logo alinea.id logo alinea.id

Gelar sang maestro untuk Remy Sylado

Bertepatan dengan ulang tahun Remy Sylado, diadakan pameran sejumlah karya seninya.

 Alfiansyah Ramdhani
Alfiansyah Ramdhani Sabtu, 13 Jul 2019 16:00 WIB
Gelar sang maestro untuk Remy Sylado

Indonesia beruntung punya budayawan yang komplet seperti Remy Sylado. Remy yang mahir bermusik, berlakon dalam teater dan menulis sejumlah karya sastra dan esai budaya pun pandai melukis. 

Maka tidak berlebihan apabila Balai Budaya Jakarta menobatkan Remy Sylado sebagai maestro. Penobatan diberikan lewat pameran karya seni sang seniman yang diadakan pada tanggal 11 juli - 19 juli 2019 dengan judul Maestro Remy Sylado.

Gelar maestro diberikan Balai Budaya Jakarta atas dasar prestasi yang ditorehkan baik di dalam maupun luar negeri. 

Penulis novel Malaikat Lereng Tidar mendapatkan penghargaan antara lain: sebagai Aktor Terpuji di Festival Film Bandung dalam film bintang idola pada 2014. Kemudian, Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2005, Achmad Bakrie Award di bidang sastra dari Freedom Institute pada 2013.

SEA Writer Award dari Kerajaan Thailand, penghargaan kepeloporan di bidang media sebagai Tokoh Penulisan Musik dan Puisi di Media dari Panitia Pusat Hari Pers Nasional yang diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Ir H Joko Widodo pada 2018.

Selain prestasi, kesetiaan dan sikap pria bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong dalam membangun dunia kreativitas juga tokoh pendobrak dalam kesenian menjadi alasan dihelatnya pameran ini. 

Ketua Balai Budaya Jakarta Syahnagra Ismail memuji Remy punya keunikan dengan sejumlah pandangannya yang khasnya dalam menyikapi masalah-masalah kebudayaan. 

Lukisan-lukisan Remy dipajang pada tembok Balai Budaya Jakarta punya tafsir soal nurani. Pemandangan tak biasa terlihat saat dipajang lukisan yang menggambarkan potret manusia termasuk tokoh-tokoh negara seperti: mantan Presiden Soekarno dan soeharto.

Sponsored

Uniknya lukisan kedua mantan presiden tersebut diberi motif bunga-bunga dengan judul Bunga Bangsa dan Bunga Bangsa 2.

Selain lukisan, ruang pameran memajang karya tulisan dan musik Remy mulai dari: esai kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, sajak, roman populer, buku musikologi, dramaturgi, bahasa hingga teologi. 

Salah satu yang dipamerkan, adalah puisi Mbeling yang ia pantik bersama Jeihan dan Abdul Hadi WM. pada tahun 1971. Puisi Mbeling saat itu dijadikan untuk mematahkan pandangan estetika puisi yang saat zaman orde baru, bahasa puisi dipilih dan diatur sesuai dengan gaya bahasa yang saat itu kaku. 

Dalam riwayat jurnalistiknya, Remy memulainya sebagai wartawan harian sinar harapan (1963-1965). Kemudian menjadi redaktur pelaksana harian Tempo di Semarang (1965-1966). Lalu menjadi redaktur dalam rubrik puisi Mbeling di majalah Aktuil (1972-1975).

Pameran yang juga sebagai perayaan ulang tahun Remy yang genap berusia 74 tahun ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas.  

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Rabu, 17 Jul 2019 20:50 WIB
Jalan sunyi seorang perias jenazah

Jalan sunyi seorang perias jenazah

Selasa, 16 Jul 2019 18:23 WIB