Gaya Hidup / Buku

The Seven Good Years, memoar minimalis ala Etgar Keret

Walaupun memoarnya terkesan ringan dan jenaka, Keret sesekali menyelipkan pandangan, kritik, dan satirnya pada pemerintahan Israel.

The Seven Good Years, memoar minimalis ala Etgar Keret Penulis Israel Etgar Keret. /welt.de.

Penulis Israel, Etgar Keret dikenal sebagai penulis yang kerap membuat cerita-cerita pendek minimalis. Memoarnya The Seven Good Years tak luput dari gaya bercerita yang minimalis itu.

Keret memulai The Seven Good Years dengan kisah kelahiran anaknya, dan diakhiri dengan kematian ayahnya. Terdapat 36 tulisan pendek yang ditulis Keret, untuk menggambarkan "tujuh tahun yang baik" tersebut. 

Dalam rentang waktu itu pula, Keret menuliskan pengalamannya menjadi seorang ayah, sekaligus seorang anak.

Cara Keret berkisah cenderung apa adanya, terkesan polos, dan ditaburi limpahan humor. Membuat memoarnya ringan dan mudah dipahami. 

Identitas Yahudi

Meski terkesan jenaka, Keret sesekali menyelipkan pandangan, kritik, dan satirnya terhadap pemerintahan Israel.

Keret membuka memoarnya dengan kisah ketika dia di rumah sakit, menunggu persalinan istrinya. 

Wartawan yang sedang meliput peperangan dan menyangka Keret menjadi korban, meminta pendapatnya soal pertempuran yang sedang terjadi. Si wartawan berharap mendapatkan cerita orisinal.

Akhirnya, si wartawan harus kecewa dan Keret hanya bisa menatap anaknya, "si cebol" dengan kabel yang menggantung dari pusarnya. 

Dia hanya berharap, suatu hari dunia akan lebih damai dan tak lagi ada serangan teroris.

Di memoar ini, selain berbicara perkara menjadi ayah dan anak, Keret juga berbicara soal menjadi seorang Yahudi, adik, penulis, dan warga Israel. 

Keret terkadang menjadi paranoid, karena identitas Yahudi-nya. Pernah dia berkunjung ke Jerman dan mendapati seorang Jerman yang sedang mabuk, ngomel-omel.

Dia yakin si Jerman mabuk tersebut sedang menghinanya dalam bahasa Jerman dengan mengatakan Juden raus atau Yahudi keluar.

Dia pun berdiri dan menantang si pemabuk. Barulah dia tahu, si pemabuk ngomel-ngomel karena mobilnya rusak, bukan bermaksud menghinanya. Keret mengejek dirinya sebagai Yahudi paranoid di memoar ini.


Memoar sederhana seorang penulis Israel. (penguinrandomhouse).

Kenangan Bali 

Kenangannya akan Pulau Bali dan Indonesia turut dia tuangkan dalam sebuah esainya di memoar ini. Keret berkisah, mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah acara literasi di Pulau Dewata tersebut. 

Namun, mendapat kesulitan untuk mendapatkan visa, karena Israel dan Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik.

Selain itu, ayahnya pun mewanti-wanti agar tak berkunjung ke Indonesia, karena penduduknya mayoritas muslim, anti-Israel, dan anti-Semit. 

Melalui laman Wikipedia, Keret berusaha meyakinkan ayahnya bila mayoritas penduduk Bali beragama Hindu. Ayahnya hanya berkata kepadanya, “Kita tak butuh suara mayoritas untuk meledakkan kepalamu.”

Yang menyenangkan dari memoarnya ini, diksinya sederhana. Keret bertutur, seolah pembaca adalah kawan lamanya. Dia menceritakan pengalamannya yang pernah mengikuti kelas yoga ibu-ibu hamil untuk mengecilkan perutnya. Sekali waktu, dia bercerita bagaimana menghindari sales yang meneleponnya dengan alasan yang jenaka.

Selain membuat tertawa, cerita-cerita yang masuk dalam memoar ini ada kalanya membuat pembaca sedih, terharu, dan merenung. Setelah ayahnya meninggal misalnya, Keret menulis tentang sepatu ayahnya. 

Dia membawa sepatu ayahnya saat pergi ke acara literasi di luar Israel, beberapa minggu setelah ayahnya meninggal. Dia pun mengenakan sepatu ayahnya.

Walau memoar keret menyenangkan untuk dibaca dan mudah dipahami, dalam wawancaranya dengan The Paris Review pada Mei 2012 lalu, Keret mengatakan sangat banyak tulisannya yang kemudian hilang saat dialih bahasakan. 

Dia mengatakan, bahasa gaul Ibrani yang ditulisnya mewakili bahasa yang unik. Ada konteks kultural dan historis yang memang tidak mungkin bisa diterjemahkan. Namun, Keret merasa sangat beruntung bisa bekerja dengan penerjemah terbaik untuk karyanya.

5

Memoar yang menyenangkan, merangkum tujuh tahun perjalanan Keret sebagai ayah, anak, penulis, Yahudi, dan seorang Israel

 


Berita Terkait