sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Once Upon a Time in Hollywood: Nostalgia 1960-an dan mengenang Sharon Tate

Once Upon A Time In Hollywood berkisah tentang kehidupan bintang Hollywood pada 1960-an.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 07 Sep 2019 16:15 WIB
Once Upon a Time in Hollywood: Nostalgia 1960-an dan mengenang Sharon Tate

Once Upon A Time In Hollywood merupakan film ke sembilan sutradara Quentin Tarantino. Film ini berfokus pada perjalanan aktor fiksi Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) yang mulai kehilangan masa kejayaannya dan kawan stuntman-nya, Cliff Booth (Brad Pitt).

Once Upon A Time In Hollywood berkisah tentang kehidupan bintang Hollywood pada 1960-an, dan kasus pembunuhan aktris Sharon Tate (Margot Robbie) oleh pengikut Charles Manson (Damon Herriman) sebagai latar belakangnya.

Sinopsis

Karier Dalton mulai memudar. Kemudian, agen pencari bakat, Marvin Schwarz (Al Pacino) menyarankan Dalton bermain di film-film koboi Italia. Namun, Dalton merasa dirinya lebih baik dari itu, dan berkeluh kesah kepada sahabat sekaligus pemeran penggantinya, Cliff Booth.

Ketika kembali ke rumah, Dalton menyadari tetangga barunya adalah sutradara Roman Polanski (Rafał Zawierucha) dan aktris Sharon Tate. Dari situ, harapan Dalton agar kariernya bisa diperbaiki muncul. Ia berpikir karena bertetangga, mungkin Roman akan mengundangnya ke pesta dan mengajaknya terlibat dalam satu filmnya.

Suasana 1960-an yang dihadirkan di film ini. /Imdb.com

Film ini juga menghadirkan cerita tentang Booth. Booth yang merupakan veteran perang dirumorkan membunuh istrinya sendiri. Diceritakan juga, Booth pernah menghajar Bruce Lee (Mike Moh) dalam duel yang mengakibatkannya didepak dari sebuah rumah produksi.

Sutradara film ini, Tarantino, menghadirkan suasana dan arsitektur Los Angeles 1960-an di filmnya, lengkap dengan kaum hippies. Ia mengajak penonton yang tak pernah merasakan era 1960-an, bernostalgia di film ini.

Sponsored

Selain persembahan Tarantino pada Hollywood di era 1960-an, film ini sekaligus untuk mengenang 50 tahun pembunuhan yang dilakukan Charles Manson dan pengikutnya. Film ini bukan usaha membuat penghormatan pertama kalinya bagi Tarantino. Sebelumnya, Tarantino pernah membuat film penghormatan untuk blaxploitation di era 1970-an melalui Jackie Brown (1997).

Kelebihan film

Once Upon A Time In Hollywood  merupakan film pertama Tarantino setelah berpisah dengan The Weinstein Company. Film ini pun menjadi film pertama yang mempertemukan dua aktor papan atas Hollywood, Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt, dalam satu film. Kedua aktor tersebut pernah muncul pada dua film Tarantino sebelumnya. Pitt di Inglourious Basterds (2009) dan DiCaprio di Django Unchained (2013).

Dua aktor utama di film ini, Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt, mengeksekusi peran mereka sebagai dynamic duo dengan baik. Di penghujung film, kita bisa dibuat terharu dengan dalamnya pertemanan kedua tokoh ini.

Tarantino sebelumnya pernah menghadirkan tokoh dynamic duo di karakter Jules Winnfield dan Vincent Vega di Pulp Fiction (1994). Bedanya, jika Jules dan Vincent tampak kekanak-kanakan dan ceroboh, tidak dengan Dalton dan Booth.

Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt. /Imdb.com

Tarantino yang biasanya gemar menampilkan tindakan kekerasan dan muncratan darah di film-filmnya, tak begitu banyak melakukannya di film ini. Kekerasan tetap ada, namun tak seintens di film-film sebelumnya. Tarantino menampilkan kekerasan di film ini dengan kadar pas, dan menyajikannya hanya sebagai bentuk komedi gelap.

Meski demikian, tetap saja Tarantino meninggalkan banyak jejak yang selama ini menjadi ciri khasnya, seperti dialog-dialog yang cerdas, ratusan serapah, dan fetish Tarantino pada kaki perempuan.

Fokus film ini sebagian besar ada pada dua karakter utamanya, Rick Dalton dan Cliff Booth. Film ini tak terlalu banyak mengeksploitasi peristiwa pembunuhan oleh Mason. Tarantino tahu, ia tak bisa mengubah sejarah. Namun dengan film ini, ia mencoba menghadirkan kemungkinan lain dari peristiwa pembunuhan Sharon Tate.

Kelemahan film

Di film ini, Tarantino merangkai tiga alur cerita secara perlahan dan akhirnya dipertemukan di penghujung film. Namun, tetap saja dari tiga alur cerita tersebut, ada alur yang sebenarnya bisa dipotong dan tak akan menghilangkan klimaks dari kisah ini. Singkatnya, film ini rasanya terlalu panjang. Yang saya sadari, di penghujung film, saya tak melihat cameo Tarantino di film ini.

Bagi saya, film ini bukanlah film terbaik yang disutradarai Tarantino. Film terbaiknya tetaplah Inglourious Basterds (2009) dan Pulp Fiction (1994). Film ini sekadar bagus, tetapi tak seambisius Inglourious Basterds dan tak serapi Pulp Fiction.

starstarstarstarstar4

Bukan karya terbaik Quentin Tarantino