sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Livi Zheng dan kredibilitas media

Tulisan opini di Geotimes tentang Livi Zheng seakan membuka mata publik perihal prestasinya yang mentereng di industri film.

Soraya Novika
Soraya Novika Rabu, 28 Agst 2019 21:33 WIB
Livi Zheng dan kredibilitas media

“Saya senang film Bali: Beats of Paradise masuk seleksi nominasi Piala Oscar karena film ini bertema gamelan,” kata Livi Zheng, dikutip dari Antara, Minggu (28/10/2018).

Nama sutradara Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat ini tengah ramai diperbincangkan. Selain film Bali: Beats of Paradise yang baru saja rilis di Indonesia pada 22 Agustus 2019, rekam jejak Livi dibahas secara berseri dalam situs opini Geotimes.

Penulisnya memakai nama samaran Limawati Sudono. Tulisan pertama dimuat pada 14 Agustus 2019 berjudul “Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)”. Tulisan ini viral dan muncul seri berikutnya, yakni “Meneliti Livi Zheng (Bagian 2)” pada 15 Agustus 2019, “Meleliti Livi Zheng (Bagian 2,5)” pada 16 Agustus 2019, dan “Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)” pada 18 Agustus 2019.

Sebelum tulisan ini muncul, segala informasi di media massa tentang Livi terkesan “wangi”. Puja-puji tentang prestasi dirinya di bidang film sesak dimuat.

Bila ditelusuri, akan mudah ditemukan judul-judul berita tentang Livi yang bombastis. Misalnya, detik.com edisi 12 Agustus 2015 memuat judul “Mengenal Livi Zheng, Gadis Blitar yang jadi Produser di Hollywood”. Bahkan Kompas memuat judul “Livi Zheng, Petarung di Hollywood” dalam edisi 9 Januari 2015.

Hingga akhirnya, tulisan opini di Geotimes menjadi viral, seakan-akan membuka mata publik. Kredibilitas dan prestasi sineas kelahiran Blitar, Jawa Timur 30 tahun lalu itu mulai dipertanyakan.

Rekam jejak prestasi

Livi Zheng tengah beraktivitas dalam pembuatan filmnya. /livizheng.com.

Di dalam tulisan “Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)”, Limawati Sudono menulis panjang-lebar terkait awal karier Livi di industri film. Limawati, mengutip situs International Film Review berjudul “Livi Zheng Earns Her Reputation as an International Filmmaker” yang terbit 17 Desember 2016. Artikel itu menyebutkan bahwa Livi mengawali karier sebagai pemeran pengganti serial Laksamana Cheng Ho (2008).

Sponsored

Situs International Film Review sendiri merupakan situs berbasis Wordpress, yang dijalankan sejumlah jurnalis hiburan. Mereka menerima tip untuk meliput.

Jika sekarang Livi berusia 30 tahun, maka dia terjun ke industri film pertama kali di usia 19 tahun, bukan 15 tahun seperti yang ditulis Limawati Sudono.

Ia lalu terlibat dalam dua film layar lebar kolosal, The Empire’s Throne (2013) dan Legend of the East (2014). Disebut-sebut, ia mengordinasikan lebih dari 1.000 pemain dan ratusan kuda dalam The Empire’s Throne.

“Livi memang ambil andil di serial itu (Laksamana Cheng Ho). Tapi, soal kedua film itu, saya pribadi tidak pernah dengar tuh,” kata Slamet Rahardjo, yang ikut bermain dalam Laksamana Cheng Ho, saat dihubungi Alinea.id, Senin (26/8).

Menurut situs Imdb.com, Slamet berperan sebagai Wirabumi dalam film The Empire’s Throne, sebuah film berlatar belakang Kerajaan Majapahit. Produser film ini adalah Livi bersama Nirattisai Kaljareuk (merangkap sebagai sutradara), seorang sineas asal Thailand.

Di dalam film Legend of the East, film berlatar belakang Dinasti Ming, berdasarkan situs Imdb.com, nama Slamet tak ada. Livi juga berperan sebagai produser di film tersebut. Sutradaranya Nirattisai Kaljareuk.

