sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Musuh yang tidak disadari dalam perang melawan perut buncit

Bisa jadi ini membuat program mengecilkan perut kurang berhasil.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Jumat, 18 Jun 2021 17:21 WIB
Musuh yang tidak disadari dalam perang melawan perut buncit

Penyebab perut buncit umumnya sudah disadari, namun orang tidak mampu, atau tidak mau menghindarinya. Sementara itu ada penyebab lain yang boleh jadi tidak masuk dalam hitungan sebagai musuh dalam perang melawan perut buncit.

Apa penyebab perut buncit yang kira-kira sudah menjadi pengetahuan umum, atau minimal sudah mudah ditkira-kira? 

Di antara yang bisa kita sebut adalah kebiasaan menyantap makanan berlemak tinggi, seperti goreng-gorengan, makanan cepat saji. Kemudian kebiasaan jarang gerak, alias malas olahraga, dan makan larut malam.

Kebiasaan menyantap makanan berlemak tinggi, terutama lemak jenuh dan lemak trans adalah penyebab yang umum. 

Lemak trans bisa ditemui di makanan cepat saji, sedangkan makanan dengan lemak jenuh ada pada minyak, daging dan turunannya. Lemak sebenarnya tetap dibutuhkan tubuh, yang penting asupannya tidak berlebihan sehingga membuat penumpukan lemak di rongga antara organ,seperti lambung, hati dan usus.

Lemak yang terdapat di perut sendiri ada dua jenis. Lemak subkutan dan lemak visceral. Lemak subkutan merupakan lemak yang bisa dilihat dan dirasakan. Jika anda mencubit perut Anda, maka yang terangkat itulah yang disebut lemak subkutan. 

Sementara lemak visceral tidak tampak alias tersembunyi. Lemak ini yang membuat perut menonjol alias buncit.  Lemak visceral tidak pandang bulu. Dia tidak hanya terjadi pada orang gemuk, namun juga orang berbadan kurus. 

Jika pola makan sudah tidak sehat, maka sebenarnya olah raga bisa mengurangi efek perut buncit.  Olahraga akan membakar lemak sehingga, penumpukan lemak bisa dikikis sedikit demi sedikit. Problemnya ketika orang jarang berolahraga, maka pembakaran kalori tidak berlangsung. Penumpukan lemak di perut pun tak terbendung.

Sponsored

Nah, masalahnya, proses pembakaran kalori tidak semudah dibayangkan orang. Tidak semua yang kita makan pasti terbakar karena olahraga. Tergantung faktor makanan apa yang dimakan. 

Lagi-lagi makanan cepat saji yang jadi biang keroknya. Makanan jenis ini memerlukan olahraga yang lebih intens. Tidak cukup hanya joging-joging cantik selama setengah jam, terus Anda merasa menang melawan lemak. Tidak semudah itu. 

Setidaknya lemak jenuh dalam makakan cepat saji itu bisa dibakar semuanya dengan intensitas olahraga sedikitnya dua jam.

Sementara itu makan larut malam juga jadi faktor penyebab perut buncit. Kebiasaan ini memang biasa dilakukan pria karena tak tahan lapar di malam hari sehingga tidak bisa tidur. Makan pun jadi solusi.

Padahal di malam hari, organ-organ tubuh sedang beristirahat. Kalori yang baru masuk pun jadi tidak terbakar. Pakar gizi merekomendasi makan berat sebaiknya dilakukan di bawah jam 18.00.  

Musuh yang tidak disadari dalam perang melawan perut buncit 

Suka bergadang

Anda suka bergadang? Kalau jawabannya betul, dan Anda punya impian mengecilkan perut, sebaiknya ubah kebiasaan itu.

Tidur kurang akan membuat tubuh tidak bisa melepas hormon kortisol. Akibatnya, hormon stres ini akan meningkat sehingga memicu orang menginginkan makanan tinggi gula. Kalau sudah begini, jalan kesuksesan program menyingkirkan lemak perut, akan semakin terjal.

Kurang minum air putih

Ini bagian yang menarik. Minumlah air putih yang banyak agar berat badan air berkurang. Agak membingungkan. Tetapi sebenarnya sederhana. Kekurangan air akan membuat tubuh mengalami dehidrasi. 

Jika dehidrasi terus menerus, sistem tubuh akan merespons dengan mempertahankan lebih banyak air. Karena tubuh Anda akan berusaha mencapai keseimbangan cairan dalam tubuh. Sistem ini untuk mencegah kadar air dalam tubuh menjadi terlalu rendah.

Mengunyah terlalu cepat

Mengunyah makanan tidak sempurna membuat makanan lebih sulit dicerna. Peneliti nutrisi menganjurkan untuk mengunyah makanan lebih lama untuk membantu penurunan berat badan.

Percobaan yang dilakukan menemukan bukti bahwa orang yang mengunyah 40 kali cenderung mengonsumsi kalori 12% lebih sedikit dibandingkan mereka yang mengunyah hanya 15 kali.

Merokok

Kadang ada anggapan bahwa orang yang berhenti merokok akan menyebabkan orang lebih gemuk. Ukuran perut pun bertambah. Beda dengan masih merokok. Badan lebih kurus.

Akhirnya orang mengambil kesimpulan, lebih baik tetap merokok agar badan tidak berubah gemuk. Apakah ini benar?
Penelitian berkata sebaliknya. Merokok justru pangkal perut buncit. 

Para ilmuwan dari University of Glasgow menemukan bahwa merokok mungkin berhubungan dengan berat keseluruhan yang lebih rendah, namun hal itu cenderung mendorong lemak menuju daerah inti tubuh, yang mengakibatkan perut menjadi lebih besar. 

Jadi, bapak-bapak... pilih perut tetap buncit atau berhenti merokok? 

Berita Lainnya