sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Gundala dan Godam, superhero yang mati usai proyek Orba

Gundala dan Godam mewarnai hari-hari remaja penggemar komik pada 1970-an.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Minggu, 13 Okt 2019 07:56 WIB
Gundala dan Godam, superhero yang mati usai proyek Orba

Commercial General Manager, BumiLangit Entertainment Corporate Andy Wijaya mengenang masa-masa populernya komik Gundala karya Harya Suraminata atau lebih dikenal dengan nama Hasmi, dan Godam karya Widodo Noor Slamet atau lebih dikenal dengan nama Wid NS. Komik Gundala dan Godam mewarnai hari-hari remaja pada 1970-an hingga awal 1980-an.

“Dulu itu harganya Rp150, saya sisihkan uang saku. Kalau terbeli, rasanya bungah,” kata Andy dalam diskusi “50 Tahun Gundala dan Godam” di Dia.Lo.Gue, Kemang Selatan, Jakarta, Sabtu (12/10).

Menurut Andy, uang Rp150 itu bisa membeli satu bundel komik Gundala dan Godam yang selalu dinanti-nanti terbitnya.

Personifikasi diri dan kekhasan

Lebih lanjut, Andy mengatakan, ada sesuatu yang khas dari komik karya Hasmi dan Wid NS, dua orang komikus yang dikenal sebagai sobat kental yang kerap bertukar ide. Kekhasan itu adalah munculnya personifikasi diri masing-masing di dalam komiknya.

Di dalam komik Gundala, ada karakter Nemo yang merupakan personifikasi diri Hasmi. Sementara di komik Godam, ada Nur Slamet yang diambil dari nama tengah dan belakang Wid NS.

"Mereka ingin menjadi bagian dari apa yang mereka ciptakan, meskipun menjadi tokoh yang dibodoh-bodohi. Namun, personifikasi itu memiliki fan yang tak kalah banyak juga," ujarnya.

Andy Wijaya dan Sungging dalam diskusi tentang Gundala dan Godam di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (12/10). Alinea.id/Nanda Aria.

Sponsored

Dalam diskusi yang sama, anak Wid NS, Fajar Sungging mengatakan, karakter Nur Slamet dan Nemo merupakan citra diri dari dua komikus yang memang komikal. Ia menuturkan, Wid NS dan Hasmi acap kali melemparkan canda saat bersama.

Menurut Sungging, mereka juga menemukan ide dari sebuah keisengan belaka. Misalnya, ketika melihat ada acara hajatan pernikahan, mereka mengarang soal proses pernikahan.

"Misalnya mengarang bahwa perkawinannya terjadi karena paksaan atau karena ‘kecelakaan’. Dan, ketika sampai di rumah, sudah jadi cerita utuh," ujarnya.

Sungging mengatakan, dalam Gundala dan Godam, baik Wid NS maupun Hasmi menggambarkan karakter personifikasi diri mereka layaknya tokoh-tokoh dalam pewayangan.

"Tokoh personifikasi mereka memainkan peran seperti Petruk dan Gareng di dunia wayang," tuturnya.

Kecewa karena Orba

Sayangnya, kejayaan komik Gundala dan Godam harus pudar pada awal 1980-an, usai Wid NS dan Hasmi menyatakan berhenti menggarap lagi komik superhero Indonesia itu. Gundala berakhir di komik terakhir berjudul Surat dari Akherat pada 1982. Padahal pada 1981 film Gundala Putra Petir dirilis.

Menurut Andy, pertengahan 1980-an memang penanda berakhirnya kejayaan komik Indonesia. Bukan hanya dialami Gundala dan Godam.

"Pertengahan 1980-an komik kita dihantam kehadiran video film seri. Komik mulai menurun," ucapnya.

Selain itu, ada rasa kecewa Wid NS dan Hasmi terhadap pemerintah Orde Baru, setelah proyek komik pesanan yang digarap mereka bersama dua kolega lainnya, tak dibayar sesuai perjanjian. Padahal, modal awal yang harus mereka keluarkan untuk menggarap proyek tersebut tak sedikit.

"Mereka sampai jual mobil temannya agar bisa jalan proyeknya," tutur Andy.

Proyek komik pesanan tersebut berjudul Merebut Kota Perjuangan. Komik ini merupakan sebuah politik pencitraan Soeharto.

Proyek komik ini bertujuan memoles citra Soeharto yang mulai menurun pada 1980-an, didorong krisis minyak Indonesia dan defisit perekonomian. Komik itu menonjolkan peran Soeharto dalam merebut kembali Kota Yogyakarta dari Belanda, dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret.

"Tapi sayang, pembayarannya tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Setelah proyeknya jadi, bayarannya hanya Rp32 juta. Dan dikasih uang muka setengahnya Rp16 juta. Tapi, yang setengahnya lagi enggak dibayar," ucap Andy.

Padahal, prediksi awal mereka akan dapat antara Rp200 juta hingga Rp300 juta.

"Sejak itu Pak Hasmi sudah enggak mau lagi bikin komik. Akibatnya, kami sudah enggak bisa lihat lagi," katanya.