logo alinea.id logo alinea.id

Mengapresiasi para perempuan penulis lagu

Dari dahulu perempuan penulis lagu sudah memberikan kontribusi penting bagi khazanah musik Indonesia.

Nanda Aria Putra Senin, 11 Feb 2019 20:02 WIB
 Mengapresiasi para perempuan penulis lagu

Tata panggung berbentuk oval, dengan layar putih dan pencahayaan yang fantastis, menyorot langsung para pemain orkestra di bawah komando komponis Erwin Gutawa, saat masuk ke ruang konser “Salute to 3 Female Songwiters” di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang Selatan, Sabtu (9/2). Di sisi lingkaran, menjadi panggung bagi para penyanyi yang akan tampil.

Konser itu dihelat sebagai bentuk apresiasi perempuan penulis lagu di Indonesia, yakni Dewiq (Cynthia Dewi Bayu Wardhani), Dewi Lestari, dan Melly Goeslaw. Mereka telah banyak melahirkan lagu yang hit, dan dinyanyikan sejumlah musisi tanah air.

Malam itu, kursi penuh. Sejumlah artis ternama terlihat hadir.

Konser 3 perempuan penulis lagu

Trio vokal Lib3ro membuka konser dengan sebuah lagu karya Dewiq, yakni “Bukan Cinta Biasa”. Diiringi orkestra ciamik Erwin Gutawa Orchestra, mereka sangat menghibur penonton.

Sorak-sorai penonton semakin menjadi-jadi, saat Sandy Sandoro muncul dengan lagu karya Dewiq lainnya, “Cinta di Ujung Jalan”. Usai dibuai dengan lagu dan instrumen musik yang lembut, Sandy menghentak panggung dengan meriah.

Dewiq, Erwin Goetawa, Dewi Lestari, dan Melly Goeslaw seusai konser (Alinea.id/Nanda Aria Putra).

Konser itu dibagi menjadi tiga babak penampilan, dibuka dengan menampilkan lagu karya-karya Dewiq. Kedua, karya lagu milik Dewi Lestari alias Dee, yang juga seorang penulis fiksi, diapresiasi. Beberapa lagunya, seperti “Perahu Kertas”, “Malaikat juga Tahu”, dan “Firasat”, menjadi barisan lagu yang mampu membuat penonton ikut bernyanyi.

Selanjutnya, musik Erwin Gutawa Orchestra mengalun dengan full orkestra untuk lagu karya Melly Goeslaw, “Menghitung Hari”. Setelah itu, lagu-lagu milik Melly, seperti “Bunda”, “Ayat-ayat Cinta”, dan “Ada Apa dengan Cinta” dilantunkan.

Menariknya, semua lagu ciptaan tiga perempuan tadi disenandungkan para penyanyi pria, seperti Afgan, Armand Maulana, Harvey Malaiholo, Once, Rendy Pandugo, Sandhy Sandoro, Vidi Aldiano, Libe3ro, Tulus, dan penampilan tak terduga aktor Reza Rahardian.

Reza memberi warna tersendiri. Dia mendeklamasikan satu fragmen dari karya ketiga pencipta lagu perempuan ini, sembari menyanyikan beberapa lirik.

Di sela-sela pertunjukan para penyanyi, ditampilkan testimoni dari orang-orang yang menyanyikan lagu mereka dan proses kreatif dari masing-masing perempuan pencipta lagu tadi, berupa rekaman video.

Isinya, tentang bagaimana mereka mendapatkan inspirasi dalam penciptaan lagu dan bagaimana mereka menilai perjalanan kariernya dalam menciptakan lagu.

Penyanyi Armand Maulana (kanan) bersama Komposer Erwin Gutawa (kiri) tampil pada konser musik Salute di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (9/2). (Antara Foto).

Dewiq misalnya, dalam video tersebut bercerita tentang bagaimana dia menangkap kesedihan dari curhatan yang dia dengar, untuk kemudian diubah menjadi lagu.

“Orang kalau sedih dia enggak sadar mengeluarkan istilah (yang inspiratif), misalnya ‘aku di ujung jalan’, dan aku menangkap itu dan kemudian menggubahnya menjadi lagu, aku jago menggali hal-hal begitu,” kata Dewiq, bercerita tentang bagaimana dia mencipta lagu “Cinta di Ujung Jalan”.

“Mereka adalah penulis lagu terbaik yang kita miliki, dan untuk itu konser Salute ini diapresiasikan bagi mereka,” kata Erwin Gutawa, seusai konser.

Dalam konferensi pers setelah konser berlangsung, Arman Maulana, Vidi Aldiano, dan Rendy Pandugo pun mengapresiasi ketiga perempuan penulis lagu. Mereka mengaku langsung menerima tawaran Erwin Gutawa untuk mengapresiasi karya dari tiga perempuan ini, karena mengidolakan karya-karya yang telah diciptakannya.

Untuk konser ini sendiri, Erwin Gutawa memercayakan konsepnya kepada anaknya sendiri Gita Gutawa, yang kemudian berlaku sebagai produser dan konseptor.