Film The Legend of the East sempat membuat heboh pemberitaan di media tanah air pada 2014 lalu. Saat itu, berdasarkan situs madridinternationalfilmfestival.com, film ini menyabet dua penghargaan di ajang Madrid International Film Festival, yakni Best Supporting Actress in a Foreign Language Film untuk Wang Hui Qian dan Best Lead Actor in a Foreign Language Film untuk Yusril Ihza Mahendra.

Media heboh memberitakannya. Salah satunya, Kompas.com edisi 30 Juli 2014 menurunkan berita dengan judul “Yusril Raih Penghargaan Aktor Internasional Terbaik dalam Madrid International Film Festival”.

Ditanya tentang Madrid International Film Festival, kritikus film Adrian Jonathan Pasaribu menolak ajang itu bisa disebut sebagai festival film bergengsi. Menurutnya, festival ini tak punya rekam jejak tepercaya.

“Coba perhatikan, seberapa konsisten festival ini dilaksanakan? Siapa saja pemenang terdahulunya? Apakah mereka yang menang di sana kemudian punya karier sukses di industri perfilman?” kata Adrian saat dihubungi, Senin (26/8).

“Hanya karena labelnya internasional, belum tentu itu bergengsi atau setidaknya diakui bergengsi.”

Sutradara Joko Anwar menjelaskan panjang-lebar tentang festival internasional di akun Twitternya pada 16 Agustus 2019. Menurut dia, ada 5.000 festival film di dunia, tetapi hanya sedikit yang punya seleksi ketat. Ia menyebut, Venice Film Festival, Cannes Film Festival, Berlin Film Festival, Toronto International Film Festival, Sundance Film Festival, merupakan contoh festival film yang sangat selektif.

Joko menyebut, ada pula festival yang akan memasukkan film apa saja asal membayar sejumlah uang. “Festival film seperti ini disebut juga festival film abal-abal, pseudo film festival, bahkan fake film festival,” tulis Joko di akun Twitternya.

Biasanya, lanjut Joko, nama festival dibuat dari nama kota, seperti New York, Paris, Milan, dan lain-lain. Berdasarkan situs Film Fest International, untuk mengirimkan film dan masuk nominasi Madrid International Film Festival dikenakan biaya 65 Euro. Biaya yang sama juga dikenakan untuk London International Film Festival, Milan International Film Festival, dan Nice International Film Festival.

Menurut Joko, alasan sineas memasukkan filmnya ke festival film “palsu” karena keuntungan bersama. “Festival guremnya dapat uang, filmmaker-nya bisa gagah-gagahan klaim filmnya masuk festival internasional. Buat kelabui publik yang kurang info,” tulis Joko.

Pada 2015, pemberitaan tentang Livi kembali muncul dengan prestasi yang wah. Filmnya Brush with Danger (2015) disebut-sebut media lokal sebagai salah satu karya anak bangsa yang “menembus” Hollywood.

Di dalam situs Imdb.com tak tanggung-tanggung, Livi tercatat sebagai sutradara, pemeran utama, dan produser. Penulis skenarionya adalah adiknya, Ken Zheng—yang juga menjadi pemeran utama.

Film ini pun disebut-sebut masuk nominasi Oscar atau Academy Awards 2015. Media memberitakannya. Salah satunya Liputan6.com edisi 16 Juli 2015, yang menulis judul “Film Karya Anak Bangsa Brush with Danger Masuk Oscar 2015”.

Saat itu, Livi mengatakan—atau media salah menginterpretasinya—Brush with Danger masuk di antara 300-an film yang berhasil ikut kompetisi Oscar.

“Film Livi itu tidak masuk nominasi sama sekali, yang benar filmnya dibesar-besarkan berhak masuk nominasi. Karena memang syarat masuk nominasi Oscar nyatanya tidak rumit. Cukup pernah diputar di bioskop Amerika, apa pun kelas bioskopnya, minimal satu hari penayangan saja,” kata Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan saat dihubungi, Senin (26/8).

