sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Lagu religi islami tak pernah mati

Momentum Ramadan biasanya dimanfaatkan penyanyi dan grup musik merilis album religi islami.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Sabtu, 16 Apr 2022 16:47 WIB
Lagu religi islami tak pernah mati

Bagi Oky Anggraeny, 27 tahun, lagu religi islami tak masuk di telinganya. Karyawan perusahaan swasta di Jakarta itu lebih menyukai musik rock, punk, dan folk. Ia memandang, lagu religi terlalu monoton nadanya. Namun, ia mengakui pernah sekali membeli album religi yang dikeluarkan Ungu bertajuk SurgaMu pada 2006.

“Karena gue suka Ungu aja, pas banget bulan puasa gue beli itu,” kata dia saat dihubungi Alinea.id, Kamis (7/4).

Menurut Oky, lagu religi lebih dekat dengan generasi baby boomers—orang-orang kelahiran 1946-1964 menurut Beresford Research—karena terkesan jadul. Misalnya, jenis musik religi seperti kasidah, kata dia, masih memakai instrumen lawas rebana. Selain itu, sebagian besar pengemasan lagu rohani Islam kental dengan nuansa Arab.

“Di generasi gue itu kayaknya enggak masuk deh,” ucapnya.

Darwin Firdaus, 57 tahun, berbeda selera musik dengan Oky. Pensiunan guru sekolah dasar itu, setiap Ramadan kerap memutar lagu religi islami. Lagu-lagu yang dinyanyikan Haddad Alwi dan Sulis yang terkenal pada 1990-an masuk daftar putar yang sering ia dengarkan.

“Dapat saja nuansa Ramadan kalau dengar lagu religi,” ujar Darwin saat berbincang di Condet, Jakarta Timur, Selasa (12/4).

Biasanya, ia memutar lagu religi setiap menunggu waktu berbuka puasa dan selepas salat Tarawih. Selain Haddad Awli dan Sulis, Darwin pun mendengarkan lagu milik Bimbo, Snada, Debu, hingga Nissa Sabyan.

“Memang suka dari dulu sih (sejak remaja). Jadi, sampai sekarang masih suka dengerin,” ucap pria yang juga menggemari dangdut itu.

Sponsored

Grup kasidah Nasida Ria saat tampil di TVRI pada 1980-an. Foto Hai, 26 April 1988.

Peluang terbuka

Terlepas apa pun selera penikmat musik Oky dan Darwin, pada kenyataannya—terutama di bulan Ramadan—lagu religi islami kerap menghiasi belantika industri musik tanah air. Pengamat musik Denny Sakrie dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015) menulis, fenomena perusahaan rekaman mengeluarkan album religi islami berkembang sejak 1970-an.

“Saat itu, artis (penyanyi) maupun kelompok musik pop melakukan terobosan merilis album kasidah modern,” tulis Denny.

Ia menyebut beberapa grup musik terkenal di masa itu, seperti Koes Plus dan band rock AKA yang digawangi Ucok Harahap, mengeluarkan album kasidah modern. Denny menulis, di bawah label Remaco, Koes Plus merilis album kasidah dengan sederet lagu, di antaranya “Nabi Terakhir”, “Ya Allah”, “Sejahtera dan Bahagia”, serta “Zaman Wis Akhir”.

Grup musik Bimbo—terdiri dari Sam, Acil, Jaka, ditambah Iin Parlina—tak ketinggalan mengeluarkan lagu-lagu religi islami, seperti “Rindu Kami Pada-Mu”, “Kasidah Matahari dan Rembulan”, “Dikaulah Tuhan Terindah”, hingga “Anak Bertanya pada Bapaknya”.

Medio 1970-an juga muncul grup kasidah modern Nasida Ria, yang mempopulerkan lagu “Perdamaian”. Menurut Denny, Bimbo paling menonjol. Sehingga, mereka mendapat predikat sebagai kelompok musik religius.

“Bimbo banyak mengadopsi musik flamenco (pertunjukan musik dan tari berasal dari Spanyol) dalam racikan musik kasidahnya,” tulis Denny.

“Bahkan, Bimbo telah mencoba melepaskan diri dari pakem kasidah yang menggunakan bahasa Arab.”

Produser lagu religi islami dan pengarang lagu Agus Idwar Jumhadi mengatakan, pada awal 2000-an antusiasme tinggi penikmat musik religi islami meledak tatkala Aunur Rofiq Lil Firdaus alias Opick mengeluarkan album pop religi Istighfar pada 2005.

Grup Bimbo yang terdiri dari Jaka, Acil, Sam, dan Iin Parlina di studio rekaman pada 1970-an. Foto Violeta, 23 September 1975.

Beberapa lagu dalam album ini menjadi hit, seperti “Tombo Ati”, “Alhamdulillah”, dan “Astaghfirullah”. Album itu terjual setidaknya 200.000 kopi. Agus mengatakan, kesuksesan Opick mendorong label rekaman besar merekrut grup musik pop dan rock turut merilis album religi.

Semisal, di bawah label Trinity Optima Production, Ungu mengeluarkan album SurgaMu pada 2006. Dari album ini, lagu “Andai Ku Tahu” dan “Selamat Lebaran” jadi hit.

Kemudian, band pop melayu Wali di bawah label Nagaswara merilis album Ingat Sholawat pada 2009. Dua lagu yang hit dalam album ini, yaitu “Mari Sholawat” dan “Tobat Maksiat”.

Di samping itu, ada grup pop-rock Gigi, yang di bawah Sony Music merilis album Raihlah Kemenangan saat Ramadan tahun 2004—sebelum Opick mengeluarkan album Istighfar. Di dalam album ini disertakan beberapa lagu religi lawas, seperti “Tuhan” milik Bimbo dan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang dipopulerkan Chrisye.

“Sejak lagu (religi) ini dibuat anak-anak band, otomatis tidak hanya didengarkan pada bulan puasa. (Lagu itu) misalnya (diputar) sinetron di luar bulan puasa,” kata Agus, Sabtu (9/4).

“Kita melihat bahwa peluang lagu religi dari sisi komersil sangat terbuka.”

Agus sendiri pernah memproduseri tiga artis religi terkenal, seperti almarhum Ustaz Jefri Al Bukhori (Uje), Opick, dan grup Debu. Dengan keberadaan pasar yang luas, Agus yakin musik religi islami tak akan pernah mati.

Apalagi, kini perkembangan teknologi digital, seperti YouTube, TikTok, dan Instagram ikut memudahkan musisi religi islami muda menerbitkan karyanya. Peluang yang terbuka lebar itu memunculkan nama grup Sabyan, Alfina Nindiyani, dan Anisa Rahman.

“Dengan perkembangan platform, (musik religi) lebih semarak sih. Pemainnya tak itu-itu saja,” ujarnya.

Belum lagi mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, yang menurut Agus, menjadikan negara ini pasar empuk bagi musisi religi islami. “Jangankan (musisi) kita, musisi Malaysia saja ingin mempopulerkan lagunya di Indonesia karena tahu pasar di Indonesia itu besar,” kata Agus.

Band independen—atau populer disebut indie—juga melirik peluang besar musik religi islami. Salah satunya Hampir Band, yang Ramadan tahun lalu merilis single “Bakda Ashar” di bawah MSI Record.

Akan tetapi, setelah itu grup musik yang didirikan pada 2019 dan beranggotakan enam personel ini tak pernah lagi mengeluarkan lagu religi. Menurut gitaris Hampir Band, Agung Satriawan, keputusan itu diambil lantaran potensi pasar lagu religi hanya ada pada momen tertentu.

“Ketertarikan (pendengar) itu tergiring dengan momen Ramadan kalau agama Islam atau Natal kalau agama Nasrani,” ucap Agung, Sabtu (9/4).

Karena tergantung momen tertentu, Agung merasa, ketertarikan pendengar terhadap musik religi sangat terbatas. Imbasnya, profit yang dihasilkan dari lagu religi, diakui Agung juga rendah.

“Hampir Band merasa, musik yang sesuai dengan selera pasar jatuh pada jenis pop atau easy listening,” ujar Agung.

“Sebenarnya kalau terlepas kontrak dari label, banyak bahan untuk bikin lagu religi. Cuma ketika kita mengajukan lagu-lagu, label yang memilih.”

Lirik dan ketertarikan pasar

Pemerhati musik, Redy Eko Prastyo mengatakan, perkembangan lagu religi sangat pesat pada 2000-an. “Muncul band-band populer (mengeluarkan album religi), seperti Gigi, Ungu, dan Wali,” tutur Redy, Sabtu (9/4).

Menurut Redy, banyaknya band populer mengeluarkan lagu religi bukan semata mendulang cuan. Namun, sebagai “penyeimbang” karya.

"Jadi intinya bukan ikut-kutan kalau musik religi ini booming. Itu juga bagian dari variabel pengkaryaan," ujar Redy.

Kendati begitu, Redy melihat, kualitas lagu religi saat ini jauh berbeda dengan musisi silam. Dari segi lirik misalnya, menurut dia, musisi sekarang hanya menyadur penggalan dari ayat kitab suci.

Album Cinta Rasul karya Haddad Alwi yang dirilis pada akhir 1999. Foto discogs.com

“Zaman Bimbo dan Snada, kalau dilihat (lirik) musik religi itu sangat kuat,” kata dia.

Dalam menulis lirik, tak jarang musisi religi masa lalu melibatkan penyair dan ulama. Bimbo misalnya, disebut Denny Sakrie dalam bukunya, kerap dibantu penyair Taufik Ismail, politikus muslim Endang Sjaifuddin Anshari, serta ulama seperti KH Miftah Faridl dan KH Engkin Zaenal Muttaqien.

Redy mengatakan, kekuatan musik religi terletak pada liriknya. Dengan lirik yang kuat, Redy percaya lagu religi bisa mengetuk hati pendengarnya dalam merefleksikan diri tentang hubungannya dengan Tuhan.

Ia menyarankan, musisi religi dapat menyuguhkan karya untuk pendengar menggunakan lirik yang universal, tetapi menyiratkan pesan yang mendalam.

“Dengan begitu, cakupan pendengar musik religi dapat lebih besar,” ucapnya.

Sementara itu pengamat dan pengarsip musik, David Tarigan menilai, ketertarikan pasar turut memengaruhi musisi sebagai pertimbangan memproduksi lagu religi. Musik semacam itu, kata dia, lebih tepat dirilis ketika mendekati hari keagamaan, seperti Ramadan, Idulfitri, dan Natal. Meski demikian, ia melihat, tak sedikit pula musisi yang berdedikasi mengeluarkan karya religi, di luar momentum hari besar keagamaan.

“Jadi memang (lagu religi) itu ada season-nya, tidak bisa pungkiri, itu pakem jualan,” ujar David saat dihubungi, Jumat (8/4).

Kendati hanya dinikmati secara luas pada momen tertentu, salah seorang pendiri Askara Records dan Irama Nusantara itu merasa, penikmatnya terbilang besar. Oleh karenanya, David menuturkan, perayaan lagu religi selalu dilakukan, meski potensi karya cuma bisa dinikmati secara luas di momen tertentu.

Infografik lagu religi. Alinea.id/Firgie Saputra.

Sebagai contoh, sambungnya, ada acara penghargaan bagi musisi aliran gospel di luar negeri. Di Indonesia, penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) untuk karya produksi lagu berlirik spiritual islami terbaik juga mulai diadakan pada 2016. Becermin pada hal itu, David merasa geliat industri musik religi dapat lebih berkembang.

“Memang pada dasarnya, ada bisnis di situ, enggak mungkin enggak,” katanya.

“Iya dong, penganut agama apa pun itu menjadi pasarnya. Jadi, memang hal-hal seperti itu enggak pernah mati sebetulnya.”

Namun demikian, menurut David, keterikatan bisnis terhadap lagu religi itu tak dapat diartikan memengaruhi kualitas suatu karya. Sebab, katanya, menilai dan menikmati suatu karya seni merupakan hal yang subjektif.

“Jadi, kalau ada industrinya, bukan berarti karya itu jelek juga, bukan berarti karya yang keluar kacangan semua,” ujar David.

“Subjektif sih (menilai seni), bisa saja dianggap kacangan tetapi dia punya insight yang besar ke pendengar. Kita kan enggak tahu.”

Berita Lainnya