sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ratu Ilmu Hitam, film horor meneror yang singkat

Jalan cerita film Ratu Ilmu Hitam versi terbaru ini sangat berbeda dengan film terdahulunya yang pernah diperankan Suzanna pada 1981.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 16 Nov 2019 21:28 WIB
Ratu Ilmu Hitam, film horor meneror yang singkat

Film Ratu Ilmu Hitam menjadi film horor yang kerap diperbincangkan di November ini. Film yang disutradarai Kimo Stamboel dengan penulis skenario sekaligus sutradara kondang Joko Anwar ini, merupakan produksi ulang dari film serupa yang diproduksi 28 tahun silam.

Akan tetapi, jalan cerita film Ratu Ilmu Hitam versi terbaru ini sangat berbeda dengan film yang pernah diperankan Suzanna pada 1981.

Jalan cerita film ini, bermula dari tiga keluarga yang berkunjung ke Panti Asuhan Tunas, yang terletak di daerah terpencil nan jauh dari keramaian.

Awalnya, Hanif (Ario Bayu) mengajak istrinya Nadya (Hannah Al Rasyid) serta ketiga anaknya, yakni Sandi (Ari Irham), Dina (Zara JKT 48), dan Haqi (Muzakki Ramadhan) berkunjung ke panti untuk menemui pengasuh panti, Bandi (Yaya Unru) yang sudah tua dan sakit-sakitan.

Kemudian diikuti dua sahabat Hanif, yakni Anton (Tata Ginting) dan Jefri (Miller Khan) dengan membawa istri masing-masing, yaitu Eva (Imelda Therinne) dan Lina (Salvita Decorte).

Bandi merupakan pengasuh Hanif, Anton dan Jefri saat keduanya masih kecil dan tinggal di Panti Asuhan Tunas. Mereka sengaja mengunjungi panti untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Bandi yang dirasa segera tutup usia.

Film ini terbilang memiliki cerita yang singkat. Inti cerita sudah dapat dicerna penonton sejak awal film dimulai. Hal itu dapat dilihat, kala mereka sampai di panti dan disambut pasangan suami istri penjaga panti, Maman (Ade Firman Hakim) dan Siti (Sheila Dara), serta dua anak panti bernama Hasbi (Giulio Parengkuan) dan Rani (Shenina Cinnamon).

Cerita horor bernuansa dendam kusumat ini pun langsung “dipelatuk” oleh Rani kala bercerita kepada anak terakhir Hanif, Haqi yang penasaran terhadap ruangan berpintu hijau di pojok ruangan panti.

Sponsored

Rani menceritakan kepada Haki bahwa 25 tahun lalu, ada pengasuh panti bernama Mira yang dikurung di ruangan itu, dengan alasan sakit jiwa dan membahayakan hingga akhirnya tewas, lantaran terus membenturkan kepala ke pintu saat mencoba keluar.

Selain Mira, Rani juga menceritakan soal anak panti bernama Murni yang hilang. Konon Murni sangat dekat dengan Mira.

Dari sini, penonton mulai diajak menerka-nerka siapa Mira dan Murni yang kerap dikaitkan dan dibicarakan Haqi kepada semua orang. Belakangan diketahui bahwa Murni ternyata anak Mira yang kemudian menjadi sang Ratu Ilmu Hitam dan menuntut balas karena ibunya difitnah oleh Bandi sampai akhirnya tewas. 

Tak lama berselang, kejadian aneh mulai menghinggapi mereka. Dimulai saat Hanif dan Jefri menemukan sebuah bus di ladang tebu tak jauh dari panti, ternyata isinya adalah puluhan mayat anak panti yang tewas mengenaskan.

Mulai dari sini, adegan sadistis mulai dimunculkan oleh Kimo Stamboel sebagai sutradara. Dimulai dari Anton, satu persatu dari mereka terkena santet sadis yang selalu diwarnai tumpahnya darah. Rangkaian teror dan adegan sadis itu berhasil membuat penonton merekatkan gigi lantaran ngilu dan merinding. 

Namun celakanya, adegan sadis yang terlalu banyak malah membuat film ini menjadi kurang klimaks. Lantaran ending film tak jauh berbeda dengan scene lain. Selain itu, ending pun terbilang terlalu cepat sehingga membuat beberapa hal belum tereksplorasi. Padahal banyak yang belum diurai. Misalnya, tak ada penjelasan sebab musabab Rani berubah sikap dan beralih membela Murni sang Ratu Ilmu Hitam. 

Patut diduga, hal ini disengaja untuk membuka peluang memproduksi film Ratu Ilmu Hitam jilid II. Pasalnya, di akhir cerita pun sang Ratu Ilmu Hitam yang telah tewas sempat menampakkan diri sekilas dipandangan dan perasaan Nadya yang merupakan sang penentu akhir cerita.

Porsi yang kurang seimbang

Secara pembagian peran, ditemukan pembagian peran yang kurang seimbang. Hal itu dapat dilihat dari nasib Anton yang langsung mengalami nasib nahas, saat mengecek bus di ladang tebu yang diinformasikan Hanif berisi banyak mayat anak panti. Padahal film baru berjalan sebentar. 

Selain itu, karakter Sandi dan Dina pun terbilang kurang kuat sepanjang film berjalan. Sehingga, terkesan hanya jadi pelengkap sampai akhir cerita.

Miskin latar 

Film berdurasi 99 menit ini terbilang miskin latar. Sepanjang cerita berjalan, hanya ada dua latar yang dijadikan penggambaran, yakni Panti Asuhan Tunas dan ladang tebu dekat panti.

Hanya di akhir cerita saja yang menunjukkan latar berbeda, yakni sekolah dasar saat momen Nadya menjemput Haqi sepulang sekolah. Hal ini pun sempat membuat bosan cerita. 

Bisa jadi durasi waktu menjadi penyebab utama terdapat lubang di film remake ini. Sebab, mesti menyajikan cerita seapik mungkin dengan cerita yang lumayan rumit. Walhasil film produksi Rapi film ini terkesan ingin cepat diselesaikan.