logo alinea.id logo alinea.id

Venom: Film komedi romantis yang menyaru superhero

Venom merupakan spin-off film Spider-Man yang tak perlu. Banyak kelemahan di sana-sini.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 06 Okt 2018 15:30 WIB
Venom: Film komedi romantis yang menyaru superhero

Karakter Venom sebagai musuh Spider-Man pernah muncul di film Spider-Man (2007). Di film arahan sutradara Sam Raimi tersebut, Venom digambarkan sebagai organisme asing berwarna hitam yang merasuk tubuh Peter Parker (Tobey Maguire), dan membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Film Venom ini merupakan spin-off dari film Spider-Man.

Adegan pembuka memusingkan

Film ini dibuka dengan sebuah pesawat luar angkasa milik Carlton Drake (Riz Ahmed) yang jatuh di Malaysia. Drake merupakan seorang miliuner di bidang teknologi, seperti Elon Musk. Dia membawa sejumlah organisme asing, yang kemudian diketahui sebagai symbiote.

Symbiote merupakan sejenis makhluk hidup berbentuk lumpur dari luar angkasa, yang bisa melakukan ikatan dengan makhluk hidup lainnya. Salah satu symbiote melarikan diri, dengan cara masuk ke dalam tubuh manusia sebagai inangnya.

Adegan film ini kemudian berpindah ke Eddie Brock (Tom Hardy) dan Anne Weying (Michelle Williams), yang tengah bermesraan di San Fransisco.

Sungguh adegan awal sebuah film yang memusingkan kepala saya.

Eddie adalah seorang jurnalis investigasi yang top. Dia memiliki sebuah program acara sendiri di televisi. Eddie ditugaskan kantornya untuk meliput proyek roket Carlton Drake. Eddie tak menyukai Drake, karena dia tahu Drake merupakan orang jahat.

Oke. Sampai di sini, film masih dalam suasana gelap dan dramatis.

Sponsored

Munculnya Anne sebagai pacar Eddie yang bekerja di firma hukum, menambah kesan kuat drama yang akan dihadirkan. Itu karena Michelle Williams, yang berperan sebagai Anne Weying, kerap muncul di film-film drama. Venom merupakan film bergenre superhero pertama yang dimainkannya.

Salah satu adegan dalam film Venom. (www.instagram.com/venommovie/).

Guyonan tak lucu

Nah, film ini mulai keluar dari relnya, saat Eddie dan Venom mulai melemparkan guyonan. Venom, musuh Spider-Man, yang memiliki tampang sangar dan jahat jadi berubah karakternya. Terlihat konyol, karena guyonannya. Nama Spider-Man atau Peter Parker, tak sekalipun disebut di film ini.

Film ini diproduksi Columbia Pictures bekerja sama dengan Marvel Entertainment, Pascal Pictures, Sony Pictures Entertainment, Arad Productions, Matt Tolmach Productions, dan Tencent Pictures.

Sedangkan distributornya dipegang Sony Pictures Releasing. Seolah-olah, proyek keroyokan ini tampak meniru film Deadpool (2016), dengan gurauan nakal dan satire. Sayangnya, gagal.

Film besutan sutradara Ruben Fleischer ini tak ubahnya seperti film komedi romantis, yang menyaru sebagai film superhero. Fleischer seakan-akan tak memberikan ruang untuk tokoh-tokohnya dalam mengeksplorasi diri mereka, melalui dialog yang dibangun.

Jangan pernah berharap menemukan kedalaman karakter Eddie Brock ataupun Venom sendiri di film ini.

Bila dibandingkan dengan peran Tom Hardy sebagai Bane, musuh Batman di film The Dark Knight Rises (2012), di dalam Venom dia seolah-olah tak ada apa-apanya. Meski bukan tokoh utama, Bane mendapatkan cerita latar belakangnya di The Dark Knight Rises. Sehingga, penonton bisa paham aksi dan motifnya.

Sementara, di film Venom, penonton tak akan tahu dari planet apa Venom berasal. Tak ada juga penjelasan, mengapa disebut Venom (racun) dan Riot (rusuh). Riot sendiri musuh Venom di film ini. Detail-detail seperti ini luput dalam Venom.

Hardy sangat berusaha keras melucu di film ini. Jatuhnya, malah datar dan hambar.

Buktinya, di bioskop yang saya datangi, CGV Green Pramuka Square, tak semua penonton tergelak melihat banyolan Hardy. Balas-membalas ejekan antara Eddie Brock (Tom Hardy) dan Venom ada beberapa yang lucu. Tapi, ya monoton.

Bisa dibilang, Michelle Williams dan Tom Hardy yang merupakan bintang kelas A di Hollywood, bahkan tak sanggup membuat film ini naik kelas dari B.

Porsi akting Williams sebagai kekasihnya Hardy pun sangat minim di film ini. Williams tak melakukan banyak hal, selain berteriak dengan mengenakan rok mini, sepatu hak tinggi, dan rambut palsu.

Satu lagi. Adegan berkelahi dalam film ini pun rasanya dipotong terlampau cepat. Koreografinya juga biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Selain itu, pencitraan yang dihasilkan komputer (computer-generated imagery/CGI) dalam film ini juga jatuhnya biasa-biasa saja, malah terkesan aneh.

Dibandingkan CGI film Black Panther (2018), yang katanya memiliki CGI paling buruk di antara film produksi Marvel, masih baik Black Panther. Tampaknya memang Venom adalah spin-off yang tak diperlukan dari Spider-Man.

Tak percaya? Tonton saja.

 

3

Cukup menghibur. Tapi dangkal.

 

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB