logo alinea.id logo alinea.id

Layar tancap, antara nostalgia dan propaganda

Dahulu, pengusaha film keliling membawa rol-rol film, proyektor, dan layar untuk menghibur para tamu undangan saat ada hajatan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 24 Jan 2019 20:33 WIB
Layar tancap, antara nostalgia dan propaganda

Usia Timan masih 30 tahun kala film Pantang Mundur (1985) diputar di layar putih membentang di lapangan dekat rumahnya di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Layar itu dibentangkan di antara dua tiang bambu yang dipacak di tanah. Sorot lampu dari proyektor menghasilkan gambar tontonan hingga dini hari.

Dahulu, pengusaha film keliling membawa rol-rol film, proyektor, dan layar untuk menghibur para tamu undangan saat ada hajatan.

Kenangan indah menonton layar tancap

Sekitar 1970-an hingga awal 1990-an, mengundang pengusaha film keliling menjadi semacam pengerek gengsi si empunya hajat. Kalau sekarang, mirip-mirip mengundang kelompok organ tunggal.

“Dulu kan zaman susah. Hiburan satu-satunya yang dipunyai ya cuma nonton layar tancap itu. Ongkos ngundangnya pun dulu kan mahal, tapi ada aja tiap minggu orang yang punya hajatan dan ngundang layar tancap,” kata Timan, mengenang masa-masa indah menonton layar tancap, saat berbincang dengan reporter Alinea.id di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).

Kini, usia Timan sudah menginjak 65 tahun. Namun, ingatannya masih tajam soal tontonan layar tancap.

“Itu kalau ada layar tancap, pohon pisang yang ada di sekitar pasti pada gundul, besok paginya yang punya pohon pasti nagih ganti rugi ke yang punya hajatan,” katanya, terkekeh.

Poster-poster film lawas di kantor Sinematek Indonesia, Jakarta. (Alinea.id/Nanda Aria Putra).

Bagi Timan, menonton layar tancap kerap menjadi momen yang menyenangkan. Selain asyik menikmati film yang sedang diputar, dia dan para penonton lainnya bisa menikmati aneka jajanan yang ada di sekitar area tontonan.

Saking keranjingan menonton layar tancap, Timan ingat, anak-anak di masanya nekat menjual dandang milik ibunya untuk bisa sekadar jajan sewaktu menonton.

“Besok pagi emaknya pusing nyariin, dianya pura-pura enggak tahu aja. Sering tuh begitu,” ujar Timan, yang kini berprofesi sebagai supir pribadi.

Timan mengaku, tak sering menonton film di gedung bioskop. Dia hanya menonton di bioskop, bila filmnya benar-benar menarik. Selain itu, yang membuat dia jarang menonton bioskop adalah soal kebebasan.

“Di bioskop kan enggak bebas ya, kalau di layar tancap kita mau guling-guling juga enggak masalah. Selain itu, bioskop harus bayar, kita nonton layar tancap gratis, karena yang punya hajatan yang bayar,” katanya.

Menurut Timan, dahulu hiburan rakyat sangat terbatas. Layar tancap akhirnya jadi primadona rakyat kala itu.

“Semua orang berbondong-bondong tuh nonton, ada yang ngajak seluruh keluarganya nonton. Sampai-sampai kalau kemalingan pun rumahnya dia enggak tahu,” kata Timan, terbahak-bahak.

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB