sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rental pacar: Risiko menyewa kekasih semu di media sosial

Momen Lebaran membuat lajang gundah ditanya kapan menikah. Hal itu membuka peluang rental pacar di media sosial.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Senin, 09 Mei 2022 15:29 WIB
Rental pacar: Risiko menyewa kekasih semu di media sosial

Beban di benak Saepul—nama samaran—menjadi ringan di hari raya Idulfitri tahun ini. Ia tak lagi cemas dan ketar-ketir kala ditanya “kapan menikah” atau “mana pacarnya” oleh keluarga dan saudaranya. Di Lebaran kali ini, Saepul bisa memamerkan kekasih semunya kepada kerabat, walau cuma lewat panggilan video.

Gerilya mencari penyedia jasa teman kencan sudah dilakukan Saepul seminggu jelang Idulfitri. Ia sibuk mencari-cari di media sosial, seperti Facebook dan Twitter lewat gawainya.

“Jadi, saya sudah siapin saja deh ini jawaban, ya berupa pacar meski sewa,” ujar lajang berusia 28 tahun itu, saat dihubungi reporter Alinea.id, Kamis (5/5).

Peluang menggiurkan

Awalnya, Saepul kesulitan memesan pacar sewaan di medis sosial. Ia menemukan banyak akun abal-abal penyedia jasa teman kencan. Setelah getol mencari-cari, akhirnya ia menemukan sebuah akun yang menyediakan jasa itu.

“Di Twitter, saya dapat harga sekitar Rp20.000-Rp30.000, (hanya) untuk teman chatting-an dan video call saja,” katanya.

Sedangkan harga untuk tatap muka, misalnya diajak jalan-jalan, makan, atau bersua keluarga berbeda lagi. “Sekitar Rp100.000 ke atas, tergantung negosiasi dan durasi ketemunya,” tuturnya.

Ilustrasi mencari pacar di media sosial. Foto Pixabay.com

Sponsored

Tak lagi berpikir lama-lama, Saepul langsung memesan jasa teman kencan paket virtual, bukan bertemu langsung. Pertimbangan memilih paket virtual, kata Saepul, karena konsep pemesanan mirip membeli kucing dalam karung. Selain itu, harga yang ditawarkan untuk paket tatap muka tak sesuai koceknya.

“Konsep pemesanannya itu random, kita enggak dikasih lihat foto, nama talent-nya juga samaran,” ujarnya.

“Ketika orang tua atau saudara nanya pacarnya mana, saya tinggal video call.”

Saepul merasa, adanya penyedia jasa rental pacar sangat berguna. Ia jadi tak canggung lagi bertemu dengan kerabatnya di hari raya.

Pengalaman Saepul mengingatkan kita pada film Love for Sale (2018). Di film drama-komedi itu, Richard Achmad (Gading Marten) yang dijuluki jomlo akut, berusaha sebisa mungkin mencari pacar karena ditantang teman-temannya.

Lewat sebuah aplikasi kencan, akhirnya Richard bertemu Arini Kusuma (Della Dartyan). Selama 45 hari masa kontrak, Richard dan Arini tinggal bersama, seperti pasangan kekasih betulan. Namun, kisah Saepul bukan fiksi. Pacar sewaan itu nyata ada.

Oca—bukan nama sebenarnya—adalah salah seorang penyedia jasa rental pacar. Ia mengatakan, momen Lebaran ada lonjakan permintaan pacar sewaan.

“Rata-rata, orang pakai jasa ini untuk hilangkan rasa bosan karena libur panjang,” kata Oca, Kamis (5/5).

Oca masih duduk di bangku SMA. Ia baru dua bulan menekuni profesi ini. Dari bisnis pacaran semu tersebut, ia mengaku bisa mencukupi uang jajannya. Padahal, ia memulainya hanya dari keisengan belaka.

“Selama sekitar dua bulan ini, (penghasilan) bisa lebih Rp1 juta lah,” ucap Oca.

Mula terjun ke jasa ini, Oca diberi informasi oleh sahabatnya untuk mendaftar sebagai talent ke sebuah akun manajemen penyedia jasa rental pacar di Twitter. Lalu, tanpa pikir panjang, Oca mencari tahu syarat menjadi talent dan mencoba mendaftarkan diri. Tak lama, ia diterima di sebuah manajemen penyedia jasa itu.

Ia mengatakan, manajemen penyedia jasa rental pacar bukan perusahaan, tetapi perorangan. Manajemen itu, katanya, bertugas mengatur agenda kencan dan libur seorang talent. Nantinya, penghasilan yang diterima akan dibagi dua.

“Kalau di manajemen aku pembagiannya 20% untuk manajer, 80% untuk talent,” ujarnya.

Akan tetapi, jasa yang ditawarkan hanya sebatas komunikasi via media sosial. Ada dua jenis paket pelayanan, yakni reguler dan VIP. Untuk paket VIP, seorang talent akan melayani seorang pelanggan. Sedangkan reguler, seorang talent bisa melayani lebih dari satu pelanggan.

Paket VIP dipatok tarif Rp5.000 per jam, Rp10.000 per hari, dan Rp45.000 per minggu. Sementara paket reguler Rp3.000 per jam, Rp7.000 per hari, dan Rp40.000 per minggu.

Ada layanan tambahan, jika seseorang mengambil paket VIP. Misalnya, berkencan sambil menonton film dan mendengarkan musik secara daring, serta mencantumkan nama pelanggan di profil. Namun, layanan tambahan ini dikenakan tarif lagi sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000.

Di bawah naungan manajemen, Oca merasa aman menjalankan profesi ini. Pasalnya, manajemen menerapkan sejumlah aturan, seperti komunikasi hanya sampai pukul 22.00 dan wajib menghormati privasi talent.

Penghasilan yang besar juga diperoleh penyedia jasa pacar sewaan lainnya, Nisa—bukan nama sebenarnya. Nisa bergerak sendiri, tanpa manajemen. Ia memasang tarif kencan virtual sebesar Rp5.000 per jam dan Rp15.000 per hari.

“Kalau diperkirakan bisa mencapai Rp1,5 juta lah paling tinggi,” tutur Nisa, Jumat (6/5).

Perempuan yang masih berstatus mahasiswi itu mengatakan, penghasilannya terbilang besar, dengan pekerjaan yang lumayan ringan: hanya meladeni orang yang butuh perhatian. Sudah lima bulan ia menekuni profesi ini, dengan macam-macam alasan pelanggan.

“Sebagian besar sih karena bosan saja, ada juga yang penasaran ingin coba,” ucapnya.

Walau demikian, Nisa mengaku pernah mendapat perlakuan tak pantas dari pelanggannya. Meski baginya tergolong pekerjaan ringan, ia menuturkan profesi ini punya risiko berbahaya.

“Pernah dilecehin, kadang ada yang mau ngajak video call sex juga, dan ada yang mengumpat,” ujar dia.

Introspeksi dan bahaya di baliknya

Ilustrasi pacar di media sosial. Foto Pixabay.com

Pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, bisnis rental pacar muncul lantaran didorong faktor eksistensi dalam bersosial media. Eksistensi itu, menurut Hariqo, bisa timbul dari gurauan orang yang tak menghormati urusan pribadi, misalnya menyinggung jodoh.

“Karena sering dibecandain, akhirnya orang merasa butuh pacar. Peluang itu ditangkap oleh beberapa orang menjadi bisnis,” ucap Hariqo, dihubungi pada Sabtu (7/5).

Sementara itu psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan mengatakan, motif psikologis seseorang menggunakan jasa rental pacar adalah menghindari pertanyaan perihal jodoh dari keluarga, saat momen tertentu.

“Seperti momen Lebaran, banyaknya orang bertanya (soal jodoh) membuat seseorang menjadi letih, lelah, atau tidak nyaman,” katanya, Sabtu (7/5).

Di samping itu, ia menuturkan, motif lainnya adalah mencari teman. “Jadi, ada motif untuk merasa tidak sendirian karena ada orang yang bisa diajak sharing,” tuturnya.

Sani menyarankan, pengguna rental pacar introspeksi, supaya bisa membuka hati dan mendapat teman hidup nyata. “Karena kalau kita lihat dari sisi psikologi, sebenarnya hal ini membohongi dirinya,” kata dia.

“Masalah dia tidak punya pacar ini perlu diselesaikan, apa hambatannya?”

Menurut Sani, perasaan positif yang muncul dari hubungan rekayasa itu adalah semu. Ia menganjurkan pengguna jasa tersebut merefleksikan diri kembali.

“Apakah orang ini introvert? Apakah terlalu memilih pasangan? Apakah belum membuka dirinya kepada orang lain?” ucap Sani.

“Justru pengembangan seperti ini yang perlu dibangun atau dipikirkan, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkenalan dan memiliki pacar yang sesungguhnya.”

Di balik rasa bungah yang semu dari pengguna rental pacar, Hariqo membeberkan, ada peluang tindak kriminal di ranah digital. Menurutnya, potensi kejahatan siber dari bisnis sewa pacar ini terbuka lebar. Apalagi bila penggunanya remaja.

Ia mewanti-wanti, pengguna jasa supaya melihat rekam jejak penyedia layanan di jagat maya, sebelum memesan. Perlu dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh juga sebelum memberikan identitas pribadi kepada penyedia jasa.

“Kita tidak tahu, apakah ini benar-benar bisnis rental pacar atau penyedia jasa tersebut punya bisnis lain, yang tujuannya hanya mengumpulkan data saja,” ujar dia.

Dengan serampangan mengumbar identitas, ujar Hariqo, bisa menimbulkan transaksi yang tak diduga. Misalnya, ada kemungkinan potensi yang mengarah ke prostitusi online.

“Kan sudah diketahui, kalau konsumen rental pacar ini kesepian dan butuh teman, jadi penawaran seperti (prostitusi online) itu bisa terjadi,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hariqo berpesan agar tak berkelakar perihal masalah pribadi seseorang, seperti menyinggung jodoh. Sebab, hal itu bisa mengganggu kondisi psikis seseorang. Dengan menghormati privasi, jelas Hariqo, niat menggunakan layanan jasa teman kencan di media sosial bakal berkurang.

“Dengan begitu, potensi kejahatan digital dalam bentuk lain dapat dicegah,” ujarnya.

“Perlu dipahami bahwa tidak punya pacar itu bukan aib.”

Berita Lainnya