sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Nyanyian Akar Rumput, hadirkan kembali Wiji Thukul dalam gambar

Film itu mengambil puisi yang pernah ditulisnya sebagai judul: Nyanyian Akar Rumput.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Jumat, 10 Jan 2020 11:06 WIB
Nyanyian Akar Rumput, hadirkan kembali Wiji Thukul dalam gambar

Lampau sudah pencetus pekikan semangat massa aksi itu lenyap. Kehadirannya, hingga kini sekadar melalui warisan yang berbentuk kata-kata.

Hampir 22 tahun lamanya, sosok pria kurus berambut ikal itu diwakili oleh kalimat, Hanya Ada Satu Kata: Lawan!

Dua dekade lebih Wiji Thukul hilang takberkabar. Kini, film dokumenter mencoba menghadirkannya kembali dalam bentuk gambar hidup.

Film itu mengambil puisi yang pernah ditulisnya sebagai judul: Nyanyian Akar Rumput.

Aktivis 1998 Nezar Patria, berharap film dokumenter tersebut dapat menyebarkan semangat dikalangan anak muda untuk menaruh perhatian pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat masa lalu.

"Dan yang paling penting adalah apa pun yang terjadi dengan kasus ini (penghilangan paksa), terungkap atau tidak terungkap, kami tidak ingin kasus ini terulang lagi," tutur Pria yang pernah diculik pada 13 Maret 1998 itu.

Jauh yang dikira, di balik keseriusan isu yang dibahas, setidaknya ada satu, dua, bahkan lebih dari lima kali celetukan yang membikin gelak tawa.

Dengan begitu, kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jakarta Pusat dengan dominasi cat berwarna kuning, hitam, dan putih itu tampak cair. Beberapa staf masih duduk di tempat kerjanya masing-masing saat acara berlangsung.

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid yang memberikan kursinya kepada Nezar, menyempatkan berdiri di belakang bar kecil yang dirancang khusus untuk membuat kopi.

Peracik film, Yuda Kurniawan, mengakui telah menyimpan hasrat besar untuk membuat film tentang Wiji Thukul sejak lama.

Hanya saja, ia ingin menyuguhkan cerita yang lebih kekinian. Film dikemas secara pop lantaran segmen yang dituju ialah anak-anak muda.

Yuda menuturkan Nyanyian Akar Rumput adalah film bernuansa musikal. Walakin, gambar hidup itu turut mengingatkan penonton bahwa ada kasus pelanggaran HAM berat yang masih jauh dari pelupuk mata penuntasan kasusnya.

"Setidaknya (setelah nonton film) orang jadi tahu, Ada orang bernama Wiji Thukul yang dihilangkan. Salah satu dari 13 aktivis yang dihilangkan saat Reformasi. Kita menolak lupa. Penghilangan paksa adalah salah satu pelanggaran HAM berat," tegas Yuda.

Dokumenter yang digarap selama empat tahun sejak 2014 sampai 2018 itu, diakui olehnya tidak memiliki kendala berarti. Bahkan, selama proses produksi film, personel Merah Bercerita—nama kelompok musik Fajar Merah putra Wiji Thukul, sangat asik.

"Mungkin umurnya enggak terlalu jauh. Jadi santai, prosesnya juga enggak terlalu terburu-buru," kelakar pria kelahiran 8 Oktober 1982 itu.
 

Berita Lainnya