Gaya Hidup / Resensi Film

Mission: Impossible - Fallout: Berpacu dalam ketidakpastian

Kita tak pernah tahu ketidakpastian apa yang menanti di ujung jalan. Kita cuma harus berlari.

Mission: Impossible - Fallout: Berpacu dalam ketidakpastian “Mission: Impossible – Fallout

"Run Tom, run!"

Ada dua hal menarik yang saya perhatikan dari film ini: hidup adalah perjudian dan sebaiknya terus berlari kendati tahu hal yang kamu kejar itu tidak pasti. Namun, bicara ikhwal kepastian, memangnya apa yang pasti di dunia ini? Albert Einstein dalam keputusasaannya pernah berujar, “Satu-satunya yang pasti di dunia ini cuma ketidakpastian.” Itulah yang saya kira jadi premis dasar dari film besutan Christopher McQuarrie (“Mission: Impossible Rouge Nation”, “The Way of the Gun”, “Jack Reacher”) ini.

Ethan Hunt (Tom Cruise) dan tim rasa keluarga di Impossible Mision Force (IMF), terdiri dari Beni (Simon Pegg) dan Luther Stickell (Ving Rhames) mengemban misi yang seperti biasa, impossible. Mereka ditugaskan untuk memburu tiga inti plutonium yang telah dirampok dari kawanan teroris anarkis The Apostles. Kelompok itu erat terhubung dengan grup The Syndicate yang bikin ribut di waralaba sebelumnya “Mission: Impossible – Rogue Nation” (2015). Plutonium wajib diamankan, karena jika tidak, akan meluluhlantakkan tiga pusat religi Islam (Mekah), Kristen (Roma), serta Yahudi (Yerussalem).

Misi jadi sangat pelik, karena Tom dihadapkan pada berbagai kondisi sulit dan tak pasti. Jika James Bond menghamba pada Ratu Inggris, Jason Bourne dan Leonard Shelby didasarkan atas misi pribadi. Nah, Ethan ini digerakkan atas rasa kesetiakawanan dan kekeluargaan. Terdengar klise? Memang itulah faktanya, Ethan hampir selalu memprioritaskan anggota tim, meskipun risikonya adalah kegagalan misi.

Film ini pun demikian, formula “nyaris”: nyaris gagal, tertembak, terjatuh dari motor atau helikopter, nyaris terjun bebas dari atap gedung pencakar langit, nyaris membunuh semua orang yang ia cintai menjadi suguhan yang membuat adrenalin penonton dagdigdug tak karuan. Namun, ternyata ini yang mampu menarik animo penontonnya. Tak heran, jika film yang juga dibintangi pemain “Superman” (Henry Cavill) ini pecah telur di seminggu pertama, dengan mendulang pendapatan US$61,5 juta, dari 4.386 lokasi yang menayangkannya.

Rasa-rasanya memang cukup beralasan, karena “Mission: Impossible – Fallout" menjadi film paling bagus, serius, dan sentimental dari lima serinya yang lain. Semua disebabkan dari “perjudian” nasib yang dilakukan hampir seluruh pemainnya. Ya, Ethan dan kawan-kawan memang tak pernah tahu apa yang akan mereka temui di ujung jalan. Mereka juga sadar, misi itu serba mustahil dirampungkan. Namun, mereka digerakkan bahan bakar berupa harapan. Bahan bakar itu sendiri akan menyala jika semua pemainnya terus berlari.

Para "Srikandi" di film ini./ IMDB

Ngomong-ngomong soal berlari, Tom Cruise jelas jadi jagoannya. Dari 1996 sejak waralaba misi mustahil ini tayang, Tom sudah sibuk berlari. Bahkan, di hampir semua filmnya yang lain, ia juga berlari. Situs agregator film Rotten Tomattoes iseng menghitung berapa banyak adegan lari Tom dalam hitungan detik. Dengan asumsi Tom berlari dalam enak menit dengan kecepatan 14,6 kaki per detik. Lalu dibagilah jarak lari dari 0 hingga 1.000 plus kaki, maka aktor 56 tahun ini sudah berlari lebih dari 24.000 kaki, atau sekitar 7,3 kilometer dalam film.

Uniknya, kian intens Tom berlari, makin besar keuntungan film yang diperoleh. Tom berlari dalam sejumlah film yang kemudian jadi box office, seperti “The Firm” (1993), "Minority Report" (2002), "War of the Worlds" (2005), "Mission: Impossible III" (2006), "Mission: Impossible-Ghost Protocol" (2011), "Edge of Tomorrow" (2014), "Mission: Impossible-Rogue Nation" (2015), "Jack Reacher: Never Go Back" (2016), dan terakhir film ini.

Salah satu adegan di film "Mission: Impossible-Fallout" (2018)./ IMDB

Saking seringnya Tom berlari, sampai-sampai di bio Twitter-nya ia menulis, "Actor. Producer. Running in movies since 1981." Itu bukan lelucon belaka, Tom memang hobi berlari, dan semua ia lakukan sendiri. Totalitas dalam berlari dengan kecepatan super kencang hingga melompati gedung ini memang sempat membuat Tom cedera. Pergelangan kakinya patah karena menghantam tembok yang keras, saat berlari. Ia sampai harus istirahat total selama enam bulan, sejak Agustus 2017 dan terpaksa syuting film ini harus jeda sesaat.

Namun, begitu kondisinya pulih, Tom kembali berlari. Tak puas berlari, ia balapan motor di jalan betulan melawan arus kendaraan, dalam kecepatan rerata di atas 160 km/jam. Sebelum saya panjang lebar, bagi rekan-rekan yang belum sempat menyaksikan film ini, saya sarankan memang membuka behind the scenes saat Tom berlari, ngebut-ngebutan naik motor, atau mengemudikan helikopter seorang diri.

Ia mirip Jackie Chan versi Hollywood yang menolak menggunakan pemeran pengganti untuk semua adegan berbahaya. Semua ia lakukan sendiri, termasuk saat ia bergelantungan di seutas tali yang dijulurkan dari helikopter atau kala ia terjun bebas dari pesawat dengan ketinggian rendah yang masyaallah mengerikan. Untuk adegan terakhir ini, ia sampai harus berlatih selama satu tahun penuh agar mampu mempraktikkan High Altitude Low Opening (metode buka parasut di ketinggian rendah) dengan sempurna.

Tak heran, jika ekspresi ayah dari sosialita remaja Suri Cruise ini, begitu nyata dan apa adanya, tak dibuat-buat. Adegan laganya pun mencengkeram kuat. Ini mirip seperti "Mad Max", yang meski durasi filmnya dua jam lebih, tapi mampu membuat kita terjaga menunggu rangkaian aksi berikutnya. Yang menjadi pembeda adalah film ini nyata, semua adegannya nyata dilakukan Tom dengan tangan dan kaki sendiri. Sementara, Kebanyakan film lain akan terpojok dan menggunakan CGI untuk adegan-adegan sulit nan berbahaya, lalu dipotong di sana sini, dengan lanskap sempit.

Paduan antara totalitas akting Tom ditambah karakternya yang “same Old Ethan”: penuh kasih dan memanusiakan manusia ini, saya kira tak berlebihan jika film ini menjadi puncak kariernya selama dua dekade terakhir.


 

4

Adegan aksi mencengkeram kuat, kendati minim CGI. Cerita menarik, tidak receh. Ada plot twist yang wajib ditonton.

 

 


Berita Terkait