logo alinea.id logo alinea.id

Menjemput rezeki sebagai penyiar aplikasi live streaming

Penyiar aplikasi live streaming mendapatkan uang dari gift (hadiah virtual) yang dikirim pengunjung atau penontonnya.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 02 Jul 2019 17:17 WIB
Menjemput rezeki sebagai penyiar aplikasi live streaming

Mulanya, Pida—bukan nama sebenarnya—berprofesi sebagai sales promotion girl (SPG). Suatu hari, ia mendapat tawaran dari seseorang lewat pesan di akun Instagramnya untuk menjadi penyiar di aplikasi live streaming.

Seseorang itu merekrut Pida karena ia sering mengunggah video di Instagram. Wajah Pida yang cantik membuat orang—yang kemudian disebut sebagai agensi—tersebut tertarik mengajaknya bekerja sama.

“Itu tahun 2016. Lihat gaji lebih besar dari kerja SPG yang melelahkan. Tertarik dong,” kata Pida saat ditemui Alinea.id di Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/6).

Selama menjadi penyiar live streaming, ia sudah mencoba aplikasi CliponYu, Kitty Live, Nonolive, Yogrt, Go Live, HereLive, Uplive, Yome Live, dan Unico Live.

Di awal kariernya sebagai penyiar di aplikasi live streaming Clipon Yu, Pida menghabiskan waktu kerja selama lima jam sehari. Ia harus bisa mengatur waktu antara berkuliah dan melakukan pekerjaannya itu.

Ia harus datang ke studio tempatnya melakukan live streaming di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu, penyiar aplikasi live streaming harus memakai mikrofon dan headseat, mirip penyiar radio. Hanya saja, wajah ikut tampil dan dilihat orang-orang yang mendaftar ke aplikasi tersebut.

Gaji yang diterima Pida sebesar Rp4,5 juta sebulan, belum termasuk penghasilan dari koin. Namun, gajinya itu harus dipotong sebesar 10% untuk agensi sebagai perantara antara perusahaan platform aplikasi live streaming dengan dirinya.

Pida tak canggung bekerja sebagai penyiar di aplikasi live streaming. “Sudah terbiasa sejak zaman kuliah buat uang jajan. Dulunya, saat belum berhijab suka merayu-rayu. Sekarang sudah berhijab malu. Lebih stay cool aja,” ujar Pida.

Sponsored

Cara penyiar bekerja

Semakin lama, ketika aplikasi live streaming makin dikenal orang, saingan menjadi penyiar semakin banyak. Menurutnya, persyaratan untuk melamar pekerjaan ini pun kian ketat.

“Harus diperiksa curriculum vitae, jika cocok dipanggil wawancara, negosiasi gaji, serta menyetorkan nomor rekening dan NPWP,” tuturnya.

Akan tetapi, Pida tak khawatir keluar-masuk platform live streaming. Sebab, ia mengaku punya banyak kenalan agensi. Jika bosan setelah menuntaskan target, ia hengkang ke platform live streaming lainnya.

Setelah diterima bekerja, menurut Pida, biasanya penyiar akan melakukan tanda tangan kontrak di atas materai, dan dikirim ke agensinya. Agensi kerap punya asisten untuk merekrut dan menertibkan penyiar-penyiar aplikasi live streaming. Agensi ini, kata Pida, memegang banyak platform live streaming.

Lazim terjadi juga seorang penyiar yang aktif di dua aplikasi berbeda. Hal itupun dilakukan Pida.

“Aku pernah live streaming tiga atau empat jam sehari dan memakai dua gawai, karena aku kan dua aplikasi nih. Bingung terkadang mau ngomong sama yang mana,” ujar Pida.

Kebanyakan penyiar aplikasi live streaming adalah perempuan. /Pixabay.com.

Saat tampil, sebagai seorang penyiar, ia harus sering menyapa pengunjung. Bertanya pilihan lagu, bahkan berjoget diiringi lagu dangdut. Untuk mengundang banyak pengunjung, ia menyiasatinya dengan mengajak penyiar lain bermain fitur tertentu.

Selain bisa menambah pengunjung, tantangan menghibur seperti ini bisa melipatgandakan pengikut dan koin.

“Konten kreatif challenge beradu antarpenyiar, kalau kalah coret pipi. Seru-seruan saja. Alhamdulillah, banyak yang nge-gift. Ratusan ribu, bahkan jutaan terkadang diberi kalau orangnya benar-benar tertarik,” tutur Pida.

Setiap penyiar di aplikasi live streaming punya seorang “penyaring” yang disebut admin. Pida mengatakan, dirinya meminta adminnya mengusir penonton yang berkata jorok, seperti “buka dong.” Peraturan umumnya, seorang penyiar tak boleh tidur kala sedang live streaming.

Pida pun harus kuat dan sabar bila menghadapi pengunjung yang mencecar pertanyaan atau mencaci maki. Selain itu, penyiar tak boleh mempublikasikan hubungan istimewanya, alamat rumah, dan akun Line. Penyiar juga harus berusia 17 tahun ke atas.

Menurut Pida, CliponYu dan HereLive merupakan platform live streaming terbaik. Alasannya, gaji penyiar di kedua aplikasi ini terbilang tinggi, dan target penonton tak memberatkan.

Pida mendapatkan Rp5 juta selama enam bulan aktif di HereLive, dengan target penonton sekitar 8.000 orang sebulan.

“Aku tuh paling suka aplikasi mutakhir yang baru saja launching. Belum ada target, dapat gaji pokok. Live streaming pun santai, belum kedatangan penonton cabul,” ujar Pida.

Berburu gift dari spender

Ada koin di dalam platform live streaming sebagai pengganti uang. Koin tersebut bisa dipungut penyiar dari gift—hadiah berupa animasi pemberian pengunjung atau penonton yang terpikat. Pengisian koin bisa melalui rekening bank, Google Wallet, maupun pulsa. Penyiar yang terima koin pun bisa mencairkannya.

Di awal-awal menjadi penyiar, Pida pernah sangat sejahtera. Ketika menjadi penyiar di CliponYu, ia pernah mendapatkan gift senilai Rp10 juta. Saat merayakan ulang tahun yang ke-20, malam-malam Pida siaran memakai dress mini. Ketika itu, ia mendapatkan gift kembang api, yang setara Rp200 ribu sekali meletus.

Spender yang sudah besar yang kasih. Paling enak tuh dulu punya spender yang bisa bertahan sampai dua bulan. Rata-rata mereka pengusaha, sudah punya istri dan anak, tapi dia bete dan gabut, mau ngabisin duit gimana,” ujar Pida.

Spender atau dalam bahasa Indonesia artinya pemboros merupakan pengunjung yang sudi memberikan gift kepada penyiar, yang dianggapnya menarik. Spender ini sering pula disebut bandar.

Di balik rasa senang Pida punya spender loyal, ternyata tersimpan sebuah risiko. Menurutnya, pemberi gift kerap bawa perasaan alias baper. Terkadang, mereka cemburu jika Pida meladeni penonton lainnya. Bahkan, tak jarang kebencian itu melebar ke penyiar lainnya. Beberapa spender pun punya motivasi untuk memiliki penyiarnya, yang di matanya menghibur dan cantik.

Terkadang untuk meraih banyak gift penyiar menyerempet ke arah pornografi. /instagram.com/bigoliveapp

“Ada juga yang video call, ngomongnya tuh sayang-sayang, menjurus ‘ke sana lah’. Aku enggak mau. Dia emosi juga karena aku video call sama orang lain, terkadang sampai ngancam unfollow dan ngata-ngatain di penyiar sebelah,” tuturnya.

Meski begitu, Pida tak pernah bertemu dengan spender. Namun, ia mengaku pernah dibelikan seperangkat alat live streaming usai dicibir sesama penyiar, agar tak perlu pergi ke studio lagi.

Di saat-saat terakhir menjadi penyiar, Pida mengeluh sulitnya dapat spender. Di samping itu, penyiar aplikasi live streaming kian banyak dan pengunjung tak bisa dipaksa untuk memberi gift. Situasi seperti itu, terkadang membuat Pida frustasi. Sebab, kalau target koin belum tercapai, gaji pun tak kunjung cair.

Pada 30 Juni 2019, Pida memutuskan berhenti mencari nafkah sebagai penyiar di aplikasi live streaming. Alasannya, klise. Ia sudah teramat jenuh melakukan aktivitas tersebut. Belum lagi, gaji di aplikasi live streaming Yome Live—yang menjadi tempatnya singgah terakhir—sangat kecil.

“Bisa live streaming dengan waktu dan tempat seenak jidat, tapi gajinya Rp1,4 juta,” kata dia.

Koin yang dikumpulkan Pida di Yome Live sebanyak 3.822, sementara pengikutnya sudah 3.456 orang. Baginya, pencapaian itu terlampau sedikit ketimbang penyiar aplikasi live streaming lainnya.

Di dalam makalahnya “Live Streaming Commerce: Uses and Gratifications Approach to Understanding Consumers’ Motivations” yang dipresentasikan di 22nd Hawaii International Conference on System Sciences 2019, Jie Cai dan Donghee Yvette Wohn menyebutkan bahwa berdasarkan kerangka pemberian uang, ada empat motivasi bermain live streaming, yakni kenikmatan interaksi, kebutuhan komunitas, mengikuti tren, dan rasa penasaran mengorek informasi pribadi.

Sementara itu, saat dihubungi pada Selasa (2/7), pengamat media sosial Ismail Fahmi mengatakan, model live streaming sudah terdeteksi sejak 2010. Ismail berpendapat, live streaming bisa membuat penyiarnya terkenal, selain mendapat gift atau koin.

Jenis pemainan ini, kata Ismail, bisa membuat kecanduan. Belum lagi stigma negatif, gara-gara menampilkan pornografi, yang kerap ditemui di beberapa aplikasi live streaming.

“Misalnya Bigo Live, terstigma negatif karena terpapar konten pornografis yang cenderung memikat penonton. Sebab, platform live streaming menetapkan semacam aturan, yang paling disukai akan ditonjolkan. Penyiar live streaming tersebut pun akan panen koin,” ujar Ismail.