Meski begitu, Hikmat sendiri mengaku, tak pernah menonton film karya Livi. "Karena saya menganggap Livi sebegitu tidak pentingnya, segala hype tentang filmnya itu yang tembus ke Hollywood, sedari awal sudah ‘bau ikan’. Fishy," ucapnya.

Klarifikasi Livi

Livi Zheng bersama Slamet Rahardjo dan Didik Nini Thowok menerima penghargaan Ikon Pancasila. /instagram.com/livizheng

“Saya jawab mereka dengan karya,” kata Livi dikonfirmasi mengenai tulisan-tulisan yang menyinggung karier dan keluarganya saat dihubungi, Rabu (28/8).

Nada jawaban Livi tampak kesal dengan pemberitaan di sejumlah media, yang akhir-akhir ini mengungkap rekam jejak dan keluarganya.

Perihal keluarga, Livi mengaku, ia memang mendapat campur tangan keluarga. Namun, hanya sebatas dukungan biaya kuliahnya di luar negeri. Ia berdalih, tak ada sokongan dari keluarga dalam urusan film-filmnya.

“Untuk film-film saya, saya mendapat investor dan sponsor sendiri. Seperti film Bali: Beats of Paradise, saya mendapatkan semua biaya produksi dari Amerika,” ujarnya.

Menurutnya, Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi, yang sebelumnya menjadi Konsulat Jenderal RI di Los Angeles berkenan menjadi produser eksekutif film terbarunya itu.

“Bisa tanya kepada beliau langsung, dananya semua dari sponsor di Amerika Serikat, tidak ada sedikit pun dari orang tua saya atau pemerintah,” tuturnya.

Sponsor dari Amerika Serikat yang mendukung film terbarunya itu, kata Livi adalah Julia Gouw. Selain Umar Hadi, berdasarkan situs Imdb.com, Julia juga merupakan produser eksekutif film dokumenter berlatar belakang Bali, tentang seniman gamelan Nyoman Wenten itu.

Di dalam situs Wikipedia, Julia Gouw memiliki nama tengah “Suryapranata.” Perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu dikenal sebagai bankir ternama di Amerika Serikat, East West Bank dan anggota dewan direksi East West Bancorp, Inc. Ia juga dewan direksi Pacific Life.

Terkait klaimnya soal Brush with Danger yang masuk nominasi Oscar, ia pun memberikan penjelasan. Menurutnya, film itu masuk seleksi kategori Best Picture.

"Siapapun memang benar punya kesempatan untuk bersaing di kategori itu. Tapi tidak bisa dikatakan semudah itu karena harus tayang di bioskop-bioskop komersial Amerika, dan sangat sedikit jumlah film Asia Tenggara yang bisa masuk di sana," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Brush with Danger sempat tayang di AMC Theatres dan Regal Cinemas selama hampir dua bulan lamanya.

AMC Theatres merupakan jaringan bioskop multinegara yang berkantor pusat di Leawood, Kansas, dan merupakan jaringan bioskop terbesar di dunia. Sementara Regal Cinemas merupakan jaringan bioskop Amerika yang berkantor pusat di Knoxville, Tennessee.

Livi Zheng dalam film The Empire's Throne (2013). /Imdb.com

Kredibilitas jurnalis

Limawati Sudono di dalam tulisannya “Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)” di Geotimes menyebut, informasi-informasi soal Livi Zheng bertumpang tindih satu dengan yang lain. Limawati menulis, media massa menelan begitu saja semua informasi dari Livi dan menyampaikannya sebagai kebenaran yang harus diberitakan kepada publik.

Dari awal kemunculan berita soal Livi tentang sepak terjangnya di industri film pada 2015, Tribunnews.com merupakan salah satu media online yang beberapa kali memberitakan.

Manajer konten Tribunnews, Yulis Sulistyawan berdalih, pihaknya sudah mengikuti kode etik jurnalistik dalam menulis berita soal Livi.

"Biarkan pembaca yang menilai. Tribun selalu mengedepankan SOP internal, serta menjalankan secara baik kode etik jurnalistik, pedoman media siber dan UU Pers," ujar Yulis ketika dihubungi, Rabu (28/8).

Menurutnya, Tribun pun sudah melakukan konfirmasi, baik kepada Livi secara langsung maupun pihak terkait. Pemberitaan soal Livi sebagian mereka angkat dari wawancara langsung dengan Livi.

"Livi ketika diwawancarai cukup terbuka sebenarnya, dan cukup banyak bercerita tentang kehidupannya," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan memandang, kasus Livi akhirnya menuntut kredibilitas jurnalis. Berbagai media menelan mentah-mentah begitu saja, ramai-ramai lebih nafsu menyajikan informasi secepatnya ketimbang keabsahannya.

"Ini kritik terhadap jurnalis Indonesia untuk lebih skeptis terhadap informasi dan pernyataan dari narasumber," ujar Manan saat dihubungi, Selasa (27/8).

Menurutnya, setiap jurnalis mengemban tanggung jawab untuk melakukan verifikasi dan wajib melampirkan fakta pendukung, untuk memastikan valid atau tidaknya pernyataan narasumber tersebut.

"Ketaatan standar kerja jurnalis sudah ada dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Dalam pasal 1 dinyatakan bahwa wartawan harus menghasilkan berita yang akurat. Artinya, tidak hanya pada apa yang dikatakan narasumber tapi juga harus didukung fakta lain yang menguatkan," tuturnya.

Seandainya informasi yang disampaikan narasumber itu melibatkan pihak lain, kata Manan, di dalam KEJ pun sudah ada panduannya. Manan menyebut, menjaga keberimbangan.

"Artinya, ada kewajiban jurnalis untuk mendengar versi pihak lain yang diungkit narasumber itu agar keduanya mendapat kesempatan yang sama," ucapnya.

Di samping itu, Manan menduga, kredibilitas prestasi dan keluarga Livi yang dipertanyakan akhir-akhir ini adalah bukti kurangnya militansi dari para jurnalis media.

"Bisa juga karena merasa kurang cocok dengan pekerjaan yang dijalaninya sebagai jurnalis, atau sekadar bad mood saja, bisa pula karena kurangnya kesadaran atas tanggung jawabnya sebagai jurnalis," ujarnya.

Selain itu, beban pekerjaan jurnalis juga disebutnya berpengaruh besar. Menurut Manan, tuntutan mencari berita sehari yang cukup banyak, pasti ada kecenderungan bekerja abai pada standar KEJ.

"Misalnya jurnalis menulis lima sampai 10 berita per hari,” ujarnya.

Meski begitu, Manan menuturkan, apa pun kondisinya, seorang jurnalis seharusnya bisa memprioritaskan standar kode etik yang ada, ketimbang mengutamakan jumlah berita.

Livi Zheng menuai kontroversi. Alinea.id/Oky Diaz.

Hal senada disampaikan anggota Dewan Pers sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli. Menurutnya, selain mematuhi Kode Etik Jurnalistik, wartawan pun dituntut paham dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Arif mengatakan, Dewan Pers sedang mempelajari sejauh apa artikel-artikel yang menyangkut Livi Zheng dapat dipertanggung jawabkan. Termasuk laporan Livi terkait tulisan opini di Geotimes.

"Dalam waktu dekat akan memediasi pengadu dan teradu," ucap Arif saat dihubungi, Selasa (27/8).

Arif menuturkan, dalam beropini di sebuah situs pun ada aturan dan kode etik yang perlu dipatuhi, meski penilaian terhadap artikel opini berbeda dengan berita.

Terlepas dari semuanya, tampaknya penting untuk mengingat apa yang dikatakan Joko Anwar di akun Twitternya.

“Pemberitaan yang benar tentang pencapaian film Indonesia penting untuk memberikan contoh yang benar untuk generasi yang ingin membuat film. Kalau ada film dengan pencapaian palsu dipuja-puji, kasihan calon pembuat film yang mencari contoh film yang bagus karena akan tersesat,” tulis Joko.