close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Film ini diperankan bocah perempuan Pihu Myra Vishwakarma. /Youtube.
icon caption
Film ini diperankan bocah perempuan Pihu Myra Vishwakarma. /Youtube.
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 06 Februari 2019 15:30

Pihu: Pelajaran berharga pengasuhan anak

Ide film ini mengangkat kisah nyata seorang balita di New Jersey, Amerika Serikat pada Maret 2013.
swipe

Industri film Bollywood tak selalu diisi film durasi panjang, dengan kisah cengeng, tarian, dan menyanyi. Ada beberapa film yang cukup asyik untuk dinikmati, karena ide cerita yang tak biasa. Film Pihu (2018) salah satunya.

Ide film ini mengangkat kisah nyata seorang balita di New Jersey, Amerika Serikat pada Maret 2013 ini terasa sangat dekat. Pihu (Pihu Myra Vishwakarma), bocah berusia dua tahun, tinggal sendirian di sebuah apartemen. Tak ada pengawasan orang tua, minim makanan, dan berjuang untuk bisa hidup berhari-hari. Ditambah lagi, kelalaian orang tuanya mematikan beberapa perkakas elektronik dan keran yang menyala.

Gagasan tersebut yang diolah sutradara Vinod Kapri. Sebagai pemanasan film yang menyabet penghargaan di Festival Film Internasional Trans-Sahara ke-14 ini, penonton disuguhi animasi tentang perayaan ulang tahun Pihu yang ke-2.

Balita hidup seorang diri

Meriahnya suara tepuk tangan, nyanyian, dan tawa kecil para balita yang diundang, sejenak membangun suasana hangat. Namun, kebahagiaan ini tak berlangsung lama.

Keesokan harinya, Pihu bangun dalam kondisi rumah berantakan. Balon sisa pesta ulang tahun terserak, dan sang ibu terlelap di atas kasur.

Pihu memanggil ibunya. Tapi, tak ada sahutan. Sejurus kemudian, dia berterian kembali ingin dibantu buang air besar. Akan tetapi, ibunya masih bergeming.

Film ini masih bergulir dengan usaha Pihu membangunkan ibunya. Lantaran sia-sia, Pihu akhirnya mengalihkan perhatian dengan menyalakan televisi, mengganti saluran yang dia sukai.

Pihu sesekali menengok ke arah ibunya, yang tampak bekas luka di pipi dan tangan, serta menggenggam botol berisi kapsul obat penenang. Penonton akan curiga, ibunya menjadi korban kekerasan rumah tangga, dan memilih bunuh diri. Tapi, sang sutradara masih menahan diri untuk menjelaskan detail adegan ini.

Pihu diangkat berdasarkan kisah nyata. (Youtube).

Vinod masih bermain-main dengan bocah dua tahun yang tertatih menuruni anak tangga seorang diri, lalu menyalakan microwave untuk memanggang roti. Roti itupun gosong. Didesak rasa lapar, dia masih berusaha untuk memanggang roti. Dia kemudian menaruh roti di atas kompor gas. Namun, gosong lagi.

Masih berkutat sulitnya balita mengganjal perut. Pihu membuka pintu kulkas dengan susah payah. Akhirnya, dia berhasil menemukan sisa potongan kue ulang tahun. Usai kenyang, dia kembali memanggil ibunya, membawakan roti ke atas kasur. Melihat wajah dan tangan ibunya yang penuh bekas luka, Pihu inisiatif mengambil losion dan mengoleskan ke bekas luka itu.

“Ini salep untuk mengobati luka ibu,” kata bocah itu.

Di adegan ini, penonton akan tahu Pooja, ibu Pihu, sudah wafat. Hal ini tampak dari pesan terakhir ibunya di permukaan cermin rias, tempat Pihu menemukan losion. Isi pesan tersebut:

“Aku bertengkar dengan orang tuaku demi menikahimu. Sekarang kenyataannya (rumah tangga) kita begini. Kau bilang, akan pulang hanya jika aku mati. Maka, dengan ini aku pamit. Selamat tinggal.”

Pesan itu sangat jelas ditujukan kepada ayah Pihu, yang pascaulang tahun segera bertolak ke Kalkuta, India, untuk bekerja. Konflik tampaknya makin tajam, karena Pooja curiga si suami berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Namun, sebagai seorang anak-anak, Pihu jelas tak tahu-menahu tentang persoalan ini. Dia hanya terjebak dalam gedung apartemen, yang bisa saja merenggut nyawanya.

Industri film Bollywood tak selalu diisi film durasi panjang, dengan kisah cengeng, tarian, dan menyanyi. Ada beberapa film yang cukup asyik untuk dinikmati, karena ide cerita yang tak biasa. Film Pihu (2018) salah satunya.

Ide film ini mengangkat kisah nyata seorang balita di New Jersey, Amerika Serikat pada Maret 2013 ini terasa sangat dekat. Pihu (Pihu Myra Vishwakarma), bocah berusia dua tahun, tinggal sendirian di sebuah apartemen. Tak ada pengawasan orang tua, minim makanan, dan berjuang untuk bisa hidup berhari-hari. Ditambah lagi, kelalaian orang tuanya mematikan beberapa perkakas elektronik dan keran yang menyala.

Gagasan tersebut yang diolah sutradara Vinod Kapri. Sebagai pemanasan film yang menyabet penghargaan di Festival Film Internasional Trans-Sahara ke-14 ini, penonton disuguhi animasi tentang perayaan ulang tahun Pihu yang ke-2.

Balita hidup seorang diri

Meriahnya suara tepuk tangan, nyanyian, dan tawa kecil para balita yang diundang, sejenak membangun suasana hangat. Namun, kebahagiaan ini tak berlangsung lama.

Keesokan harinya, Pihu bangun dalam kondisi rumah berantakan. Balon sisa pesta ulang tahun terserak, dan sang ibu terlelap di atas kasur.

Pihu memanggil ibunya. Tapi, tak ada sahutan. Sejurus kemudian, dia berterian kembali ingin dibantu buang air besar. Akan tetapi, ibunya masih bergeming.

Film ini masih bergulir dengan usaha Pihu membangunkan ibunya. Lantaran sia-sia, Pihu akhirnya mengalihkan perhatian dengan menyalakan televisi, mengganti saluran yang dia sukai.

Pihu sesekali menengok ke arah ibunya, yang tampak bekas luka di pipi dan tangan, serta menggenggam botol berisi kapsul obat penenang. Penonton akan curiga, ibunya menjadi korban kekerasan rumah tangga, dan memilih bunuh diri. Tapi, sang sutradara masih menahan diri untuk menjelaskan detail adegan ini.

Pihu diangkat berdasarkan kisah nyata. (Youtube).

Vinod masih bermain-main dengan bocah dua tahun yang tertatih menuruni anak tangga seorang diri, lalu menyalakan microwave untuk memanggang roti. Roti itupun gosong. Didesak rasa lapar, dia masih berusaha untuk memanggang roti. Dia kemudian menaruh roti di atas kompor gas. Namun, gosong lagi.

Masih berkutat sulitnya balita mengganjal perut. Pihu membuka pintu kulkas dengan susah payah. Akhirnya, dia berhasil menemukan sisa potongan kue ulang tahun. Usai kenyang, dia kembali memanggil ibunya, membawakan roti ke atas kasur. Melihat wajah dan tangan ibunya yang penuh bekas luka, Pihu inisiatif mengambil losion dan mengoleskan ke bekas luka itu.

“Ini salep untuk mengobati luka ibu,” kata bocah itu.

Di adegan ini, penonton akan tahu Pooja, ibu Pihu, sudah wafat. Hal ini tampak dari pesan terakhir ibunya di permukaan cermin rias, tempat Pihu menemukan losion. Isi pesan tersebut:

“Aku bertengkar dengan orang tuaku demi menikahimu. Sekarang kenyataannya (rumah tangga) kita begini. Kau bilang, akan pulang hanya jika aku mati. Maka, dengan ini aku pamit. Selamat tinggal.”

Pesan itu sangat jelas ditujukan kepada ayah Pihu, yang pascaulang tahun segera bertolak ke Kalkuta, India, untuk bekerja. Konflik tampaknya makin tajam, karena Pooja curiga si suami berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Namun, sebagai seorang anak-anak, Pihu jelas tak tahu-menahu tentang persoalan ini. Dia hanya terjebak dalam gedung apartemen, yang bisa saja merenggut nyawanya.

Narasi berlarut-larut

Sepanjang film, Pihu digambarkan berulang kali lolos dari bahaya. Terutama saat dia memanjat pagar balkon apartemen dengan kaki mungilnya, karena boneka kesayangannya nyaris jatuh.

Bila Vinod tak hati-hati, film ini hanya seperti thriller yang cenderung mengeksploitasi ketakutan dan ketidakberdayaan seorang balita. Untungnya, Vinod selamat, lantaran akting aktris cilik yang tampak natural, seakan-akan tanpa skenario. Penonton seolah-olah tak akan melihat pelakon cilik yang memaksa dirinya untuk menangis atau tertawa kikuk. Namun, mirip melihat tetangga kecil, anak, atau saudara sendiri.

Vinod menempatkan tiga kamera di lokasi syuting, mengikuti tingkah Pihu. Dalam beberapa bagian, teknik ini tetap lemah, karena Vinod lalai mengulang skrip dengan sudut pandang yang berulang. Sehingga beberapa bagian tampak hampa dan membosankan.

Pihu tayang pertama kali di bioskop pada November 2018. (Youtube).

India Times melontarkan kritik, menyebut Pihu sebagai film berkarakter terbatas dan satu lokasi, yang biasanya berfungsi dengan baik saat disunting dengan benar. Tapi, narasi Pihu cenderung berlarut-larut. Film ini idealnya paling tidak 20 menit lebih pendek.

Lepas dari kekurangan tersebut, Pihu tetap laik untuk ditonton. Sebab, kita tak hanya bisa belajar soal lika-liku parenting dan keluarga disfungsional, tapi juga menyaksikan ironi lain. Hidup di kota, meski bertetangga dengan banyak orang, kadangkala akan tetap membuat kita saling terasing. Layaknya tetangga di kanan dan kiri apartemen keluarga Pihu, yang tak benar-benar peduli dengannya.

Ada dua hal, pengalaman menonton yang sebenarnya membuat saya terasa menyiksa. Pertama, karena Pihu adalah anak-anak yang jelas sekadar mengikuti insting purba untuk makan jika lapar, menangis jika sakit, dan berjuang untuk memperbaiki dengan segenap kepolosannya.

Kedua, cara sutradara membangun ketegangan dari menit ke menit, membuat jantung mau copot. Bayangkan, mana pernah kita berpikir anak balita yang tak berdaya bisa terjebak di dalam kulkas dan tak bisa membuka pintunya.

starstarstarstarstar3

Cerita out of box dan relevan dengan kondisi kini. Tapi, punya kelemahan dalam sudut pengambilan gambar yang monoton.

 

img
Purnama Ayu Rizky
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan