sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dilema pengamen ondel-ondel: Hidup 'mengganggu', mati tak mau

Budaya ondel-ondel kian marak dieksploitasi sebagai alat mencari duit.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 24 Feb 2020 17:54 WIB
Dilema pengamen ondel-ondel: Hidup 'mengganggu', mati tak mau
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2092
Dirawat 1751
Meninggal 191
Sembuh 150

Irama musik terdengar nyaring dari gerobak yang didorong Kapaw tak jauh dari pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat, Selasa (18/2) petang itu. Dari pelantang yang dipacak di gerobak, potongan lirik lagu “Salah Apa Aku” yang dipopulerkan band Ilir 7 terus berulang.

Seolah tak mau kalah dengan deru mobil dan motor di kawasan itu, Kapaw memasang musik kencang-kencang. Agar dilirik para pengguna jalan, irama musik-musik pop juga sengaja dipilih.

"Karena lagu ini kan lagi booming. Biar orang-orang pada tertarik lihat ondel-ondel kite,” kata Kapaw saat berbincang dengan Alinea.id di samping Gedung Bawaslu RI, seberang Mal Sarinah.

Bersama tiga rekannya, Kapaw bekerja sebagai pengamen ondel-ondel. Sore itu, Kapaw bertugas mendorong gerobak, sedangkan rekan-rekan lainnya bertanggung jawab menggendong ondel-ondel dan memungut sumbangan dari pengguna jalan. 

Sebagaimana mayoritas pengamen ondel-ondel yang lalu-lalang di berbagai ruas jalan di Jakarta, Kapaw dan rekan-rekannya berasal dari kampung ondel-ondel di kawasan Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat. Di sana, ia menggerakkan kelompok seni yang dinamai Sanggar Betawi Kram City.

Keesokan harinya, Alinea.id menyambangi kawasan kampung ondel-ondel itu. Di area padat penduduk itu, ada puluhan sanggar budaya Betawi yang mensponsori kegiatan mengamen menggunakan ondel-ondel. Salah satunya Sanggar Seni Betawi Mamit Cs.

Sanggar yang didirikan pada 1985 itu kini dipimpin Abdul Halif bersama kedua saudara kandungnya, Hanafi dan Taufiq Hidayat. Halif mengambil alih sanggar itu karena ayahnya, Abdul Hamit bin Mas’ud, meninggal dunia pada 2017. 

Sejak usia 12 tahun, Halif sudah sering ikut ayahnya menampilkan kesenian ondel-ondel di berbagai wilayah di Jakarta. Kala itu, Babe Mamit, sapaan akrab Abdul Hamit, menjalankan kegiatan kesenian bersama tiga orang tetangganya, yaitu Agus Salim, Amit, dan Abdul Rahman.

Sponsored

“Mulanya saya enggak mau meneruskan. Tapi, karena terkenang pengalaman itu. Jadi, saya ikut meneruskan bersama saudara saya,” ucap Halif saat berbincang dengan Alinea.id di rumahnya di Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Sanggar Seni Betawi Mamit Cs dijalankan sebagai kegiatan usaha keluarga sehingga grup ini juga beranggotakan anak-anak dan keponakan Halif. Dia mengungkapkan, anaknya yang berusia 9 dan 12 tahun pun kerap ikut dalam rombongan.

Dijelaskan Halif, kesenian ondel-ondel yang mereka sajikan berbeda-beda. Saban Senin hingga Jumat, mereka mengamen menggunakan ondel-ondel dalam kelompok kecil berangotakan sekitar 2–3 orang diiringi musik dari gerobak. 

Barulah pada pada hari Sabtu dan Minggu, kelompok Mamit Cs tampil lengkap. Beranggotakan sekitar 12 orang, mereka membawakan ondel-ondel secara tradisional dengan tetabuhan alat musik, seperti kendang dan gong. Musik yang mereka mainkan lagu tradisional Betawi, seperti “Kicir-Kicir” dan “Sirih Kuning”.
 
“Kadang anak-anak juga main alat musik gong yang kecil. Kalau gong yang besar, kan agak berat. Jadi, susah anak-anak jaga keseimbangan sambil jalan,” kata Halif.

Selain itu, Mamit Cs juga menerima panggilan untuk tampil di acara-acara khitanan dan pernikahan. Khusus untuk acara-acara semacam itu, Mamit Cs menggunakan boneka ondel-ondel ukuran besar yang didandani secantik mungkin. 

"Kalau dipakai buat ngamen yang disawer di jalanan, bonekanya biasa aja. Tapi kalau yang khusus buat di acara-acara, harus didandanin. Kalau ada yang udah sompal (patah), diperbaiki lagi,” kata Evi Maryani, istri Halif. 
 
Umumnya kerangka boneka ondel-ondel dibuat dari ruas-ruas bambu, dengan kepala terbuat dari resin. Kerangka itu kemudian dipasangi kain dengan pola busana yang mencitrakan laki-laki atau perempuan.

Kolega Halif, Taufik, mengatakan, belakangan mereka memang lebih banyak mengamen di jalanan. Padahal, mengamen dengan ondel-ondel dulunya berarti tampil pentas seni atau mengisi acara dalam upacara pernikahan atau khitanan.

“Permainan ondel-ondel ini sudah dari dulu hidupnya berkembang di jalan-jalan. Kalau kagak ada ondel-ondel ngamen berkeliling seperti sekarang, kagak mungkin ondel-ondel dikenal sama masyarakat," kata Taufik.

Foto kenangan mendiang Abdul Hamit bin Mas’ud (tengah, kemeja abu-abu), salah satu pendiri Sanggar Seni Betawi Mamit Cs. Alinea.id/Robertus Ronny Setiawan

Salahi pakem dan aturan

Kegiatan mengamen di jalanan itulah yang kini menjadi polemik di ruang publik. Dianggap meresahkan, Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Iman Satria mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta merevisi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. 

Revisi diusulkan Iman didorong kegelisahan akan eksploitasi budaya Betawi yang menyalahi tradisi awalnya. Salah satunya ialah terkait penggunaan ondel-ondel sebagai alat mengamen dan meminta-minta. 

“Marwah ondel-ondel itu enggak boleh dipakai untuk ajang pengamen. Maka, harus diperkuat dengan aturan dalam perda,” kata Iman dihubungi Alinea.id, Sabtu (22/2).

Iman berpandangan, perbaikan aturan perda itu setidaknya akan dapat mengakomodasi larangan mengamen ondel-ondel di jalanan. Dengan begitu, dia berharap, ada sanksi yang diterapkan bagi pengamen ondel-ondel yang membandel. 

Sebelum dikenal sebagai ondel-ondel, masyarakat Betawi menyebut kesenian ini dengan nama barong. Barong berasal dari barongan yang berarti bareng-bareng. Boneka barong ditampilkan dengan muka yang seram sebagai penolak bala atau mengusir roh jahat. 

Selain itu, barongan dipakai sebagai media dalam upacara sedekah bumi di perkampungan. Di era kolonial, barongan dipentaskan bersama kesenian musik tanjidor khas Betawi di Kota Batavia saat perayaan Tahun Baru China atau ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Melihat nasib tradisi barongan atau ondel-ondel saat ini, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan, sudah semestinya Pemerintah Daerah DKI turun tangan. Pasalnya, kesenian ondel-ondel yang kerap ditampilkan di jalanan tak lagi estetik.

“Terlihat berantakan sekali. Didorong-dorong pakai pengeras suara. Penampilannya sudah kumuh,” kata Yahya saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Jumat (21/2).

Dijelaskan Yahya, ada beberapa pakem yang harus diikuti dalam mementaskan seni ondel-ondel. Pertama, pemainnya mengenakan baju seragam berupa pakaian daerah khas Betawi. Kedua, memainkan alat musik tradisional.

Ketiga, menampilkan sepasang boneka ondel-ondel laki-laki dan perempuan. "Sepasang ondel-ondel laki-laki dan perempuan itu menandakan keseimbangan alam atau ekuilibrium, baik-buruk, hitam-putih. Satu sama lain saling memelihara,” tutur Yahya.

Namun demikian, Yahya tak sepakat penertiban dilakukan via revisi Perda Nomor 4 Tahun 2015. Ia mengusulkan pengamen ondel-ondel ditertibkan dengan menerapkan sanksi sesuai Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.  

Di Perda itu, setiap orang dilarang untuk meminta bantuan uang di jalanan ataupun menjadi pengemis, pengamen, dan pedagang asongan. "Revisi perda ini tidak mendesak dilakukan. Aturan dalam perda bisa ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur," ucap Yahya.

Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Melayu Betawi Maja Yusirwan sepakat keberadaan pengamen ondel-ondel kian mengganggu. Ia khawatir, bila seniman ondel-ondel terus melanggar pakem, nilai-nilai budaya dalam ikon DKI Jakarta itu bakal hilang ditelan zaman. 

“Ketika ada yang memakai lagu dangdut koplo, lagu pop, saya pikir ondel-ondel kok jadi begini? Saya pernah menemukan di daerah Depok ada kelompok ondel-ondel yang sampai jam 11 malam masih keliling mengamen. Musiknya pakai tape recorder,” ujar Maja kepada Alinea.id

Selain dibina, Maja mengusulkan agar para pengamen ondel-ondel diberikan ruang untuk berkreasi. Cara-cara semacam itu telah dipraktekkan di berbagai negara. Di Singapura, misalnya, musikus jalanan yang memainkan biola atau gitar diperbolehkan beraksi di lokasi-lokasi tertentu. 

Terpisah, sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Nadia Yovani mengatakan, persoalan keberadaan pengamen ondel-ondel tak sebatas lunturnya nilai-nilai budaya. Menurut dia, ada persoalan eksploitasi anak dalam menjamurnya pengamen ondel-ondel.  

"Anak menjadi sasaran alat untuk membuat iba, membuat orang jatuh hati sehingga orang mau memberikan uang. Kreativitas ondel-ondel ini sesungguhnya punya nilai yang semestinya bisa diselenggarakan dalam bentuk acara-acara seni yang benar,” kata Nadia. 

Boneka ondel-ondel milik Sanggar Seni Betawi Mamit Cs. di Jalan Kembang Pacar, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (19/2). Alinea.id/Robertus Ronny Setiawan

Solusi sementara Pemprov DKI Jakarta

Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Imam Hadi Purnomo mengatakan, pemerintah sebenarnya telah merancang sejumlah solusi untuk menertibkan pengamen ondel-ondel. Penertiban bakal diupayakan sejalan dengan upaya pelestarian budaya Betawi. 

“Namanya orang mencari uang, selama tidak menyalahi aturan ya, bisa-bisa saja diatur. Mengamen di jalan itu membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. Penataan ini kan demi keselamatan mereka sendiri (pengamen ondel-ondel),” kata Imam di Jakarta, Rabu (19/2).

Untuk menyusun solusi yang tepat, Imam mengatakan, pemerintah sudah menggelar pertemuan dengan sejumlah pengurus sanggar budaya Betawi di Jakarta. Dalam pertemuan itu, perwakilan organisasi masyarakat dan aparat Satuan Polisi Pamong Praja juga turut hadir. 

Dia menjelaskan, ada dua kesepakatan yang akan dijalankan oleh Pemprov terkait penertiban kesenian ondel-ondel. Pertama, pendataan sanggar ondel-ondel oleh Pemprov DKI Jakarta. "Sejumlah sanggar kesenian yang belum terdata diharapkan mendaftarkan diri kepada pihak Pemprov DKI Jakarta," kata dia. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Selain itu, Pemprov DKI akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta merencanakan lokasi-lokasi yang relevan sebagai tempat alternatif pertunjukan ondel-ondel, semisal mal, dan tempat wisata. Dalam penerapannya, kata Imam, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta juga akan menggandeng pelaku-pelaku usaha.

“Kami ingin memberikan porsi dan ruang-ruang yang memungkinkan seniman ondel-ondel ini bisa menampilkan karya-karyanya. Mekanismenya seperti apa, sedang direncanakan. Kalau itu sudah jadi, maka yang mengamen di jalan, yang tidak tertib, bikin macet, dan sebagainya akan kita tertibkan,” ujarnya.

Perwakilan dari tiga sanggar budaya Betawi hadir dalam pertemuan itu. yaitu Sanggar Seni Betawi Mamit Cs, Sanggar Seni Betawi Utan Panjang di Kemayoran, Jakarta Pusat, dan Sanggar Betawi Rifky Albani yang bermarkas di Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. 

Mewakili Sanggar Seni Betawi Mamit Cs, Taufik mengamini kesepakatan-kesepakatan yang tercapai dalam pertemuan itu. Menurut dia, Mamit Cs setuju pengamen ondel-ondel diatur. Syaratnya, mereka harus diberikan ruang khusus untuk tetap bisa mencari nafkah. 

“Jadi, kalau cuma penertiban, tapi enggak ada solusinya, mau dikemanain ondel-ondel? Dengan penempatan wadah-wadah itu, kite jadi punya tempat berkreasi,” kata Taufik. 

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sabtu, 04 Apr 2020 13:20 WIB
Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Jumat, 03 Apr 2020 13:12 WIB
Berita Lainnya