close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi ibadah haji.
icon caption
Ilustrasi ibadah haji.
Sosial dan Gaya Hidup
Jumat, 21 Juni 2024 09:28

Setelah 2025, ibadah haji berlangsung di musim yang sejuk

Mulai tahun 2026, haji akan berpindah ke musim semi selama delapan tahun berturut-turut, disusul delapan tahun berikutnya di musim dingin.
swipe

Musim haji kali ini berlangsung dalam cuaca yang cukup ekstrem. Sedikitnya 550 orang anggota jemaah haji 2024 meninggal dunia dipicu oleh gelombang panas. Namun, situasi semacam itu kemungkinan besar tidak terjadi lagi setelah 2025.. Pasalnya, mulai tahun itu, ibadah haji akan beralih ke musim dingin dan musim semi selama 17 tahun ke depan.

Menurut Hussein Al-Qahtani, juru bicara Pusat Meteorologi Nasional Saudi (NMC), ibadah haji akan secara bertahap beralih dari teriknya musim panas setelah tahun 2025 dan tidak akan kembali lagi selama 17 tahun.

“Musim haji akan memasuki fase baru perubahan iklim pada tahun 2026. Kita baru akan menyaksikan haji musim panas setelah 17 tahun,” kata Al-Qahtani. 

Al-Qahtani menjelaskan, mulai tahun 2026, haji akan berpindah ke musim semi selama delapan tahun berturut-turut, disusul delapan tahun berikutnya di musim dingin. “Kami akan mengucapkan selamat tinggal pada haji musim panas selama 16 tahun,” katanya seraya menyoroti bahwa suhu rata-rata selama haji musim panas saat ini berkisar antara 45 hingga 47 derajat Celcius.

Proyeksinya dikuatkan oleh Dr. Mansour Al Mazroui, anggota Dewan Shoura dan peneliti perubahan iklim. Al Mazroui menegaskan, tahun 2025 akan menjadi haji musim panas terakhir dalam jangka waktu yang lama.

Beliau menguraikan, “Musim haji datang pada musim dingin, dimulai pada tahun 1454 Hijriah dan berlangsung selama 8 tahun, berakhir pada tahun 1461 Hijriah. Sedangkan untuk musim gugur, musim haji berlangsung antara tahun 1462 hingga 1469. ”

Dr Al Mazroui lebih lanjut menjelaskan bahwa musim haji akan menyelesaikan siklusnya selama 33 tahun Hijriah, berputar melalui keempat musim.

Ibadah haji akan kembali memasuki musim panas pada tahun 1470 Hijriah, dan bertahan di sana selama sembilan tahun. Pergeseran siklus ini memastikan bahwa jamaah haji akan mengalami kondisi iklim yang sangat berbeda selama beberapa dekade.

Apa Artinya Bagi Para Peziarah
Pergeseran ini akan menjadi perubahan yang disambut baik bagi banyak jamaah haji, karena suhu di Mekah selama musim panas bisa sangat tinggi, seringkali mencapai hingga 47 derajat Celsius. Iklim yang lebih sejuk di musim semi dan musim dingin akan membuat ibadah haji yang menuntut fisik lebih mudah dilakukan.

Bagi mereka yang sebelumnya pernah menunaikan ibadah haji, atau berencana untuk segera menunaikannya, peralihan ini berarti mempersiapkan pengalaman haji dengan potensi tekanan panas yang lebih sedikit dan perjalanan yang lebih nyaman.

Hal ini juga berdampak pada perencanaan perjalanan dan persiapan kesehatan, karena persyaratannya akan sangat berbeda seiring perubahan musim.

Karena siklus ini terus mempengaruhi waktu dan kondisi haji, jamaah harus terus mendapat informasi tentang perubahan ini. Penting untuk melakukan persiapan yang matang, dengan mempertimbangkan musim di mana mereka akan melaksanakan tugas suci ini.

Dengan adanya fase baru ini, Pusat Meteorologi Nasional dan otoritas Saudi lainnya kemungkinan akan memberikan panduan lebih lanjut untuk memastikan pengalaman haji yang aman dan memuaskan secara spiritual.(theislamiciformation)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan