasi terhadap karya seni,” ujar kepala Biro Komunikasi Kemenko Marves Andreas Dipi Patria dalam sambutannya, yang dikutip dari laman Maritim.go.id.

Andreas berharap, kegiatan ini bisa memberikan pemahaman yang komprehensif atas maksud dan tujuan film ini dibuat. Terutama, sebagai salah satu sumber untuk membuat publik menjadi terliterasi mengenai maritim, dan mengenal hal-hal yang tidak diketahui mengenai aspek-aspek penting di Bidang Kemaritiman. 

“Semoga film ini menjadi contoh di kementerian, institusi, lembaga lainnya, bagaimana film yang kemudian dikemas dengan konteks kekinian dengan menggunakan peran anak-anak muda dan juga menceritakan kondisi keseharian yang ada pada saat ini sehingga pesan-pesan itu tidak membosankan,” ucapnya.

Sekretaris Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Hendra Yusran Siry, pun menceritakan maksud dari film Samudra Loka.

“Film ini merupakan bagian atau rangkaian dari kegiatan yang kami lakukan dalam pemulihan ekonomi nasional. Di dalam kegiatan ini, kami ingin mencoba menyampaikan pesan bahwa ada masyarakat yang terdampak dengan pandemi,” ungkap Sesditjen Hendra.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya ingin memberikan gambaran tentang bagaimana pemerintah berupaya mengembalikan kondisi perekonomian Bali yang terpuruk selama pandemi.

“Kita bersama dengan Kemenko Marves melakukan kegiatan pemulihan ekonomi nasional dengan sistem padat karya jadi yang terdampak itu mereka yang biasanya bekerja di sektor pariwisata,” tutupnya.

Melanjuti pernyataan dari Hendra, Sutradara Samudra Loka Alif Steve, menyampaikan harapan untuk generasi milenial. 

“Harapan saya, film ini untuk generasi muda tentang knowledge kemaritiman itu sendiri, karena generasi muda sekarang belum paham dengan kemaritiman, melalui metode komunikasi film ini kita coba sampaikan agar lebih tersentuh,” kata dia.

Bisa dikatakan film “Samudra Loka” sendiri sangat kental dengan budaya Bali. Bahkan para pemain film “Samudra Loka” merupakan orang-orang lokal Bali. Mulai dari cara berbicara hingga detail logat berbicara pun sangat kental. Film ini akan sangat cocok untuk kamu yang menyukai dan pecinta keindahan alam, terutama keindahan alam bawah laut. Terlebih dapat dikatakan jika Bali menjadi salah satu tempat destinasi wisata alam, dengan keindahan pantai dan lautnya.

Samudra Loka merupakan film/series singkat, dengan total sembilan episode. Berlatarkan kehidupan di Bali, saat masa pandemi. Film yang kaya akan cinematography keindahan alam Bali ini, mengisahkan seorang perempuan bernama Ayu. Ayu yang merupakan sarjana kelautan sangat menyukai menyelam dan juga melakukan kegiatan pelestarian terumbu karang dan laut. 

Namun keinginannya tersebut ditentang oleh keluarganya. Ibu Ayu, menginginkan Ayu untuk bekerja sebagai pegawai pabrik, untuk bisa membantu ekonomi keluarga mereka. Terlebih kondisi Laras (adik ayu) yang sedang sakit dan memerlukan biaya untuk pengobatan. Selain itu ada pula kenangan masa lalu yang berkaitan dengan tidak diperbolehkannya Ayu untuk menjadi penyelam. 

Kendati demikian, Ayu tetap berusaha untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya dan juga bisa membantu biaya pengobatan Laras.Hingga akhirnya Ayu memutuskan untuk mengikuti Program Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) yang digunakan oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan. Program tersebut bisa membantu Ayu dan keluarganya, terutama dalam memenuhi perekonomian mereka. 

Lalu bagaimana kelanjutan cerita Ayu dan keluarganya? 

Kamu dapat menyaksikan Film “Samudra Loka” di beberapa layanan streaming seperti Maxstream, Neptune Tv dan juga Youtube Kementerian Kelautan dan Perikanan.

img
Clarissa Ethania
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan